Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Terapkan Lockdown Total di Shanghai, Mayat Bertumpuk, Peti Jenazah Menipis di Hongkong

izak-Indra Zakaria • 2022-04-08 12:23:04
Tempat penyimpanan mayat di Hongkong penuh,demikian juga dengan stok peti mati yang menipis.
Tempat penyimpanan mayat di Hongkong penuh,demikian juga dengan stok peti mati yang menipis.

BEIJING – Penduduk Shanghai, Tiongkok kesulitan membeli makanan. Itu terjadi setelah pemerintah menerapkan lockdown penuh di kota yang berpenduduk 26 juta jiwa tersebut. Keputusan itu diambil mulai Selasa (5/4).

Shanghai adalah kota terbesar yang pernah dikuntara oleh Tiongkok. Sebelumnya, lockdown di Shanghai dibagi dua. Yaitu wilayah di sisi Timur dan Barat Sungai Huangpu. Awalnya yang lockdown total hanya wilayah Timur. Seharusnya, kuntara dicabut Jumat (1/4). Tapi karena situasi yang memburuk, dilakukan perpanjangan 10 hari.

Sisi Barat yang sebelumnya hanya memberlakukan pembatasan ketat ikut dilockdown juga. Hal itu setelah pemerintah menggelar tes Covid-19 ke semua penduduk Shanghai. Hasilnya, ada lebih dari 20 ribu kasus penularan baru. Dari jumlah tersebut hanya sekitar 250-300 orang saja yang menunjukkan gejala. Sisanya tak bergejala sama sekali.

’’Saat ini, pencegahan dan pengendalian epidemi Shanghai berada pada tahap yang paling sulit dan paling kritis,’’ ujar Wu Qianyu, pejabat di komisi kesehatan kota Shanghai seperti dikutip BBC, kemarin (6/4).

Dengan aturan baru tersebut, praktis semua penduduk terkurung di dalam rumahnya masing-masing. Mereka dilarang keluar meski itu hanya untuk membuang sampah atau mengajak anjingnya jalan-jalan. Hal itu membuat jalanan dan pusat bisnis yang biasanya sibuk luar biasa menjadi layaknya kota hantu.

Sedikitnya 38 ribu personel keamanan dikerahkan ke Shanghai. Itu menjadi operasi medis terbesar sejak Tiongkok mengkuntara Wuhan pada awal pandemi dulu. Memberi makan 26 juta orang sekaligus tentunya menjadi tantangan tersendiri. Terlebih jasa pengiriman makanan online dibatasi. Perusahaan-perusahaan jasa pengiriman juga kekurangan tenaga untuk melayani semua penduduk dalam waktu yang hampir bersamaan. ’’Pihak berwenang berusaha keras untuk mengatasi hal ini dan mengurus kebutuhan dasar penduduk,’’ ujar Wakil Kepala Komisi Perdagangan Shanghai Liu Min.

Pemerintah akan mengirimkan pasokan makanan dari provinsi lain. Mereka juga bakal membangun stasiun pasokan darurat di dalam dan sekitar kota untuk memastikan ketersediaan sayuran. Tapi Liu Min mengakui bahwa tantangan terbesar adalah mengirimkan ke rumah penduduk. Karena itu sekitar 11 ribu kurir dari berbagai platform e-commerce di Shanghai boleh kembali bekerja. Dengan catatan setiap hari mereka memberikan bukti negatif Covid-19.

Banyak penduduk yang memprotes aturan ketat tersebut, tapi pemerintah bergeming. Padahal negara-negara lain di dunia sudah mulai menerapkan kebijakan untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. Itu karena saat ini yang banyak beredar adalah varian Omicron yang tidak menimbulkan gejala serius, meski mudah menular.

Kebijakan pemerintah yang memisahkan anak positif Covid-19 dengan orang tuanya juga mendapatkan kecaman. Penduduk Shanghai membuat petisi online menyerukan agar anak-anak yang tertular tapi tidak bergejala dibiarkan untuk isolasi di rumah saja.

Pemerintah akhirnya melonggarkan aturan. Yaitu orang tua yang positif boleh menemani anaknya di fasilitas karantina. Jika anaknya berkebutuhan khusus, walinya juga boleh menemani meski mereka tidak tertular. Tapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi lebih dulu. Salah satunya membuat pernyataan bahwa mereka sudah tahu dengan resiko yang diambil.

Setali tiga uang, nasib Hongkong juga tak kalah malang. Penularan Covid-19 di wilayah otonomi khusus Tiongkok tersebut terus melejit. Bahkan saat ini otoritas setempat mulai kesulitan menguburkan para pasien yang meninggal. Stok peti jenazah tradisional yang terbuat dari kayu mulai menipis. Sejak awal pandemi, setidaknya ada 8 ribu korban meninggal di Hongkong.

Saat ini tempat-tempat penyimpanan mayat telah penuh. Beberapa jenazah bahkan harus ditumpuk sembari menunggu proses pemakaman. Pengurusan dokumen kematian yang rumit dan lama membuat situasinya kian pelik. Selain itu banyak staf pemakaman yang tertular. ’’Saya belum pernah melihat begitu banyak mayat yang tertumpuk begini,’’ ujar Direktur Pemakaman Lok Chung. (sha/bay).

Editor : izak-Indra Zakaria