Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Akibat Wabah Feline Coronavirus, Siprus Berpotensi jadi Pulau Kucing Mati

izak-Indra Zakaria • 2023-07-15 11:33:04
ilustrasi
ilustrasi

 Kucing menjadi salah satu pilihan mayoritas orang untuk memelihara hewan. Bukan hanya karena lucu, sifatnya yang unik dan selalu ingin dimanja membuat pemilik seperti mengasuh seorang anak.

Tapi, apa jadinya jika para ahli memperingatkan bahwa di tempat tinggal Anda akan ada banyak kucing terancam mati akibat virus yang menjangkiti hewan lucu tersebut?
 
Dikutip dari Dailymail, wabah virus bernama feline infectious peritonitis (FIP) atau feline coronavirus yang merebak di Siprus membuat negara kepulauan ini berpotensi menjadi pulau kucing mati. Ini setelah para ahli menyebutkan bahwa setidaknya sudah 300.000 kucing mati karena wabah yang juga disebut FCov tersebut.
Baik kucing liar maupun kucing peliharaan telah terbunuh oleh penyakit ini. Sejak bulan Januari, para ahli telah memperingatkan bahwa banyak kucing dapat mati jika virus yang beredar di Siprus ini tersebar sampai ke Inggris.

"Dokter hewan setempat telah melaporkan peningkatan kasus FIP yang mengkhawatirkan, yang dimulai di ibu kota Nicosia pada bulan Januari dan menyebar ke seluruh pulau dalam waktu tiga sampai empat bulan," kata Demetris Epaminondas, wakil presiden Asosiasi Dokter Hewan Pancyprian.
Dalam sebuah blog baru-baru ini, ia menambahkan bahwa gejala FIP meliputi demam, pembengkakan perut, kehilangan energi, dan terkadang membuat kucing bersikap agresif satu sama lain. Virus ini umumnya menyerang anak kucing dan kucing muda.

Prof Danièlle Gunn-Moore, seorang spesialis kedokteran kucing di University of Edinburgh, mengatakan kepada Telegraph bahwa wabah sebesar ini tidak pernah tercatat dalam sejarah. Meningkatnya laporan tentang kucing yang mati di jalanan membuat ada kecurigaan bahwa ini mungkin merupakan jenis FIP baru yang lebih mematikan. Tes sedang dilakukan untuk memastikan hal ini.
Ia menambahkan bahwa pemerintah setempat telah membentuk tim penasihat, meluncurkan kampanye kesadaran media dan bekerja untuk mengubah undang-undang untuk mengizinkan penggunaan obat-obatan untuk mengobati kucing. Tetapi menekankan bahwa tidak ada kucing yang boleh meninggalkan negara itu tanpa hasil tes negatif.

"Sudah ada beberapa bukti meskipun masih bersifat anekdot. Bahwa virus ini mungkin sudah ada di Turki, Lebanon dan kemungkinan di Israel. Jika virus ini sampai ke Inggris, hal itu dapat menyebabkan banyak kucing kita mati. Ini akan sangat memilukan. Kita harus menanggapinya dengan serius."

"Kami telah kehilangan 300.000 kucing sejak Januari [akibat FIP]," kata Dinos Ayiomamitis, kepala Cats PAWS Siprus dan wakil presiden Cyprus Voice for Animals, kepada Agence France Presse. Populasi kucing di pulau ini diperkirakan mencapai sekitar satu juta ekor.Ia mengatakan bahwa salah satu tantangan dalam menghitung kasus adalah, dengan banyaknya kucing liar yang hidup di Siprus, mendiagnosa dan mendokumentasikan setiap infeksi hampir tidak mungkin dilakukan.

Dr Epaminondas mengatakan bahwa, "Satu-satunya cara untuk menghentikan penyakit ini adalah dengan pengobatan medis". Namun hal ini juga terbukti sulit.

Para ahli ingin mulai menggunakan dua pengobatan pada kucing-kucing tersebut, tetapi tantangan birokrasi dan biaya sejauh ini menghambat kemajuan.
Jika kucing Anda menunjukkan gejala-gejala seperti demam, pembengkakan perut, kehilangan energi, dan terkadang bahkan perilaku agresif, para ahli menyarankan untuk segera membawanya ke dokter hewan. Anak kucing dan mereka yang berusia di bawah dua tahun adalah yang paling berisiko.

Di Inggris, antivirus yang digunakan untuk mengobati virus Corona adalah remdesivir. Obat yang terkait erat dengan GS-441524 juga telah disetujui untuk digunakan pada kucing dengan FIP.

Dokter hewan mengatakan bahwa pengobatan "standar emas" adalah infus remdesivir selama tiga hingga empat hari, diikuti dengan suntikan obat hingga dua minggu. GS-441524 oral kemudian digunakan untuk menghindari penyakit timbul lagi total pengobatan memakan waktu sekitar 12 minggu. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria