Oleh: Siti Mudrikah
Guru SD 013 Sambutan
Pendidikan merupakan aspek penting untuk membentuk generasi penerus bangsa dalam rangka membangun masa depan. Saat ini banyak orangtua semakin sadar pentingnya membentuk karakter anak sejak usia dini.
Sedangkan Pancasila merupakan dasar negara, sebagai pedoman. Jadi pendidikan Pancasila salah satu mata pelajaran wajib mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Usia sekolah dasar merupakan masa emas untuk belajar, memahami, mengingat, dan meniru. Maka dari itu, pendidikan Pancasila sangat diharapkan memberikan perhatian terhadap perkembangan nilai-nilai, perkembangan moral, serta sikap dan perilaku peserta didik.
Menanamkan nilai Pancasila di sekolah dasar merupakan pembekalan serta memantapkan pengetahuan dan keterampilan dasar tentang hubungan baik warga negara Indonesia.
Nilai Pancasila merupakan nilai yang mencerminkan perilaku keseharian masyarakat tentang bagaimana bersikap, berperilaku, serta memiliki moral. Memberikan pemahaman terhadap anak usia sekolah dasar dapat dikenalkan dari hal-hal yang mereka mudah pahami, misalnya mengaitkan dengan lingkungan yang ada di sekitar mereka terlebih dahulu atau menggunakan metode membaca dan mendengarkan yang paling sering dilakukan ketika pembacaan teks Pancasila saat upacara setiap Senin dan hari besar nasional lainnya. Peserta didik akan mudah memahami dengan mendengarkan teks-teks Pancasila yang dibacakan.
Metode ini dapat membimbing anak untuk menganalisis dan menerapkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila pada berbagai kehidupan, bermasyarakat, dan lainnya.
Nilai Pancasila pada era saat ini mulai memudar. Pudarnya nilai-nilai Pancasila pada lingkungan sekolah terjadinya perilaku penyimpangan. Contoh yang paling sering kurang disadari yaitu kasus bullying. Bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja secara berkelompok.
Biasanya anak-anak usia sekolah dasar sudah berani mengolok-ngolok temannya, mengeluarkan kata tidak pantas, bahkan ada juga yang berani menyentuh fisik. Banyak sekali kasus bullying ini yang kurang kita sadari. Mengapa? Karena kebanyakan masyarakat masih menganggap hal ini sepele, tampak biasa.
Pernahkah kita melihat dampak yang terjadi akibat bullying seperti depresi pada anak yang bisa dilihat ketika anak tiba-tiba malas turun sekolah, lebih sering menyendiri, dan takut untuk berbicara. Belum lagi dampak prestasi menjadi menurun secara akademik karena anak akan susah untuk fokus belajar.
Semua perilaku menyimpang yang terjadi di lingkungan sekolah disebabkan pudarnya nilai-nilai Pancasila. Kebanyakan peserta didik hanya membaca dan mendengar teks saja tanpa mengetahui apa makna nilai Pancasila tersebut. Karena itu, kita sebagai pendidik sebaiknya memberikan pemahaman lebih makna dari nilai Pancasila.
Berdasarkan prinsip negara adalah Pancasila memiliki lima asas. Yang pertama asas ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu di sekolah dapat mengenalkan tentang agama yang dianut dan diakui negara Indonesia seperti agama Islam, Kristen, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Perbedaan inilah yang dapat kita kaitkan dengan Bhineka Tunggal Ika; berdeda-beda tetap satu jua. Walaupun memiliki teman yang berbeda agama ajarkan untuk tetap saling menghargai. Untuk di rumah, orangtua dapat mengajak anak beribadah bersama sejak kecil. Selain itu membiasakan anak harus selalu bersyukur setiap saat dengan cara berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum melakukan aktivitas apapun.
Sila kedua, orangtua dapat memberikan contoh atau mengarahkan anak untuk bermain bersama dengan teman sebaya atau berkumpul dengan saudara. Mengapa mereka berkumpul saling mencintai dan menyayangi, memberi bantuan terhadap saudara yang kesusahan, menghibur teman yang sedang sedih, semua karena adanya persamaan derajat antara sesama manusia sehingga setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan berinteraksi dan melihat contoh tersebut peserta didik akan berpikir kritis.
Sila ketiga bermakna mewujudkan dengan rasa cinta terhadap Tanah Air dan rela berkorban bagi bangsa dan negara. Seorang pendidik dapat memberikan pengarahan dari hal-hal yang mudah. Seperti melaksanakan piket dalam kelas merupakan bentuk rela berkorban demi kepentingan bersama. Selain itu di dalam pembelajaran guru dapat memberikan pembelajaran dengan permainan secara regu sebagai bentuk kerja sama tim. Hal ini juga dapat menumbuhkan rasa cinta dan saling peduli sesama teman.
Sila keempat bermakna sebagai pedoman upaya penyelesaian masalah dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat dengan semangat kekeluargaan serta mementingkan kepentingan bersama. Kegiatan di lingkungan rumah yang dapat diarahkan, misalnya kakak adik sedang berkelahi kita sebagai orangtua atau pendidik mengutamakan duduk bersama dan menyelesaikan masalah secara musyawarah diajarkan untuk saling menyampaikan pendapat serta saling memaafkan supaya tercipta hubungan yang harmonis di lingkungan keluarga.
Lalu bagaimana mengajarkan di lingkungan sekolah? Sebagai pendidik ajarkan kepada peserta didik untuk dapat berdiskusi, berpendapat, dan menghargai pendapat orang lain.
Sila terakhir yaitu sila kelima bermakna keadilan sosial, mengharapkan masyarakat tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan kepentingan umum. Memberikan contoh kepada peserta didik dari hal yang lebih mudah dimengerti yaitu guru berlaku adil kepada siswa, tidak membedakan peserta didik, mendorong peserta didik untuk tetap giat belajar baik di sekolah maupun di rumah dengan cara memberikan motivasi.
Di rumah, orangtua dapat membimbing mereka dengan cara menabung, menyisihkan uang jajannya supaya terbiasa hidup hemat.
Melalui pendidikan Pancasila sejak usia dini atau sekolah dasar diharapkan peserta didik akan tumbuh menjadi penerus bangsa yang memiliki nilai moral Pancasila. (dwi/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria