Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ada Ajaran Kesederhanaan di Balik Rumah Panggung

uki-Berau Post • 2023-04-13 12:30:02
PERTAHANKAN TRADISI: Masyarakat di Kampung Mahmud terus melestarikan nilai-nilai tradisi yang sudah ada sejak dulu.
PERTAHANKAN TRADISI: Masyarakat di Kampung Mahmud terus melestarikan nilai-nilai tradisi yang sudah ada sejak dulu.

Warga Kampung Mahmud di Kabupaten Bandung kuat mempertahankan tradisi, antara lain tak boleh membangun rumah bertembok, dilarang memukul gong, dan tak diperkenankan memelihara soang. Peziarah mengalir ke kampung tersebut karena ada tiga makam ulama yang menjadi penyebar Islam di Jawa Barat.

 

ILHAM WANCOKO, Kabupaten Bandung

 

SYAHDAN, di sebuah daerah di Makkah, Arab Saudi, Eyang Dalem Abdul Manaf mengambil segenggam tanah. Oleh ulama keturunan Sunan Gunung Jati itu, dibawalah tanah tersebut pulang dan disebar ke kawasan rawa-rawa dekat Sungai Citarum, Jawa Barat. Di tanah itulah kemudian berdiri Kampung Mahmud yang kini masuk wilayah Kabupaten Bandung.

Keturunan kesembilan Eyang Dalem Abdul Manaf, Haji Ahmad Syafei bin Mama Kiai Haji Muhidin, mengatakan bahwa tanah yang diambil itu bukan hanya dari daerah Mahmud di Makkah. Namun juga sebuah gua yang juga bernama Mahmud.

Di atas tanah itulah kemudian dibangun Masjid Agung Mahmud, pesantren, dan seiring waktu berjalan menjadi Kampung Adat Mahmud yang kini dikenal sebagai salah satu jujukan wisata religi. Syafei menuturkan, penamaan kampung adat itu disebabkan masyarakat masih melestarikan nilai-nilai tradisi sejak dulu.

Di antaranya, tidak boleh membangun sumur, rumah harus berbentuk panggung atau ada kolongnya, dan tidak diperbolehkan membangun rumah bata atau bertembok. Tidak diperkenankan pula menggelar wayang dan membunyikan musik gong, memelihara soang, serta peziarah tidak boleh nonmuslim. Kampung Mahmud dikelilingi Sungai Citarum dengan kontur lebih rendah. Tapi, tak sekali pun kampung itu banjir.

Deretan warung yang menyediakan berbagai makanan, buah tangan, dan beragam kerajinan khas Jawa Barat menjadi pertanda bahwa kampung tersebut jujukan banyak orang. Di sela warung itu terselip pula toko-toko buku Islam. Toko busana muslim dan peci menjadi pertanda lain identitas kampung yang masuk wilayah Desa Mekar Rahayu, Margaasih, Kabupaten Bandung, itu.

Kampung Mahmud juga menjadi saksi perubahan Citarum. Menurut Syafei, dulu larangan membangun sumur itu disebabkan sungai tersebut begitu bersih dan jernih. Sangat layak dikonsumsi masyarakat. ”Beda dengan sekarang yang kotor dan bau, makanya sudah boleh bikin sumur,” ujarnya kepada Jawa Pos pada Minggu (19/3) lalu.

Larangan-larangan tersebut sebenarnya memiliki makna yang mendalam. Misalnya, membangun rumah panggung bertembok kayu. Dia menuturkan bahwa larangan itu mengajarkan kesederhanaan. Kemudian tidak menimbulkan iri dan dengki. ”Kesombongan juga tidak muncul. Yang utama itu iman dan takwa kepada Allah SWT,” paparnya.

Ada tiga makam di kampung tersebut yang menyimpan jejak sejarah. Ketiganya adalah makam Eyang Dalem Abdul Manaf serta dua muridnya: Eyang Agung Zainal Arif dan Eyang Abdullah Gedug. Ketiganya, menurut Syafei, berperan besar menyebarkan Islam di Jawa Barat. ”Larangan-larangan itu juga berasal dari Eyang Dalem Abdul Manaf,” jelasnya.

Menurut dia, keberadaan tiga makam itulah yang menjadi magnet wisata ziarah ke Kampung Mahmud. Memang saat Ramadan biasanya sepi, tapi sebelum Ramadan berbondong-bondong orang dari berbagai daerah berziarah. Di antaranya, Bandung, Garut, Tangerang, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Cianjur, bahkan Madura. ”Sebelum puasa itu 30 bus dari Garut datang ziarah,” paparnya.

Bila musim ziarah, kampung itu bisa berubah bak pasar malam. Hampir 24 jam orang hilir mudik. Wajar bila kemudian berderet toko yang melayani berbagai keperluan peziarah tadi.

Jawa Pos turut mengunjungi Masjid Agung Kampung Mahmud. Seperti dituturkan Syafei, masjid tersebut masih melestarikan nilai-nilai yang diajarkan Eyang Dalem Abdul Manaf.

Bangunannya model panggung yang 100 persen terbuat dari kayu. Di depannya terdapat semacam kolam kecil. Yang ingin masuk masjid bisa lebih dulu membersihkan kaki di situ.

Begitu pula jendelanya. Semua terbuat dari kayu. Masuk ke dalamnya terasa dingin sekali. Syafei menuturkan, selama Ramadan, Masjid Agung Kampung Mahmud rutin menghelat salat Tarawih, pengajian, buka bersama, tadarusan, salat Lailatul Qadar, dan iktikaf.

Meski banyak peziarah yang mengalir, pendapatan utama masyarakat bukanlah dari sana. Warga Kampung Mahmud yang tercatat mencapai lebih dari 1.200 kepala keluarga didominasi perajin kayu. Mereka membuat berbagai barang dari kayu, misalnya kursi. ”Jadi, kalau ke sini, selain wisata ziarah, bisa membeli produk kayu,” ujarnya. (*/syn/c19/ttg/jpg/sam)

Editor : uki-Berau Post
#feature