Oleh Bambang Iswanto
Wajah-wajah sumringah terpancar dari calon jamaah haji kloter pertama Embarkasi Balikpapan. Wajah yang menandakan kebahagiaan. Mereka akan menjadi tamu-tamu Allah di Arafah, hal yang patut disyukuri dan disambut dengan rasa bahagia.
Diundang menjadi tamu pejabat saja, banyak yang merasa senang. Pernah berjabat tangan di rumah walikota, gubernur, atau presiden sering menjadi kebanggaan. Momennya diabadikan dalam bentuk foto dan dijadikan foto profil atau dipajang di ruang tamu rumah, agar tamu yang datang tahu bahwa dia pernah menjadi tamunya pejabat.
Menjadi tamu dari Rabbul ‘alamin Penguasa Alam harusnya dimaknai sebagai nikmat besar yang harus lebih disyukuri dan dibanggakan dibandingkan menjadi tamu pejabat pemerintahan.
Melaksanakan haji tidak lain adalah memenuhi undangan Allah. Itulah sebabnya orang yang dapat berhaji dalam bahasa arab disebut dluyufurrahman (tamu-tamu Allah). Sebutan Tamu Allah juga tergambar dalam kalimat talbiyah yang dibacakan ketika melaksanakan rangkaian ibadah haji, “Labbaikaallahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wanni'mata lak wal mulk laa syariika lak." (Aku datang ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Kusambut panggilan-Mu, yang tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu).
Manusia kaya yang memiliki segudang harta tidak dijamin bisa menjadi tamu Allah. Justru sebaliknya, manusia yang terlihat sederhana, tampak tidak memiliki harta yang berlebih, bisa berangkat ke tanah suci untuk menjadi tamu Allah.
Ilustrasi yang menggambarkan kondisi bagaimana orang sederhana yang secara hitungan ekonomi sulit membayarkan ongkos haji ternyata bisa berangkat haji adalah sinetron “Tukang Bubur Naik Haji.” Tokoh pemeran film Haji Sullam tersebut dalam kenyataan banyak ditemui dalam masyarakat.
Banyak kisah nyata serupa seperti pedagang sayur yang menjajakan dagangannya dengan sepeda keliling kampung, ternyata bisa berangkat haji dengan menabung hasil jualannya sedikit demi sedikit.
Ada pula orang yang secara ekonomi dianggap mustahil bisa membayar ongkos haji bisa berangkat karena ada “langkah”. Allah mengundangnya dengan wasilah orang kaya yang membiayainya. Tidak heran ada ‘kaum’ penjaga masjid yang tidak memiliki pendapatan banyak bisa naik haji. Dan masih banyak cerita lain tetang kalangan dluafa ekonomi bisa naik haji karena dibiayai.
Namun tidak sedikit pula, orang yang terlihat memiliki harta berlimpah, orang sekarang menyebutnya sebagai sultan yang memiliki uang tidak berseri, ternyata tidak pernah dapat menjadi tamu Allah. Dengan kemampuan ekonominya, uang ongkos haji tentu bukan menjadi hal yang berat untuk dibayarkan. Mereka bahkan sudah sering keliling dunia mengunjungi beberapa negara dengan fasilitas mewah yang harganya jauh dari biaya haji, namun kesempatan datang ke rumah Allah dan menjadi tamu-Nya tidak pernah terwujud.
RAHASIA YANG HARUS DIKEJAR
Kisah-kisah yang dipaparkan sebelumnya menunjukkan bahwa menjadi tamu Allah adalah rahasia Allah. Sama halnya dengan rezeki hanya Allah yang tahu. Rezeki kadang sudah ada di depan mata bahkan sudah sampai ke mulut, kalau belum merupakan rezeki seseorang, bisa hilang dalam sekejap mata dan tidak jadi dinikmati dalam perut. Namun jika memang sudah rezeki, tak dikejar pun akan datang menghampiri bahkan tanpa upaya susah payah.
Ada orang yang sudah mendapat porsi haji dan siap berangkat serta sudah melakukan walimatus safar, ternyata tidak jadi berangkat karena ada halangan tertentu, dia tidak bisa menjadi tamu Allah. Haji adalah anugrah Allah yang besar berdasarkan kuasa dan takdir Allah.
Terdapat bebarapa golongan orang yang tidak bisa berhaji dengan sebab musababnya. Ada yang memiliki waktu dan keinginan naik haji tetapi ia tidak memiliki kemampuan. Ada yang memiliki kesempatan dan kemampuan namun kesehatan yang menghalanginya. Ada pula golongan yang memilki semuanya, kesempatan, kemampuan dan kesehatan namun ternyata hatinya tidak tergerak untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini.
Haji memang menjadi rahasia Allah. Tapi ini tidak bisa dipakai sebagai alasan untuk tidak berusaha. Justru karena rahasia maka ia selalu diikhtiyarkan secara maksimal selain doa. Apalagi dijadikan alasan dengan dibalik kata-kata “belum mendapat panggilan Allah.”
Bagi yang berkesempatan akan menjadi tamu Allah, hendaknya berniat dan meluruskan niatnya untuk berhaji ditujukan semata-mata dalam rangka memenuhi panggilan Allah, tidak boleh ada niat lain selain niat ibadah. Bukan niat untuk menyombongkan diri untuk mendapatkan titel haji sepulang haji serta mendapatkan prestise di tengah masyarakat.
Bagi yang akan menjadi tamu Allah tahun ini, semoga terjaga terus niat ibadahnya dan menjadi haji yang mabrur. Kembali ke tanah air dalam keadaan selamat. Sedangkan yang belum berangkat ke sana teruslah berharap, berdoa, dan berikhtiyar untuk bisa menjadi tamu Allah di tahun-tahun berikutnya. Amin. (**)
Editor : izak-Indra Zakaria