Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tak Ujug-Ujug Bisa Pindah, Pemindahan Depot BBM Samarinda Bisa Memakan Waktu 5 Tahun

izak-Indra Zakaria • Kamis, 9 Maret 2023 | 08:09 WIB
Photo
Photo

Pertamina mengklaim kondisi depot BBM Pertamina di Samarinda berbeda dengan Plumpang, yang terbakar pekan lalu. Di sekitar permukiman warga di Jalan Cendana, tidak ada pipa minyak.

 

BALIKPAPAN–PT Pertamina Patra Niaga Kalimantan masih melakukan kajian terkait rencana pemindahan depot Bahan Bakar Minyak (BBM) di Jalan Cendana, Samarinda. Area Manager Comm, Relations & CSR Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga Arya Yusa Dwicandra mengatakan, sebelum peristiwa kebakaran di depot BBM Plumpang, Jakarta Utara pekan lalu, telah dilakukan kajian terkait operasional depot BBM di Samarinda.

Dijelaskannya, depot BBM Pertamina di Samarinda sudah ada sejak 1949. Hingga kini, objek vital tersebut melayani penyaluran BBM untuk Kota Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Bontang, Mahakam Hulu, serta Malinau dan Bulungan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Terkait berkembangnya aktivitas di luar area depot BBM, dia menegaskan bukan wewenang pihaknya.

“Yang jelas tanah depot itu sudah ada sejak dulu. Dan semakin ke sini memang berkembang permukiman warga. Terkait hal itu bisa ditanyakan pemerintah setempat,” jelasnya kepada Kaltim Post, Selasa (7/3). Idealnya, lanjut dia, jarak antara area depot dengan permukiman minimal 50 meter. Itulah yang disebut buffer zone atau zona penyangga. Namun kondisinya kini, antara tembok depot dengan permukiman berjarak sekitar 5 meter. Perihal rencana membangun depot BBM baru di Kecamatan Palaran, Samarinda, dia menyebut sudah dilakukan kajian. Namun karena kondisi Covid-19, memaksa beberapa proses harus tertunda.

“Namun saat ini sedang dilakukan perpanjangan sertifikat dan menunggu proses lebih lanjut,” katanya. Keputusan tinggal menunggu pemerintah pusat. Pada dasarnya, sebut dia, pihaknya sebagai pelaksana siap dengan arahan yang sudah ditetapkan. “Tahapan proses evaluasi sudah dilakukan. Namun karena proses membutuhkan waktu maka tentunya kita berpegang pada proses tersebut. sebagai contoh proses pemindahan depot BBM Tegal (Jawa Tengah) dari lokasi lama ke baru membutuhkan waktu 5–6 tahun,” jelasnya.

Arya menegaskan, kondisi depot BBM Pertamina di Samarinda berbeda dengan Plumpang. Di sekitar pemukiman tidak ada pipa untuk minyak. Jadi jalur minyak hanya ke arah sungai. Area tangki juga diberikan pengamanan. “Di depot BBM itu, kami juga rutin maintenance setiap tahunnya, termasuk tank cleaning dan pemuktahiran sistem. Kemudian, melakukan edukasi ke warga termasuk membentuk tim relawan dan melakukan pelatihan APAR,” ungkapnya. Pihak Patra Niaga di Samarinda juga rutin melakukan komunikasi dengan warga sekitar.

            Diwartakan sebelumnya, kebakaran di area depot BBM Pertamina di Plumpang, Jakarta Utara kembali memantik kekhawatiran terhadap permukiman di sekitar kilang. Samarinda contohnya. Berlokasi di Jalan Cendana, Kecamatan Sungai Kunjang, depot BBM Pertamina berimpitan dengan permukiman penduduk. Kebakaran fasilitas depot yang bisa terjadi kapan saja, membuat ribuan jiwa di kawasan tersebut dibuat waswas setiap harinya. Pada bagian lain, rencana relokasi yang bergulir sejak beberapa tahun lalu, hingga saat ini belum menunjukkan progres signifikan.

