PADAHAL sudah cukup lama hadir. Saya saja yang telat datang. Tak tahunya, kafe di Batumiang itu, milik sahabat saya. Pak Bihamdi namanya.
Lama tidak jumpa. Hari Rabu (1/3) sore, ketika sedang lari-lari sore, kami bertemu di simpang tiga At-Taqwa. Badannya tambah subur. Rambutnya tak selebat dulu lagi. Tapi, sorotan matanya yang tajam sama sekali tidak berubah.
Kami berbincang hanya sebentar. Lalu dia menawarkan untuk berkunjung ke kafenya yang sudah lama dibuka. Aku nunggu di kafe depan kantor POM di Batumiang, kata dia. Saya siap saja dan akan mengajak teman.
Saya dan Pak Bihamdi itu pernah satu kantor. Karena usianya yang sudah 58 tahun, Oktober tahun lalu, dia purna tugas. Sama seperti saya. Setelah tuntas dia menyibukkan diri dengan kegiatan yang lagi tren. Nama kafenya pun, mengabadikan nama kawasan tempat tinggalnya.
Dan reunilah kami, sambil menikmati singkong dan kentang goreng. Ada Pak Ilham, Pak Isrin, dan Pak Fadli. Mereka ini teman sekantor kami dulu. Karena persahabatan masih terjaga, komunikasi dan ngopi pun sering kami lakukan bersama.
Lokasi kafe itu dulunya kawasan yang sepi dan gelap. Jangan salah, biar sepi, tingkat lakalantas cukup tinggi di tempat itu. Apa karena tempatnya yang angker, atau karena sepinya sering jadi arena balap.
Berceritalah Pak Hamdi, sebagai penduduk asli Batumiang. Kantor POM di seberang jalan itu kata Hamdi, dulunya adalah kantor bupati. Sementara tak jauh dari kafenya, ada perumahan yang ditempati pegawai, dulunya adalah bangunan kantor DPRD.
Mungkin karena lokasi kantor bupati, sehingga sepanjang 100 meter tepi jalan dibangunlah perumahan. Dulu namanya, perumahan Bivak, kata Hamdi. Dibangun tahjun 1957. Termasuk, tempat yang dia beli, awalnya juga bagian dari perumahan Bivak itu.
Apa sih artinya Batumiang itu? tanya saya. Hamdi pun menjelaskan soal penulisan. Dua huruf di depan, yakni Ba itu terpisah dengan Tumiang. Karena dalam kawasan tepi Sungai Segah ditumbuhi hutan bambu. Makanya diberilah nama Ba-Tumiang.
Sama halnya dengan Bedungun. Tulisannya juga harusnya terpisah. Yakni, Be-Dungun. Kata Hamdi, ada sejenis pohon di tepi sungai berbuah kecil berwarna cokelat. Nama pohon itu Dungun. Makanya, diberilah nama kawasan setelah Ba Tumiang itu, dengan sebutan Be Dungun atau Bedungun.
Deretan satu jalur jalan menuju arah Bandara Kalimarau atau menuju Kecamatan Teluk Bayur. Ada lagi, nama tempat yakni Bujangga. Pak Hamdi tak sempat menjelaskan asal usul kata Bujangga itu. Apakah nama istri Pak Jangga atau ada sejarahnya tersendiri.
Setelah Bujangga, mendekati arah Teluk Bayur, ada lagi tempat yang namanya Rinding. Bahkan, sudah menjadi kelurahan. Pak Hamdi juga tak sempat menjelaskan, asal kata Rinding itu. Padahal dia pasti tahu. Maklum, ketika bekerja di Kecamatan Tanjung Redeb, dia punya buku putih asal nama setiap kelurahan.
Dia pun memperkenalkan satu per satu personel yang terlibat dalam kegiatan kafe. Kafe yang ditulis dengan nama Batumiang, dengan dua huruf di depannya yang terpisah. Banyak yang bertanya, ke Ba itu terpisah dari tumiang.
Setelah itu, berceritalah kami akan banyak hal. Terutama kesibukan masing-masing. Saya lebih leluasa dan lebih nyaman, selama pensiun, kata Pak Bihamdi. “Pantas badan tambah subur,” kata Saya.
Racikan kopi dan singkong gorengnya, dua pasangan yang cocok. Ditambah lagi, lokasinya di ruas jalan yang sekarang padat lalu lintas. “Perlu ditempatkan lampu peringatan,” kata saya. Agar dari jauh sudah terlihat, dan pengendara juga mengurangi kecepatan kendaraannya.
Tak bisa berlama-lama. Kami memang setiap jumpa untuk ngopi, hanya sebatas pada jam 23.00. Harus segera diakhiri. Dan, karena kunjungan perdana, jamuannya tak perlu dibayar. Nanti kalau kami datang lagi, kami wajib membayar, kata Saya sambil pamit pulang. @cds_daengsikra (*/sam)
Editor : uki-Berau Post