Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

In Memoriam: Desmond Junaidi Mahesa (1965–2023), Sengaja Bertarung di Dapil Kaltim untuk Hindari Kampung Sendiri

izak-Indra Zakaria • 2023-06-27 13:37:10
Penulis saat bersama Desmond semasa hidup.
Penulis saat bersama Desmond semasa hidup.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Desmond Junaidi Mahesa wafat pada Sabtu (24/6). Bagi banyak orang, politikus yang lahir dan besar di sebuah kampung kecil di Kalimantan ini adalah panutan: bagaimana membangun karier politik dari bawah, hingga sukses menjadi tokoh nasional yang memberi warna demokrasi Indonesia.

 

ERWIN D NUGROHO, Balikpapan

 

MEMULAI karier politiknya sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2009–2014, Desmond Junaidi Mahesa memilih Kalimantan Timur sebagai dapil (daerah pemilihan) tempat dia bertarung memperebutkan kursi wakil rakyat di Senayan. Padahal, Desmond sendiri lahir dan besar di Kalimantan Selatan. “Maju jadi calon legislatif di kampung sendiri itu bebannya lebih berat. Orang kampung tahu kelakuan asli kita gimana. Kalau kalah juga kan malu. Hahaha…” kelakar Desmond kepada saya dalam suatu kesempatan.

Desmond sukses melenggang ke Senayan untuk periode pertama mewakili dapil Kaltim, setelah mengantongi 13.439 suara pada Pemilu Legislatif Tahun 2009. Pada Pemilu 2014, Desmond kembali maju sebagai caleg DPR RI, namun pindah ke dapil Banten II dan lolos. Dia mengulang suksesnya di dapil tersebut untuk periode ketiga di DPR RI, pada Pemilu 2019.

Saya sendiri sudah mengenal Desmond sebelum dia terjun ke politik praktis. Yakni sejak namanya ramai dibicarakan publik ketika menjadi kuasa hukum pengusaha Tommy Winata yang menggugat Majalah Tempo pada 2003.

Jauh sebelum itu, Desmond lebih dikenal sebagai aktivis pergerakan. Dia masuk dalam daftar tokoh pemuda pro-demokrasi yang diculik rezim Orde Baru pada 1998 bersama-sama sejumlah aktivis lain seperti Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam dan Andi Arief. Sejak kuliah di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat, Desmond aktif di senat mahasiswa dan berbagai organisasi lain. Seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kelompok Studi Islam (KSI). Setelah lulus studi hukum, dia aktif dalam program pelestarian hutan dan lingkungan kerjasama Indonesia-Jerman (GTZ), yang berbasis di Kaltim.

Desmond kemudian hijrah ke Pulau Jawa, bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Nusantara di Bandung (1996) dan LBH Jakarta (1998). Desmond juga tercatat aktif di Presidium Nasional Walhi (1995–1996), Konsorsium Pembaruan Agraria (1994), Forum Demokrasi (Fordem), dan SPIDE (Solidaritas Pemuda dan Mahasiswa untuk Perjuangan Demokrasi). Dia kemudian mendirikan Yayasan Dalas Hangit (Yadah) di Banjarmasin pada Mei 1998, beberapa waktu setelah dibebaskan oleh penculiknya (sejumlah aktivis lain, salah satunya Wiji Thukul, tetap dinyatakan hilang dan tak ditemukan sampai hari ini).

Usai peristiwa penculikan tersebut, nama Desmond semakin berkibar di Jakarta sebagai pengacara cum aktivis. Selain kasus gugatan Tommy Winata ke Majalah Tempo, Desmond menangani berbagai perkara hukum. Di antaranya, kasus Planet Bali, kasus Kartini di Uni Emirat Arab dan sengketa Bank CIC dengan Bank Kesawan. Tahun 2004, ketika pilkada langsung untuk pertama kalinya dilaksanakan di berbagai provinsi, kabupaten dan kota, Desmond “pulang kampung” ke Banjarmasin. Dia menggelar jumpa pers dan menyatakan diri siap maju dalam pilkada gubernur.

Secara khusus dia menjumpai saya yang saat itu bekerja di Harian Radar Banjarmasin sebagai pemimpin redaksi. “Kau bantu aku ya. Serius ini,” ujar Desmond. Umurnya baru 39 tahun saat itu. Tidak punya perahu politik untuk maju sebagai calon gubernur. Modal utamanya adalah nama harum sebagai aktivis dan “jaringan modal” yang menurutnya cukup besar dari para bohir, yang kebanyakan adalah klien dari kantor pengacara TREAD’S & Associate yang didirikannya di Jakarta. “Kita buktikan, bisa jadi gubernur dari jalur non-partai politik,” katanya. Semangatnya tinggi. Bicaranya berapi-api.

Keinginan maju dalam Pilkada Gubernur Kalsel itu kandas di tengah jalan. Alasan resminya karena tak dapat perahu. Namun, dalam suatu pertemuan informal dengan sejumlah kawan di kediamannya di Desa Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalsel, Desmond terang-terangan bilang bahwa dia memilih mundur dari kontestasi pilkada karena ada “tawaran yang lebih menarik” dari lawan politiknya. Adapun proses yang telah dia jalani selama persiapan maju sebagai calon gubernur itu dijadikannya pengalaman untuk lebih serius lagi menceburkan diri ke politik praktis di kemudian hari.

Benar saja. Setelah proses belajar berpolitik di Pilkada 2004, Pemilu 2009 menjadi awal mula Desmond terjun sepenuhnya ke dunia politik. Dia bergabung dalam Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang didirikan pada 2008 oleh Prabowo Subianto, purnawirawan jenderal TNI, komandan Kopassus pada masa Orde Baru yang disebut sebagai tokoh paling bertanggung jawab dalam peristiwa penculikan aktivis 1998, di mana Desmond merupakan salah seorang korbannya.

