PERNAH melihat urat Payau. Komoditas ini populer 15 tahun silam. Ketika Rusa alias Payau, masih leluasa diburu dan dagingnya diperjualbelikan.
Di tahun-tahun itu, di pasar dua atau tiga ekor pasti terlihat di petak penjualan daging. Dari bentuk kuku dan paha, bisa membedakan antara Payau dan Sapi.
Di terminal Bandara Kalimarau yang lama, ada menu khusus bagi pencinta Sup Tulang Payau. Karena jaraknya sangat dekat dengan terminal, penumpang yang jadwal berangkatnya siang hari, selalu menyempatkan diri menikmati Sup Tulang Payau.
Saya juga termasuk pelanggannya, baik di saat masih menempati warung di sekitar terminal bandara lama. Pun ketika pindah rumah di pinggir jalan bandara. Rasanya khas.
Cerita sekitar perburuan Payau, sangat populer di tahun 90-an. Bahkan ada cerita, ada rombongan dari Jakarta menggunakan helikopter, mendarat di Bandara Batu Putih. Hasil perburuan yang belasan ekor, diangkut dari Batu Putih ke Jakarta. Yang diambil hanya bagian paha dan kaki.
Juga cerita sekitar para pemburu yang dikenal ‘bidik’ bila menembak Payau. Ada beberapa nama yang saya kenal akrab. Kalau beliau sudah masuk hutan, kembali tak pernah tanpa hasil. Memang jumlah Payaunya masih sangat banyak.
Di pasar ataupun warga yang datang dari Batu Putih, ada yang tak pernah ketinggalan dibawa serta. Dendeng Payau, itu kita bisa jumpai di pasar. Dijual bebas. Harganya pun tidak mahal.
Saya sering mendapat kiriman daging Payau dari almarhum Irwan Nasir. Pemilik warung Pondok Bambu di Jalan AKB Sanipah. Karena banyak, sayapun belajar membuat dendeng daging Payau. Lumayan, bisa untuk cadangan lauk di rumah.
Kalau juga inggin menikmati sate Payau. Ada warung yang terkenal, di mana persediaan sate Payau tak pernah kosong. Selalu saja ada. Sejak ada larangan berburu dan menangkap termasuk menjual, penjual sate pun tak lagi menyediakan sate Payau.
Terus hubungannya dengan urat Payau apa? Iya, salah satu bagian dari Payau itu, tidak diperjualbelikan di pasar. Ada yang secara khusus mengeringkan. Khususnya pada bagian lutut ke bawah.
Mungkin lebih pas bila disebut ototnya. Kaki Payau ini dikeringkan. Pada jumlah tertentu, kaki Payau yang masih menempel otot atau uratnya, dikemas lalu dikirim ke Tawau, Malaysia. Berau termasuk pemasok terbesar, urat Payau ke Tawau.
Apa manfaatnya? Kabarnya di Tawau, otot dan kaki Payau itu direbus, dijadikan sup. Sama dengan sarang burung walet. Sup Urat Payau manfaatnya sangat besar. Terutama untuk mngobati mereka yang mengalami gangguan tulang dan persendian.
Ada juga yang mengait-ngaitkan dengan keperkasaan lelaki. Nah, kalau menyebut keperkasaan, akan banyak peminatnya. Dibanding bila promosi hanya sebatas Sup Urat Payau.
Sekarang, sejak larangan memperjualbelikan maupun menangkap Payau, tak pernah lagi terlihat di Pasar Sanggam Adji Dilayas. Tak pernah lagi ada menu sate Payau. Tak pernah lagi, ada yang berjualan Sup Tulang Payau.
Adalah Haji Mayyun. Usianya sekarang mendekati 90 tahun. Beliau tokoh masyarakat Gunung Tabur. Sudah sejak lama, menjadi pelanggan Warung Pojok. Minumannya tak pernah berubah. Kopi susu.
Ia masih nampak segar. Ke mana-mana naik sepeda. Ingatannya masih kuat. Tak berkaca mata. Dan, yang hebat, beliau punya anak 13 orang dengan puluhan cucu. “Apa rahasianya beliau,” tanya saya. Sebelum menjawab, ia memandang saya cukup lama. Lalu ia menjawab, “urat Payau,” katanya singkat sambil tertawa.
Beliau dulu yang banyak menggeluti bisnis urat Payau yang sudah dikeringkan. Apakah langsung dikirim ke Tawau atau melewati pengumpul, saya tidak tahu persis. Karena ia mengaitkan usianya yang mendekati 90 tahjun dan masih kuat dengan urat Payau.
Saya berpikir, jangan-jangan memang betul. Urat Payau yang dibuat sup itu memperkuat tulang. Dan, banyak lagi menfaat lainnya. Mungkinkah dengan anak sebanyak 13 orang, ada kaitannya dengan urat Payau? Atau kita tanya Haji Mayyun. @cds_daengsikra. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post