Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Efektif Kendalikan BBM Subsidi

uki-Berau Post • Selasa, 30 Agustus 2022 - 17:53 WIB
PEMBATASAN AGAR TEPAT SASDARAN: Antrean truk yang hendak mengisi solar di SPBU Jalan Marsma Iswahyudi, Teluk Bayur, Senin (29/8). Untuk mengatasi antrean dan pengendalian pendistribusian solar, Pertamina meluncurkan program Fuel Card 2.0 yang juga segera
PEMBATASAN AGAR TEPAT SASDARAN: Antrean truk yang hendak mengisi solar di SPBU Jalan Marsma Iswahyudi, Teluk Bayur, Senin (29/8). Untuk mengatasi antrean dan pengendalian pendistribusian solar, Pertamina meluncurkan program Fuel Card 2.0 yang juga segera

TANJUNG REDEB - Sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah daerah dalam menjaga penyaluran solar subsidi agar lebih tepat sasaran, PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan berinsiatif membuat program Fuel Card 2.0 di berbagai wilayah. Termasuk Kabupaten Berau.

Sebelumnya Fuel Card 2.0 berhasil diaplikasikan di Kabupaten Paser, Balikpapan, Kukar, Samarinda, hingga Kota Bontang.

Area Manager Communication & CSR Regional Kalimantan, Susanto August Satria mengatakan, untuk di Berau, Pertamina telah melakukan koordinasi dengan Bupati Berau Sri Juniarsih pada 5 Juli lalu. Rencana perwujudan program Fuel Card 2.0 ini pun dianggap mendapat sambutan positif dari bupati.

"Sebanyak 6 SPBU siap melakukan implementasi pelayanan BBM solar subsidi, dengan menggunakan Fuel Card 2.0 ini,” ujar Satria melalui sambungan telepon kemarin (29/8).

Dijelaskannya, penggunaan Fuel Card 2.0 akan mendeteksi jumlah pengisian BBM bagi kendaraan setiap harinya. Untuk penetapan batasan kuota per hari untuk tiap kendaraan, Pertamina menyerahkan pembatasannya kepada pemerintah daerah setempat, menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi daerah. Yang pasti, untuk batasan tertinggi pengisian BBM bagi kendaraan roda dua atau lebih, maksimal 200 liter per hari.

Contoh daerah lain yang telah menerapkan, adalah Balikpapan dan Samarinda, yang menetapkan batasan maksimal sebesar 120 liter per hari. Sementara Kutai Timur sebanyak 150 liter per hari. “Jadi misalnya angkutan truk dari Balikpapan, pagi dia sudah mengisi 100 liter di Balikpapan. Ketika sore sampai di Kutim, hanya bisa mengisi 20 liter saja lagi, karena sudah tercatat data pengisiannya per hari,” jelasnya.

Pengendalian tersebut akan membuat distribusi BBM, khususnya jenis solar subsidi akan terkendali. “Karena Fuel Card 2.0 juga terkoneksi dengan seluruh SPBU. Jadi tidak bisa melakukan pengisian melebihi kuota per hari, walau dilakukan di SPBU berbeda,” jelasnya. 

Dikatakan, pihaknya terus berkomunikasi intensif dengan Pemkab Berau demi terealisasinya program Fuel Card 2.0 ini. Diharapkan, melalui program Fuel Card 2.0, dapat menjaga distribusi solar subsidi kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Semoga melalui program Fuel Card 2.0, BBM solar subsidi dapat disalurkan tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan,” harapanya.

Disebutnya, untuk kondisi penyaluran solar subsidi di Berau, sudah melebihi kuota yang ditetapkan, yakni lebih dari 12 persen. Di mana kuota berjalan sejak Januari hingga 14 Agustus, hanya 12.285 KL.

"Sedangkan realisasinya mencapai 13.811 KL. Artinya sudah 12 persen melebihi kuota,” ungkapnya.

Untuk itu, Pertamina mengajak masyarakat agar mampu untuk bijak menggunakan BBM subsidi dengan beralih mengkonsumsi bahan bakar dengan RON minimal 92. Dalam hal ini pihaknya pun juga mengimbau kepada masyarakat, untuk tidak menimbun atau meniagakan lagi BBM subsidi.

"Karena hal tersebut termasuk ke dalam tindak pidana yang dapat diberikan sanksi oleh aparat berwajib,” jelasnya.

Apabila masyarakat memiliki pertanyaan terkait produk dan pelayanan dari Pertamina, dapat menghubungi kontak Pertamina di 135 atau mengunjungi website www.pertamina.com.

Dikonfirmasi terpisah, Bupati Berau Sri Juniarsih secara pribadi maupun atas nama pemerintah daerah, menyambut baik program tersebut segera masuk Berau. Karena menurutnya, akan membantu mengendalikan pendistribusian solar kepada masyarakat. Sehingga harapannya memang bisa mengurangi angka kelangkaan BBM, khususnya di Berau.

"Jadi lebih bisa meratakan kebutuhan BBM ini kepada masyarakat," ucap Juniarsih.

Sehingga bisa mencegah adanya oknum-oknum yang melakukan penimbunan BBM, khususnya solar subsidi. "Maka itu, melalui program tersebut tentu kami dari pemerintah daerah sangat menyambut baik. Saya mendukung sepenuhnya," terangnya.

Diakui Sri Juniarsih, dengan adanya program ini, bisa membatasi pembelian bahan bakar sesuai kebutuhan kendaraan. Jadi tidak ada oknum-oknum yang membeli bahan bakar melebihi dari kebutuhan yang sudah ditetapkan. Ataupun membeli dengan berulang-ulang kali.

"Melalui program Fuel Card 2.0 ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi adanya tindakan penimbunan bahan bakar solar khususnya," tegasnya.

Kendati itu, jika nanti Fuel Card 2.0 ini memang sudah di-launching di Berau, Pemkab Berau akan menindaklanjuti dengan membuat edaran kepada masyarakat dalam bentuk imbauan, untuk menggunakan Fuel Card 2.0 tersebut.

"Supaya kebutuhan-kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi secara merata," tuturnya. (mar/udi)

Editor : uki-Berau Post
#bbm