“Segera kami telusuri. Surat sudah juga sudah kami siapkan. Paling lama Selasa (7/3) sudah kami kirim ke Pertamina,” kata Kepala Bidang Litbang, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Samarinda, Achmad Fauzi Irawan kepada Kaltim Post, Senin (6/3). Fauzi Irawan mengungkapkan, pihaknya telah diperintahkan untuk menyurati PT Pertamina Patra Niaga untuk membahas kelanjutan rencana pemindahan depot BBM di Jalan Cendana. Namun sebelum bersurat, pihaknya masih mencari surat permohonan yang diajukan Pertamina beberapa waktu lalu sebagai lampiran.

Sementara itu, dalam keterangan terpisah, Wali Kota Samarinda Andi Harun menyampaikan akan mengevaluasi keberadaan terminal BBM di Jalan Cendana.

Menurut dia, keberadaan objek vital nasional (obvitnas) tersebut sangat dekat jaraknya dengan permukiman warga, sekolah, fasilitas kesehatan hingga kantor pelayanan publik, yakni kantor kelurahan. Andi Harun menyampaikan, Pemkot Samarinda sudah menerima kabar kepindahan terminal BBM Pertamina dari Jalan Cendana ke Kecamatan Palaran. Bahkan persetujuan diakuinya sudah diberikan lewat izin lokasi yang juga sudah diterbitkan sekitar satu tahun lalu.

Setelah lebih 2 tahun bergulir, Andi Harun mengakui belum menerima keterangan lebih lanjut terkait pemindahan depot BBM tersebut. “Kami minta mereka konsisten. Kejadian di Jakarta harusnya menjadi pelajaran berharga. Di Samarinda juga harus pindah karena sudah tidak layak dan tidak aman,” terangnya. Berdasarkan penelusuran media ini, sedikitnya terdapat 300 jiwa yang mendiami kawasan ring 1 depot BBM Jalan Cendana.

 “Kekhawatiran kami dengan keberadaan tangki-tangki minyak yang ada di Depo Pertamina ini (di Jalan Cendana) sudah lama. Kami takut kalau sewaktu-waktu ada kebakaran, api menjalar dan bisa makin berbahaya. Apalagi lingkungan kami ini padat, banyak warga. Di lingkungan saya saja ada ratusan jiwa, paling sedikit 300 jiwa. Lain lagi dengan lingkungan RT lain,” ujar Ketua RT 16 Telok Lerong Ulu, Taufik. Selain resah dan khawatir akan bahaya kebakaran, aktivitas di depot juga dikeluhkan. Getaran sangat dirasakan warga, karena aktivitas truk tangki berukuran besar yang wara-wiri melakukan bongkar muat BBM.

Senada, Ketua RT 15 Telok Lerong Ulu Gazali Rahman juga mengaku khawatir kejadian Plumpang Terulang. Apalagi di lingkungannya juga padat penduduk. Wilayahnya mencapai ratusan jiwa juga. “Jujur saja, khawatir sudah pasti. Kami takutkan kalau kebakaran. Memang kalau depo itu sejak saya lahir sudah ada. Saya lahir sekitar 1970, depo ini sudah ada. Dulu cuma kawat berduri saja,” ungkapnya. Terpisah, Lurah Telok Lerong Ulu Anton Sulistiyo mengungkapkan, memang ada beberapa lingkungan RT di sekitar depo tersebut. Di antaranya, RT 18, RT 27, RT 28, RT 37, RT 39, dan RT 40. Dari pantauan Sapos (Kaltim Post Group) di lapangan, RT 15, RT 16, hingga RT 17 termasuk dekat dengan depot tersebut.

Bahkan, posisi lingkungan RT 16 dan RT 17, hanya berbatasan tembok serta sungai saja. Jika tiap RT terdapat 70 kepala keluarga (KK), kemudian masing-masing keluarga terdiri dari ibu dan ayah serta dua anak, maka tiap RT rata-rata ada 250 jiwa. Maka, diperkirakan warga yang bermukim di sekitar depot BBM Pertamina mencapai ribuan orang. (riz/k8)

 

AJIE CHANDRA

ajie.chandra@kaltimpost.co.id

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria