MENJADI dambaan Aparat Sipil Negara (ASN) berakhirnya tugas dengan manis. Seperti sebuah pertunjukan yang berakhir dengan Happy Ending. Ada juga yang berakhir sebaliknya.
Tuntas sudah pengabdian seorang Taupan Madjid sebagai ASN. Awal Maret, resmilah dia menanggalkan baju dinasnya. Tak ada lagi simbol dinamika seperti tergambar pada lambang Dinas PUPR.
Sebulan sebelumnya, dia berusia 60 tahun. Masa dimana seorang pejabat eselon II, adalah usia maksimalnya. Dan, setelah itu, dia akan diberikan surat keputusan purna tugasnya. Lepaslah dirinya dalam kesibukan rutinitas. Kembali sebagai warga biasa.
Saya bisa membayangkan suasana batin Taupan Madjid. Bisa membayangkan, bagaimana kerabat sekantornya yang telah bersama-sama puluhan tahun. Suka dan duka, mereka jalani bersama.
Apalagi, kantor yang dipimpinnya adalah instansi yang bertanggung jawab dalam menghadirkan infrastruktur yang andal. Instansi yang sering menjadi sorotan. Instansi oleh masyarakat dianggap sebagai instansi yang basah.
Saya sudah mengenalnya sejak dia pertama kali menjadi ASN. Memulai sebagai seorang konsultan, lalu masuk sebagai ASN di kantor Pekerjaan Umum (PU). Sekarang Dinas PUPR. Perjalanan kariernya mulus-mulus saja.
Saya tidak hadir ketika ada family gathering yang digelar karyawan Dinas PUPR. Saya hanya menebak, kalau acara itu adalah acara gembira untuk membalut rasa sedih lebih dari 60 orang karyawannya.
Lalu, ada penyerahan bingkisan dari masing-masing bidang. Bukan berupa jam tangan atau barang berharga mahal. Hanya sebuah sketsa atau karikatur dengan bermacam-macam makna. Karikatur yang terbingkai rapi, yang akan tersimpan di salah satu dinding rumah Taupan di kompleks perumahan Korpri.
Sebetulnya saya sempat janjian jumpa di kantornya. Saya ingin melihat seorang Taupan Madjid, duduk di meja berukuran besar. Ada dua kursi bagi siapa saja yang ingin bertemu. Dan, ada satu set kursi tamu.
Walau saya berteman baik. Sangat jarang menemui Taupan di ruang kerjanya. Karenanya, di hari akhir tugasnya, ingin sekali menyaksikan ekspresi wajah Taupan Madjid, meninggalkan ruangannya dengan langkah gontai.
Dia memang dikenal murah senyum. Tapi, di pengujung tugasnya, dia tak bisa lagi berpura-pura untuk senyum. Raut wajahnya sangat jelas, betapa berat berpisah dengan para sahabatnya yang sudah berkumpul puluhan tahun lamanya.
Sayang, janjian jumpa di kantornya tak terwujud. Saya pun mengunjungi rumahnya di kompleks perumahan korpri. Saya hanya bisa menyaksikan Taupan Madjid mengenakan baju dinasnya. Mungkin setelah jumpa di pagi hari itu, dia tak lagi memakai baju dinas keesokan harinya.
Mungkin dia akan mengenakan baju polo kesukaannya. Atau baju yang sering digunakan main tenis lapangan dan golf. Mungkin, sekali waktu akan mengajak saya, untuk sama-sama mengunjungi warung pojok. Berbaur dengan masyarakat yang sudah lama menantikan kehadirannya.
Tapi, ada tugas lainnya yang cukup menyita waktu nanti. Dia seorang ketua organisasi Keluarga Besar Sulawesi Selatan (KKSS). Cukup berat tugas itu. Apalagi warganya tersebar di semua kecamatan. Dia wajib menemui mereka.
Empat atau lima tahun lalu, suasana batin yang dirasakan Taupan Madjid, pernah juga saya rasakan. Waktu terus bergerak tak ada kekuatan yang bisa menghentikan. Harus terus bergerak meninggalkan kenangan itu.
Dan, sampailah di muara sebuah pengabdian. Mau kemana sesudahnya, itu hanyalah waktu yang akan mengantarkan. Di pengujung tugas, saya tak akan bertanya lagi apa lagi sibuk?. Setiap saat kami bisa saling bertemu dan berbincang. Berbincang apa saja.
Selamat datang Pak Taupan di dunia yang baru. Tak usah ragu. Banyak sahabat kita yang juga pernah menjalani masa purna tugas. Di situlah kita berkumpul berbincang dan sambil menyumbangkan pikiran buat kemajuan daerah. Daerah yang membesarkan kita semua. @cds_daengsikra (*/sam)
Editor : uki-Berau Post