“Pada akhirnya, hidup ini adalah pilihan. Kita yang harus memilih mau menjadi apa dan dengan cara seperti apa. Begitu juga dalam politik,” kata Desmond saat saya tanyakan alasannya memilih bergabung ke Gerindra. Di partai tersebut Desmond diberi peran besar mengurus kaderisasi anggota. Bidang yang sangat cocok dengan pengalamannya selama bertahun-tahun membina aktivis-aktivis lingkungan dan pro-demokrasi.

Di Gerindra Desmond juga mendapat semacam privilege untuk memilih maju sebagai calon legislatif dari dapil mana. “Aku pilih maju di Kaltim. Jaringan sudah ada, banyak kawan bisa dimintai bantuan. Kalaupun ternyata aku kalah, kada supan (tidak malu) karena bukan kalah di kampung sendiri,” katanya saat itu.

Hasilnya, Desmond berhasil membawa Gerindra yang merupakan partai pendatang baru mendapat 1 kursi di Senayan dari dapil Kaltim. Sementara di Kalsel, calon dari Gerindra tak ada yang lolos.

Setelah terpilih dan selesai menjabat satu periode (2009–2014) di DPR RI, Desmond pindah dapil ke Banten II. Saya bertanya, kenapa kok tidak maju dari Kaltim lagi? “Bahaya, bisa-bisa tidak ada yang mau memilih aku lagi, karena selama mewakili dapil Kaltim rasanya tidak maksimal membela Kaltim,” jawabnya, santai. Sebenarnya bukan tanpa alasan Desmond tak maksimal saat menjadi wakil rakyat dapil Kaltim. Tak banyak yang tahu bahwa pada periode pertama di DPR inilah Desmond mengalami sakit parah sampai gagal ginjal.

Tahun 2011–2012, dia harus istirahat total dan keluar masuk rumah sakit, setelah menjalani operasi transplantasi ginjal di Tiongkok. Ini membuatnya jarang bertemu konstituen di Kaltim. “Alhamdulillah dikasih bonus umur oleh Allah SWT, tidak boleh disia-siakan. Harus terus berbuat baik,” katanya suatu ketika.

Meski mengakui tidak cukup maksimal membela Kaltim pada periode pertamanya di DPR, Desmond tetap dikenal sebagai wakil rakyat yang sangat kritis dan vokal dalam bersuara, terutama untuk isu-isu hukum sesuai tugasnya di Komisi III. Dia bahkan kerap teguh dengan pendirian dan sikapnya, meski harus berseberangan dengan sikap politik fraksi atau partai.

Sebagai wakil ketua komisi, Desmond sering viral di media sosial karena ketegasannya saat memimpin rapat. Viral yang terbaru ketika Desmond memimpin rapat dengar pendapat dengan Polda Metro Jaya, terkait dualisme kepengurusan apartemen Graha Cempaka Mas Jakarta. Desmond tak segan menegur para pejabat Polri yang hadir di rapat tersebut dan mengingatkan agar polisi tidak berpihak atau terlibat terlalu jauh dalam mengurus perkara hukum yang sebenarnya bukan perkara pidana.

Menjadi tokoh berpengaruh di Senayan dan sering memimpin rapat-rapat penting membahas isu hukum, HAM dan keamanan di DPR, tak membuat Desmond berubah. Dia tetap anak kampung dari Kalimantan yang tampil bersahaja. Kawan diskusi dan lawan debat yang sangat menyenangkan. Secara rutin Desmond mengumpulkan sahabat-sahabatnya, baik di kediamannya di Kalsel maupun di Jakarta, untuk berdiskusi.

Karena kantor saya di Kebayoran Lama Jakarta berdekatan dengan kantor Desmond di Gedung Senayan, kami paling sering berjumpa di kawasan Senayan untuk sekadar ngopi dan berdiskusi. Desmond juga kerap mengundang kawan lain dari Kalimantan yang kebetulan sedang berada di Jakarta untuk bergabung. Bukan sekadar memberi pencerahan dan motivasi, dengan jaringannya yang luas, Desmond memfasilitasi banyak sahabatnya untuk mendapat solusi atas berbagai masalah. Bagi orang-orang yang mengenalnya, boleh jadi dia adalah nama yang selalu muncul di urutan teratas yang akan diminta bantuan untuk banyak urusan di Jakarta. Desmond selalu dengan ringan hati memberikan dukungan.

Di antara banyak sekali pertemuan, kami tak jarang membincangkan juga tema keluarga. Dari pola pengasuhan hingga pendidikan untuk anak. Desmond sering dengan bangga menceritakan perkembangan kedua anaknya, Annisa Maharani dan Hijaz Putra, dari pilihan sekolah hingga kuliah. “Hijaz itu tingginya sudah seperti kamu, Win. Bahasa Inggrisnya sudah cas cis cus,” katanya. Sahabat datang dan pergi. Sabtu (24/6), Desmond Junaidi Mahesa, terlahir 57 tahun lalu dengan nama Junaidi bin Muchtar, dimakamkan di Al Azhar Memorial Garden, Karawang, Jawa Barat.

Ratusan papan bunga dikirim rekan dan kolega, memenuhi sepanjang jalan menuju rumah duka di Jakarta Selatan. Berbagai ucapan belasungkawa disampaikan orang-orang melalui media sosial, dengan kesaksian bahwa yang baru saja pergi ini adalah orang baik. Anak dari kampung kecil di Kalimantan yang akan terus dikenang sejarah atas perannya mewarnai demokrasi Indonesia. (riz/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria