Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Jika Ingin Mengenal Dunia Membacalah, Jika Ingin Dikenal Dunia Menulislah

izak-Indra Zakaria • 2022-05-23 09:47:11
Photo
Photo

Untaian kata berbaris rapi. Mengimajinasi pembaca hanyut dalam alur cerita. Prestasi ditorehkannya. Kegemaran menulis ini tumbuh sejak duduk di bangku kelas 2 SD. Sebanyak 23 buku telah dihasilkannya. Ide pun terus bakal berkembang. Sunaryo Broto berjanji terus menggoreskan pena.

 

ADIEL KUNDHARA, Bontang

Dielkundhara88@gmail.com

TIDAK pernah lelah berkarya itulah yang terpatri dalam diri Sunaryo Broto. Pria Kelahiran Karanganyar, Solo, itu memiliki kegemaran menulis sejak duduk di kelas 2 SD. Kala itu, dia mulai membaca banyak buku maupun prosa. Dari bacaan itulah muncul keinginan untuk menghasilkan karya. Saat menjadi mahasiswa, dia menulis di majalah kampus. Goresan pena itu menjadi kebanggaannya. Bahkan di dunia pekerjaan, dia pernah menjadi pemimpin redaksi majalah perusahaan milik PT Pupuk Kaltim.

Juga, tergabung dalam komunitas buletin. Sejumlah prosa pun mulai dilirik. Dia menceritakan memang ketika di awal menulis itu susah. “Tertarik menulis karena mengasyikkan. Ide bisa bebas dan mau menulis apa saja. Awalnya senang membaca lama-lama suka menulis,” kata Sunaryo. Upaya untuk mengirimkan karya ke sejumlah media massa pun terkadang bertepuk sebelah tangan. Tetapi kegagalan itu menjadi cambuk. Tentunya membentuk karakter sendiri dalam tulisan. Dia menjelaskan modal menulis selain membaca ialah bersosial dan travelling.

“Skill, knowledge, dan behavioral itu perlu. Menulis bisa dipelajari dalam waktu tak lama,” ucapnya. Meski demikian, konsistensi menulis itu juga penting. Terkadang saat menulis muncul perasaan bosan. Karena terlalu terkungkung dalam zona nyaman. Tetapi itu harus dilawan. Sejumlah karya miliknya berisi cerita kala kuliah, pekerjaan, sosial, dan travelling. Bahkan, ada karya yang disisipi dengan kritik sosial. Sebagai contoh ialah cerpen Rumah di Pinggir Selat Makassar. Secara halus itu menyinggung kondisi jalan poros Bontang-Samarinda yang rusak parah. Padahal, kontribusi Bontang dalam menyumbang pendapatan negara cukup besar. Sejauh ini karya yang dianggap paling terbaik ialah cerpen Perjumpaan di Candi Prambanan.

“Itu berisi cerita cinta masa mahasiswa waktu aktif di majalah. Sekian lama setelah bekerja bertemu di Candi Prambanan. Candi itu sendiri di samping indah juga menyimpan banyak cerita masa lalu,” tutur dia. Kumpulan cerpen tersebut pun memperoleh penghargaan prosa unggulan. Dari Kantor Bahasa Kaltim saat itu. Buku kumpulan cerpen itu dibuat 2016. Dua karya terakhir berjudul Puisi dan Pandemi serta Cerita Cinta di Chengdu. Novel Cerita Cinta di Chengdu ini berkisah tentang pencarian cinta dari seseorang yang masih membujang sampai usia 30 tahun. Merang, muslim anak nomor 3 dari 7 bersaudara, sarjana teknik kimia, karyawan perusahaan, pluralis, terbuka dan wawasannya luas, suka travelling.

Suatu saat ditugaskan oleh perusahaannya bekerja ke Chengdu, Tiongkok dan menemukan seorang gadis di sana. Fan Yi, 19 tahun, mahasiswa ekonomi, beragama Buddha, penduduk Chengdu, cantik oriental, berambut lurus hitam dan kulitnya putih, anak terakhir, bekerja guide tour part time dan pintar bahasa Inggris, wawasan terbuka dan keinginan untuk maju tinggi, sedikit temperamental dan manja. Mereka saling jatuh cinta. Meski api perbedaan begitu menganga menyangkut budaya, keluarga, agama, negara dan latar belakang. Mereka menikmati persamaannya di antara perbedaan itu.

