Jejak Syaikh Maulana Ishaq bertebaran di Kemantren. Mulai makam, masjid, sampai sumur yang ada kaitannya pula dengan sang putra, Sunan Giri. Menutup sore di tempat ini, bisa sambil menikmati senja memerah.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Lamongan
IKANNYA dijamin segar, lha wong warungnya saja di tepi pantai. Ada rasa asam dan pedas yang menemani kesegaran si kepala manyung.
Makannya sambil menghadap ke Pantai Kemantren, Kabupaten Lamongan, yang merupakan bagian dari deretan pantai utara di Jawa Timur, pula. Yang membaca ini dalam keadaan puasa, maaf kalau kemudian jadi mengharap azan Magrib segera berkumandang.
”Pastinya rasa ikan manyungnya masih fresh, di Surabaya kan jarang," ungkap Muhammad Rizki, pengunjung asal Surabaya, ketika ditemui di lokasi tersebut beberapa hari sebelum memasuki Ramadan (17/3).
Istimewanya lagi, itu semua cuma bonus. Karena sejatinya sajian utama di destinasi yang masuk wilayah Kecamatan Paciran tersebut adalah beragam jejak bersejarah Syaikh Maulana Ishaq.
Saat memasuki Ramadan memang tak seramai hari-hari sebelumnya ketika rombongan dari berbagai kota datang menggunakan mobil pribadi, pikap, sampai bus. Tapi, memasuki 10 hari terakhir, tempat di mana Syaikh Maulana Ishaq yang juga ayah Sunan Giri itu dimakamkan kembali hiruk.
Makam Syaikh Maulana Ishaq berada tepat di bibir Pantai Kemantren. Lokasinya pun berdekatan dengan Lamongan Shorebase. Sore hari, merahnya senja terlihat dengan jelas dari sana. Itu pula yang membuat para peziarah atau anak-anak muda pencari senja betah di tempat tersebut.
Syaikh Maulana Ishaq hidup di abad ke-14. Kedatangannya ke Kemantren adalah untuk melarikan diri dari ancaman yang dia terima di Blambangan, kerajaan di ujung timur Jawa tempat dia menikahi raja setempat Dewi Sekardadu setelah berhasil menyembuhkannya dari penyakit.
Revitalisasi kawasan tersebut telah beberapa kali dilakukan. Lorong peziarah menuju makam, misalnya, dibuat layaknya bangunan Jawa masa silam. Begitu juga bagian gapura yang menghadap laut.
Jejak Syaikh Maulana Ishaq di Kemantren sangat kuat. Selain makam dan masjid yang berada di sisi timurnya, sumur yang dipercaya dibuat oleh Syaikh Maulana Ishaq juga masih mengalir. Lokasinya persis di bawah masjid. Sumur ini airnya tawar. ”Padahal, dulu lokasinya dikelilingi laut," kata Sumarji, pengurus Makbaro Maulana Ishak.
Sumarji bercerita, masjid yang bernama Al Abror memang sudah direnovasi. Tapi, bangunan intinya yang berupa kayu jati yang merupakan legasi Syaikh Maulana Ishaq masih utuh.
Masjid tersebut dijuluki sebagai Masjid Tiban. Hal itu tidak terlepas dari cerita dari mulut ke mulut yang menyebut bangunan itu tiba-tiba muncul di pagi hari. ”Di Kemantren ada sembilan sumur, semuanya buatan wali," kata Sumarji.
Nama Raden Paku alias Sunan Giri juga berasal dari Kemantren. Persisnya ketika Syaikh Maulana Ishaq menancapkan tongkat untuk membuat sumur. Begitu juga lubang layaknya kedua kaki bayi pun ada.
Lubang itu dipercaya sebagai bekas kaki Sunan Giri sebelum dibuang ke laut dan ditemukan Nyi Ageng Pinatih. Dibuangnya Raden Paku ke laut itu juga karena ancaman dari Blambangan yang menyebut seluruh anak turun Syaikh Maulana Ishaq akan dibunuh.
Juru kunci makam Chusnaini menjelaskan, pengunjung bakal membeludak lagi saat menjelang Ramadan dan mendekati Lebaran. Mereka datang malam hari sambil bermunajat. ”Rata-rata kalau malam yang datang dari Lamongan sekitarnya," ucap pria yang sudah delapan tahun menjadi juru kunci itu.
Ketua Pokdarwis Sumber Makmur, Desa Kemantren, Paciran, Mohammad Khoirul Fatih mengatakan, kawasan makam Syaikh Maulana Ishaq tak hanya menyajikan pemandangan eksotis di sore hari. Tapi juga memberikan kenyamanan bagi peziarah.
Di antaranya, parkirnya luas dan fasilitas seperti toilet gratis. ”Ini yang berbeda dengan lokasi lainnya," ucap Fatih sembari menambahkan bahwa pengelolaan kawasan makam Syaikh Maulana Ishaq ditangani Makbaro Maulana Ishak, sedangkan parkirnya dikelola Bumdes.
Dan, tentunya ada iming-iming kuliner tadi yang dijajakan deretan warung UMKM di sisi utara destinasi wisata religi tersebut. Masakannya rata-rata khas kawasan pesisir seperti Paciran. Ada asem-asem kepala manyung, ada rajungan, ada pula mangut.
Bayangkan saja, setelah selesai berziarah dan bermunajat, mengakhirinya dengan menyantap kesegaran sajian laut. Sambil menghadap ke laut pula. (*/c9/ttg/jpg/sam)