BEIJING – Sungai Yangtze di Tiongkok terdampak kemarau. Musim panas yang dibarengi dengan gelombang panas menyebabkan terjadinya kekeringan di Yangtze dan anak sungainya. Debit aliran sungai utamanya kini berkurang 50 persen dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir.
Di beberapa anak sungai, kondisinya benar-benar mengering. Dasar sungai bahkan sampai terlihat, misalnya di Chongqing. Di dasar sungai kota tersebut bahkan ditemukan patung Buddha berusia 600 tahun.
Menurunnya debit air di Sungai Yangtze tersebut berdampak luar biasa pada penduduk Tiongkok. Itu disebabkan pemerintah mengandalkan sebagian suplai listriknya dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Selama ini yang menggerakkan turbin-turbin pembangkit tersebut adalah aliran Sungai Yangtze.
Di Provinsi Sichuan, sekitar 80 persen aliran listrik di wilayah tersebut berasal dari PLTA. Karena itulah, berkurangnya debit air sungai membuat pemerintah Sichuan ketir-ketir.
Pada Minggu (21/8), mereka mengeluarkan peringatan tertinggi. Debit air waduk untuk PLTA dari Sungai Yangtze tinggal separo. Padahal pada saat bersamaan, permintaan listrik meningkat 25 persen karena gelombang panas. Hal itu membuat penduduk lebih sering menyalakan pendingin ruangan. Suhu udara rata-rata di atas 40 derajat Celsius. Chongqing dan Provinsi Hubei juga mengalami masalah yang sama dengan PLTA di daerah mereka.
Untuk menghemat listrik, pekan lalu pemerintah Sichuan membatasi ataupun menghentikan suplai ke ribuan pabrik. Aliran listrik ke rumah-rumah penduduk juga dijatah. Kebijakan tersebut memukul banyak perusahaan. Tesla, Toyota, Volkswagen, Foxconn, dan beberapa perusahaan besar lainnya memiliki pabrik di Sichuan. Mereka terpaksa menghentikan operasional pabrik selama empat hari terakhir. South China Morning Post (SCMP) melaporkan bahwa rencana untuk memulai operasional pekan ini juga ditunda.
Yangtze merupakan sungai terbesar ketiga di dunia. Selain untuk PLTA, ia menjadi sumber air minum bagi sekitar 400 juta penduduk Tiongkok. Sungai itu juga merupakan jalur air yang cukup penting bagi perekonomian Negeri Panda tersebut. Kapal-kapal barang yang selama ini melewati Sungai Yangtze kini kesulitan karena beberapa jalur benar-benar ditutup. Itu tentu berdampak pada rantai pasokan global.
Otoritas di Tiongkok bergegas memastikan agar pasokan air dan listrik tercukupi. Sebab, area yang terdampak kekeringan rata-rata sudah mendekati musim panen, seperti padi dan kedelai. Pada Minggu, pihak berwenang mengeluarkan 980 meter kubik air dari waduk sebagai upaya untuk mengisi aliran sungai yang lebih rendah.
Pemerintah mengeluarkan peringatan kuning untuk kekeringan pada Jumat (19/8). Itu adalah peringatan pertama tahun ini. Dalam skala resmi, warna kuning menandai tingkat paling parah ketiga. Pemerintah beberapa waktu lalu berusaha membuat hujan buatan.
Kekeringan telah memengaruhi sedikitnya 2,46 juta orang dan 2,2 juta hektare lahan pertanian. Yakni, di Sichuan, Hebei, Hunan, Jiangxi, Anhui, dan Chongqing. Lebih dari 780 ribu orang membutuhkan dukungan langsung pemerintah. Bantuan air minum telah diangkut dengan truk ke daerah-daerah yang persediaan airnya telah benar-benar kering. Temperatur tinggi dan gelombang panas sejak Juli ini diperkirakan bakal berlangsung hingga September.
’’Sepanjang Juli saja kerugian ekonomi langsung akibat kekeringan mencapai CNY 2,73 miliar (Rp 5,9 triliun) dan berdampak pada 5,5 juta orang,’’ bunyi pernyataan Kementerian Urusan Darurat Tiongkok seperti dikutip The Guardian.
Sementara itu, di Shanghai, pemerintah kota mematikan lampu-lampu yang menghias gedung di pinggiran sungai selama dua hari. Area yang biasa disebut The Bund itu selama ini menjadi destinasi turis karena kecantikan hiasan lampunya. ’’Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan,’’ bunyi pemberitahuan Biro Administrasi Lanskap dan Penampilan Kota Shanghai seperti dikutip BBC.
Ketua dewan penasihat di akselerator keberlanjutan Chatham House, London, Bernice Lee mengungkapkan, saat ini sungai-sungai besar di seluruh dunia memang mulai berkurang debit airnya. Itu termasuk Sungai Rhine dan Loire di Eropa dan Sungai Colorado di AS. ’’Karena frekuensi kejadian cuaca ekstrem tampaknya akan meningkat, masa depan bisa menjadi lebih suram,’’ ujarnya. (sha/c6/bay)
Editor : izak-Indra Zakaria