Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Muara Siran, Lahan Gambut yang Dijaga Sarang Walet

izak-Indra Zakaria • 2022-02-02 13:39:57
Danau Siran yang banyak rumah walet.
Danau Siran yang banyak rumah walet.

Kaltim punya ratusan ribu hektare cadangan gambut di Mahakam Tengah. Daerah gambut tersebut tersebar di berbagai desa. Kebanyakan, masuk di kawasan Kutai Kartanegara. Gambut ini didorong untuk dilestarikan. Sebab, mampu menekan polusi lebih besar dibandingkan hutan biasa.

NOFIYATUL CHALIMAH, Muara Kaman

Tak sedikit desa di Kaltim yang punya cara sendiri memelihara tutupan gambut. Bergotong royong, masyarakat desa setempat sudah mampu menjaga tutupan lahan gambut mereka. Misalnya, di Desa Muara Siran, Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Desa ini berdiri di atas lahan gambut. Danau mereka pun berwarna kehitaman bak air teh, khas air di kawasan gambut. Untuk ke desa ini, lebih nyaman menyeberang dari Pelabuhan Muara Kaman. Sebab, desa ini dibelah Sungai Kedang Kepala.

Berkali-kali pengusaha melirik desa ini untuk jadi kebun sawit. Namun, warga desa menolak. Sebab, mereka sudah berkecukupan dari sarang walet yang bisa berkembang bagus.

Penjabat Kepala Desa Muara Siran Anedy mengatakan, di desa mereka mayoritas masyarakat hidup dari sarang walet. Sekitar 300 sarang walet berdiri di sini dan sekitar 85–90 persen warga Muara Siran pemasukannya juga berasal dari sarang walet.

"Hampir semua kerja di sektor sarang walet. Di sini penghasilan lumayan dari walet sama ikan itu. Kualitas walet kita bagus," kata dia saat disambangi Kaltim Post bersama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Januari lalu.

Ketua Lembaga Pengelola sumber daya alam (LPSDA) Muara Siran Abdul Agus Nur Aini pun mengisahkan, warga kukuh mempertahankan tanah gambut mereka sejak 2012. Saat itu, lagi ramai soal kebun sawit yang mau masuk desa. Mereka pun bermusyawarah hingga 42 ribu hektare masuk surat keputusan (SK) pada 2014 terkait hutan lindung desa.

"Kita enggak mau sawit masuk. Hingga 2016 terbit tata ruang desa, ada 14 ruang yang kita rencanakan," kata Agus yang juga ditunjuk menjadi narasumber dalam pertemuan iklim internasional 2021, atas keberhasilan desanya menjaga tutupan lahan.

Dahulu, penduduk banyak mencari nafkah dari ikan-ikan yang hidup di sekitar sungai. Namun, sejak 2012, mereka mulai berkenalan dengan budi daya sarang walet. Bangunan-bangunan untuk mengundang walet membuat sarang pun dibuat. Lalu makin banyak usai 2015. Bangunan tinggi dengan suara burung pun bermunculan mulai di sekitar desa, hingga di kawasan Danau Siran yang jarak tempuhnya dari desa sekitar setengah jam menggunakan perahu ces.

Agus juga memiliki sarang walet. Saat itu, dia membangun dengan model tak sampai Rp 100 juta. Memang, di desa ini disebut Agus untuk membuat sarang walet bisa lebih mudah dan murah karena mereka bisa membangun dengan kayu dari pohon kahoi yang banyak tersedia di sekitar hutan desa. Jika sudah terbangun, tugas pemilik walet hanya menjaga. Sekitar 50 hari, dia bisa memanen sekira 6 kilogram sarang walet yang dijual sekitar Rp 8 juta per kilogramnya.

"Tak sampai dua tahun, sudah kembali. Banyak pengepul yang ambil langsung ke sini sarang waletnya," kata dia.

Memang sarang walet hasil dari Desa Muara Siran ini cukup terkenal karena disebut memiliki kualitas bagus. Maka dari itu, selain menjaga agar tak ada pencuri walet, dia dan warga desa juga harus menjaga tutupan hutan agar produksi walet mereka tetap banyak dan berkualitas. Ada asap sedikit yang mengepul, mereka segera mencurahkan tenaga untuk memadamkan. Jangan sampai meluas dan mengganggu sarang walet mereka.

"Kalau mau sarang waletnya bagus, ya harus dijaga hutannya," kata dia.

Akhmad Wijaya, peneliti senior Yayasan Bioma yaitu sebuah organisasi lingkungan yang bertahun-tahun mendampingi desa ini, mengungkapkan bahwa Muara Siran memang memiliki paket lengkap untuk menghasilkan sarang walet yang banyak dan berkualitas.

"Ada air, ada hutan, jadi walet bagus. Dulu hutan di sekitar sini kebakaran besar mulai 1982, 1983, 1997, dan 1998, lalu tiap tahun reguler kebakaran hingga 2015. Setelah itu banyak sarang walet dan tak terjadi kebakaran lagi. Karena sama mereka dijaga juga," ucap lelaki yang akrab disapa Jaya.

Maka dari itu, ketika pengusaha sawit datang dengan iming-iming puluhan juta rupiah, tidak mempan. Sebab, masyarakat sudah dapat ratusan juta rupiah dari walet.

Upaya yang dilakukan masyarakat ini tidak hanya memiliki benefit terhadap waletnya. Tetapi dengan tutupan gambut yang optimal, juga bisa berkontribusi dikembangkan untuk jasa lingkungan.

"Sebab, kemampuan gambut ini bisa berkali-kali lipat menyerap karbon penyebab polusi dibandingkan hutan biasa," kata dia. (dwi/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature