Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Masjid Agung Al Faroek Sangatta, Ikon yang Wajib Dikunjungi Pelancong

izak-Indra Zakaria • Rabu, 13 April 2022 - 22:33 WIB
NYAMAN DAN ASRI: Masjid Agung Al Faroek Sangatta bisa menjadi tempat beribadah sekaligus melepas penat. Di halamannya tampak replika kakbah, yang digunakan untuk manasik haji dan umrah.
NYAMAN DAN ASRI: Masjid Agung Al Faroek Sangatta bisa menjadi tempat beribadah sekaligus melepas penat. Di halamannya tampak replika kakbah, yang digunakan untuk manasik haji dan umrah.

Masjid ini memiliki lima menara dan lima pilar di ruangan utama. Pilar-pilar yang memiliki arti khusus.

===================

SANGATTA – Memiliki ikon wisata yang sangat memadai, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) layak untuk disambangi pelancong lokal maupun nasional. Terutama untuk wisata religi, terdapat Masjid Agung Al Faroek di kompleks perkantoran Bukit Pelangi, Sangatta Utara.

Siapapun yang berkunjung atau beribadah di masjid kebanggaan masyarakat Kutim itu, akan merasa tenteram dan nyaman karena udaranya yang sejuk. Bahkan, lingkungannya bersih dan asri. Tertata rapi, di sekitarnya terdapat kantor-kantor pemerintahan dan taman-taman yang digunakan masyarakat bersantai melepas penat.

Pemandangan hijau dan perbukitan menjadi santapan tepat melepas jenuh. Membuat semakin betah berlama-lama di lingkungan tersebut. Masjid Agung Al Faroek juga dilengkapi arsitekturnya mewah sehingga terlihat megah. Bahkan, banyak wisatawan yang datang hanya untuk mengabadikan momen dengan berswafoto dengan latar yang indah. Apalagi pada saat hari libur. Tak heran, jika Masjid Agung Al Faroek menjadi ikon Kota Tercinta.

Ada empat ruang untuk berwudhu yang masing-masing dilengkapi belasan keran, dua khusus pria dan dua ruang khusus wanita. Termasuk empat ruang kamar mandi dengan belasan pintu. Ada pula empat tempat wudhu outdoor. Sehingga, memudahkan para jamaah yang akan beribadah.

Sekretaris Umum Takmir Masjid Agung AL Faroek Ustaz Yaqub Fadhillah mengatakan, selain tempat menjalankan ibadah, Masjid Agung juga kerap dimanfaatkan untuk wisata religi. Selain itu, keberadaannya tak lepas dari sisi pendidikan islam.

 “Sektor pendidikan memang belum aktif. Misalnya, taman pendidikan Al-Qur’an belum diaktifkan. Termasuk kajian-kajian mingguan yang belum dimulai,” ujarnya.

Tetapi, fungsi pendidikan di masjid dengan kapasitas 12 ribu jamaah itu, yakni manasik umrah dan haji bagi TK ataupun SD yang sangat terbuka. Lintasan sa'i sangat mirip, 390 meter. Begitu pula dengan replika kabah dan ukurannya.

“Tapi di dalamnya tidak mirip. Itu salah satu fungsi pendidikan dan religinya. Di luar ibadah rutin,” jelasnya.

Mengenai ruang terbuka hijau (RTH), kerap digunakan sebagai tempat wisata. Apalagi terdapat tanaman anggur, palem, dan kurma. Halaman masjid dua lantai itu juga kerap dijadikan tempat perluasan saf salat khusus pada hari-hari tertentu. Misalnya, pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha.

Selama Ramadan 1443 Hijriah, berbagai kegiatan keagamaan digelar di masjid dengan latar warna hijau itu. Di antaranya ceramah yang digelar menjelang tarawih, setelah salat subuh, dan zuhur.

“Ada pula peringatan Nuzulul Quran, itikaf 10 hari akhir Ramadan, penerimaan dan penyaluran ZIS (zakat infaq dan sedekah), serta ifthar Ramadan,” akunya.

Terkait arsitektur yang digunakan, dia tidak mengetahui secara pasti. Namun, apabila melihat ornamennya, banyak menggunakan arsitektur asal Persia dan Asia Tengah. Misalnya, masjid-masjid di negara Uzbekistan, Kazakhstan, dan Uighur.

“Ornamennya sangat mirip seperti Islamic Center Samarinda dan Masjid Agung Kota Bogor. Sama-sama dikerjakan PT Total,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Agung Al Faroek, Kyai Wasis Ridwan, mengatakan bahwa masjid tersebut terdiri dari lima menara dan lima pilar di ruangan utama. Pilar-pilar tersebut tentu memiliki arti khusus.

“Keempat pilar menyimbolkan empat sahabat nabi Muhammad SAW. Yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sehingga pada pilar tengahnya pasti Rasulullah Muhammad SAW,” terangnya.

Berbeda jika menggunakan tujuh pilar. Mihrabnya ke wali tujuh. Kalau 99 pilar berarti asmaul husna. Sedangkan untuk kubah, dinilainya hanya pembeda. Begitu pula masalah warna, hanya menyesuaikan dengan suasana.

Ustaz Yaqub Fadhillah mengisahkan, dahulu masjid-masjid tidak menggunakan kubah. Semua bermula ketika penaklukan Persia melalui perang Al-Qadisiyyah yang dipimpin Khalid bin Walid.

“Nah, orang Persia ini punya arsitektur yang sangat maju. Bahkan sebagai imperium paling maju dalam hal arsitektur. Makanya bangsa manapun kalau masuk ke Persia minder. Salah satu simbol persia adalah api. Namun tidak tepat disatukan dengan masjid. Sementara orang Persia ingin simbol-simbol mereka tetap ada. Maka digantilah menjadi kubah,” tutupnya. (dwi)

 

MUHAMMAD YODIQ

muhyodiq@gmail.com

 

Editor : izak-Indra Zakaria