Ibunya Merang, seorang guru yang menginginkan anaknya bahagia dan mendorong anaknya segera menikah. Ada syaratnya, satu agama. Mereka mengalami pergulatan batin di berbagai tempat, Chengdu, Bontang, dan Karanganyar (Solo). Kebanyakan di Chengdu. Mereka juga menikmatinya. Novel ini bercerita pada sudut pandang orang pertama dan ketiga dengan alur maju-mundur. Segmen pembacanya dewasa karena banyak dialog berbagi wawasan yang unik. Silakan menikmati jalinan cerita antar-manusia dalam berbagai perbedaan. Menikmati dialog antar-kepercayaan dan budaya. Menikmati alam Chengdu yang cantik pemandangannya.

Sementara itu, karya Puisi dan Pandemi ini dapat dirasakan. Semua mengalir sederhana, tetapi tetap indah dan bermakna. Lebih dari itu, pembaca bisa ikut menjelajah dalam ilusi dan kenyataan. Penulis puisi ini akan tetap menulis sepanjang dia bisa menulis. Biarkan waktu berjalan saja. Yang utama adalah berkarya, perihal apresiasi itu urusan belakangan. Anggap saja urusan Tuhan. Sebaiknya memang memperhatikan kualitas tetapi kalau menunggu itu keburu habis mood-nya. Paralel saja. Kalau sudah menjadi kebiasaan, kualitas akan muncul seiring sejalan. Puisi-puisi ini lahir mengiringi penulisnya beraktivitas. Puisi-puisi sederhana tentang keseharian. Tentang rumah, anak, keluarga, masa depan dan usia yang merembet senja.

Kadang juga dibuat saat travelling yang merupakan hobi dari penulisnya. Atau kepada seseorang yang bisa dikenang. Dibuat antara kurun waktu 2010 sampai sekarang. Puisi dalam buku ini ditulis dari belantara Kaltim, anak Sungai Mahakam, Sungai Belayan, sampai Sungai Chao Phraya dan lembah Kathmandu. Itu hanya salah beberapa yang menunjukkan tempat. Artinya puisi ini dapat lahir dari mana saja mengikuti jejak penulisnya. Juga lahir dari beberapa waktu. Misal, pada saat pemilu, saat Lebaran, saat tahun baru atau lebih personal saat ulang tahun. Atau keduanya, Saat menunggu Subuh di Dhulikhel, Nepal. Juga tentang tokoh, Hatta atau Habibie, misalnya. Atau hanya tentang temannya bekerja yang membuatnya berkesan.

Juga di masa pandemi. Karena tak boleh ke mana-mana malah banyak puisi lahir di masa pandemi. Merasakan apa yang dirasakan orang kebanyakan dan mengurainya menjadi kesenangan. Penulis menyukai bangunan candi dan aksara yang terpahat di sana. Penulis suka mengamati dan menulis perenungannya. Ada juga puisi panjang tentang Bharatayuda atau kenangannya kuliah di Universitas Gadjah Mada. Bagi pembaca yang dalam frekuensi sama dapat merasakan getarannya. “Inilah puisi dengan beragam kejadian dan sudut pandang. Ada 87 puisi,” ungkapnya.

Menurut dia, dunia literasi pada umumnya sekarang lebih semarak dengan adanya internet, media sosial dan aplikasi model platform menulis. Hampir semua orang bisa menulis sekarang. Baik di Indonesia maupun di Bontang. Persoalannya kemudian adalah apresiasi terhadap tulisan yang belum layak. Mengirim tulisan ke media, apresiasinya belum selayaknya. Bahkan gratis, tak ada honor. “Kalau sudah terbit buku juga susah menjualnya. Terlebih dari penulis yang belum dikenal,” terangnya. Selain itu, buku yang mendapat penghargaan Kantor Bahasa susah laku. Instansi pemerintah dalam bidang literasi seperti Kantor Bahasa atau perpustakaan daerah yang katanya akan mendorong penulis lokal atau daerah juga tidak membeli buku karya penulis lokal. “Kalau membeli hanya 1–2 saja. Dalam hal materi dunia literasi itu dunia sepi,” sebutnya.

Sunaryo pun memberikan pesan bagi generasi muda. Utamanya yang mau menggeluti dunia literasi. “Ada sebuah statemen, jika ingin mengenal dunia maka membacalah. Jika ingin dikenal dunia maka menulislah. Lakukan itu. Semua orang yang sudah sekolah harusnya bisa menulis, kalau mau usaha,” pungkasnya. (riz/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria