GILIRAN tuan rumah. Semua yang bekerja di sektor pariwisata berkumpul di Pulau Maratua. Bu Sri, Sekprov Kaltim yang juga mantan Kadis Pariwisata Kaltim, membuka acara mewakili gubernur.
Yang akan dibahas selama berkumpul di pulau terluar Kaltim itu baik sektor pengembangan, maupun promosi wisata yang sebelumnya sudah melakukan pertemuan di Balikpapan dan Bontang.
Hasilnya itulah yang direkomendasikan selama berlangsungnya pertemuan. Terutama, bagaimana memosisikan potensi wisata yang dimiliki masing-masing daerah, dalam mempersiapkan diri menyambut hadirnya Ibu Kota Negara (IKN).
Berau memang menjadi salah satu pilihan. Jangan salah, daerah lain juga bersiap-siap sesuai potensi yang dimiliki. Terutama kabupaten dan kota yang jaraknya sangat dekat dengan IKN. Seperti Balikpapan, Paser, dan Penajam Paser Utara.
Wisata bahari yang dipunyai Berau, harusnya mampu mencuri perhatian. Sehingga, sebagai salah satu daerah penyangga, ketika IKN mulai hadir, Berau pun sudah siap terlebih dahulu.
Di arena rakornis inilah disampaikan hal-hal penting terkait pengembangan potensi wisata yang dimiliki. Peserta rakornis itu terbilang lengkap. Akan hadir pula yang mewakili kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif. Dia akan mencatat apa yang diperlukan masing-masing daerah.
Hingga akhir pekan ini, Pulau Maratua akan diserbu banyak kegiatan. Selain rakornis pariwisata se-Kalimantan Timur. Juga ada kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan pusat kegiatan hari peduli sampah.
Tiga kegiatan ini saling terkait erat. Bagaimana menghadirkan obyek wisata yang bersih dari sampah, dan dalam musrenbang akan muncul berbagai usulan yang bisa dilakukan pada tahun ini maupun tahun depan.
Keterkaitan kegiatan serta visi dan misi ini lah, sehingga rapat koordinasi teknis pariwisata yang dilakukan di Pulau Maratua menjadi momentum penting dan sangat berarti. Pembicaraan di Maratua menentukan bagaimana perjalanan wisata ke depan.
Di warung pojok, kemarin, sepintas juga disinggung soal ramainya wisatawan lokal yang berkunjung ke Maratua dan Derawan. Kalau semua agenda kegiatan dipusatkan di pulau wisata, warga dan UMKM akan maju lebih cepat.
Bukan itu saja yang jadi perhatian. Yang disoroti dengan kegiatan itu, terpaksa mengorbankan para pedagang yang berjualan dalam kawasan terminal dermaga pemberangkatan wisata di Jalan Milono.
Banyak kendaraan yang menginap. Menariknya, pelat kendaraan yang memenuhi kawasan itu lebih banyak kendaraan berpelat dinas G alias kendaraan di Berau. Harusnya pemilik kendaraan parkir di rumah masing-masing saja, kata salah seorang pelanggan warung pojok.
Dengan begitu, jumlah kendaraan yang parkir tidak banyak. Sehingga tak perlu menyingkirkan para pedagang yang berjualan hanya di malam hari. Tempat parkir itu pun, di malam hari suasananya gelap. Ada lampu penerangan jalan, tapi sinarnya tidak cukup terang.
Oh iya, ada anggota baru warung pojok. Namanya Taupan Madjid. Dia baru saja purna tugas dari kantor yang pernah dipimpinnya yakni Dinas PUPR. Kantornya memang sangatlah sibuk, sehingga selama masih dinas, belum tersedia waktu untuk ikut duduk di salah satu bangku di warung pojok.
Datangnya sekitar jam 11.00 Wita. Pelanggan setia warung kopi, sudah banyak pulang. “Lain kali harus datang lebih pagi, jadi bisa jumpa dengan banyak teman,” kata saya.
“Saya juga sering lewat ketika memeriksa kondisi jalan di tepian dan jalur Jalan Niaga,” kata Taupan Madjid. Menurutnya, setelah punya waktu yang cukup luang, dia berusaha menjadi bagian dari warung kopi untuk hadir berbagai cerita.
Kami berpisah sekitar jam 12.00 Wita. Pak Taupan kembali ke rumah, dan saya harus mengurus Pak Hamdani, teman saya dari Samarinda yang akan ikut rakornis di Maratua karena ketinggalan speed boat. Yang penting lautnya teduh, terlambat tiba di Maratua juga tak masalah.@cds_daengsikra (*/sam)
Editor : uki-Berau Post