Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pasokan Air Baku di Samarinda Hanya Cukup Satu Pekan

izak-Indra Zakaria • 2023-08-03 21:00:00
Waduk Manggar yang ketersediaan air bakunya terus menipis. Demikian juga di Samarinda.
Waduk Manggar yang ketersediaan air bakunya terus menipis. Demikian juga di Samarinda.

Prakiraan curah hujan bulanan BMKG menunjukkan, sebagai besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan bulanan kategori rendah. Bahkan, sebagian lainnya mengalami kondisi tanpa hujan sama sekali hingga Oktober nanti.

 

SAMARINDA–Dampak fenomena el nino yang mengakibatkan musim kemarau lebih panjang dari biasanya, mulai terasa. Di Kaltim, selain ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kondisi air baku yang akan didistribusikan ke warga mulai mengkhawatirkan. Di Samarinda, volume air Waduk Benanga dari hari ke hari terus mengering. Penurunan debit air begitu signifikan.

Selama ini, waduk yang berlokasi di Kecamatan Samarinda Utara itu, dimanfaatkan sebagai pengendali banjir, irigasi pertanian, dan air baku. Kepada Kaltim Post, Kepala Unit Pelaksana Bendungan (UPB) Bendungan Lempake Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Teguh Indartono mengatakan, normalnya, tinggi muka air (TMA) Waduk Benanga 7,5 meter. Tapi kini hanya sekitar 7,05 meter. Kondisi itu jelas berdampak pada sektor pertanian di Samarinda dan Perumdam Tirta Kencana yang mengandalkan pasokan air baku untuk warga Samarinda dari waduk tersebut.

Dia melanjutkan, untuk sementara, ketinggian air untuk kebutuhan air baku masih relatif aman. Tapi jika dalam beberapa hari ini hujan tidak turun di area Waduk Benanga, maka stok air hanya bertahan hingga satu pekan ke depan. Selanjutnya, pihaknya tidak bisa menjamin. Itu karena Waduk Benanga merupakan waduk tadah hujan sehingga volumenya sangat bergantung pada hujan. “Debit air juga turun terus imbas satu minggu lebih tidak hujan,” ujarnya.

Mengatasi krisis air baku, pihaknya kini menyiapkan opsi pembagian air untuk kebutuhan air baku dan irigasi pertanian. “PDAM (Perumdam Tirta Kencana Samarinda) per hari ambil 170 liter per detik. Ini juga berbagi dengan irigasi pertanian. Sementara pintu bendungan kami tutup mengamankan air baku. Kalau malam baru untuk irigasi,” katanya. Kebijakan itu, sambung dia, berdasarkan kesepakatan petani di wilayah hilir waduk.

“Mereka (petani) juga kena imbas, terlebih saat ini mereka memasuki masa tanam, perlu air lebih banyak,” sambungnya. Dia pun mengimbau kepada masyarakat untuk menghemat air dan bersiap menghadapi kondisi kekeringan. Pihaknya terus berupaya mengoptimalkan petugas di bendungan untuk membuka dan menutup pintu sesuai kebutuhan. “Kami berharap ini bisa segera teratasi,” tuturnya.

Menurutnya, debit air Waduk Benanga juga dipengaruhi tinggi muka air Sungai Pampang Kiri, Sungai Pampang Kanan dan Sungai Lantung, yang juga mengalami penurunan volume. “Harapan kami di wilayah hulu, yakni kelurahan Budaya Pampang hingga Desa Badak Mekar, Kecamatan Muara Badak, Kukar hujan. Sehingga limpahan Benanga juga kembali normal,” harapnya.

Untuk diketahui, luas genangan Waduk Benanga saat ini hanya sekitar 135 hektare. Luasnya terus berkurang akibat alih fungsi daerah tangkapan di Sub-DAS Karang Mumus. Disebabkan kegiatan pertambangan batu bara, budi daya pertanian, pembukaan lahan untuk permukiman, dan lainnya yang menyebabkan tutupan lahan berkurang dan erosi tanah meningkat. Hal ini juga meningkatkan sedimentasi dan pendangkalan waduk.

“Kami juga sedang usulkan untuk melakukan pengerukan sedimentasi sebagai upaya peningkatan luas area tangkapan. Namun karena sudah memasuki akhir tahun, masih sebatas pembicaraan. Ini berkaitan dengan anggaran juga,” ujarnya. Selain Samarinda, Perumda Tirta Mahakam Kukar mulai menyiapkan skema menghadapi kemarau. Dalam keterangannya, manajemen Perumda Tirta Mahakam Cabang Anggana, mengimbau pelanggan agar menampung air. Akibat intrusi air laut, operasional instalasi pengolahan air (IPA) dan distribusi air baku dihentikan mendadak. “Wilayah terdampak, seluruh wilayah pelayanan Perumda Tirta Mahakam Cabang Anggana,” demikian keterangan resmi manajemen Perumda Tirta Mahakam Kukar.

Hal serupa terjadi di Balikpapan. Waduk Manggar yang menjadi tulang punggung sumber air minum, volumenya kini juga terus menyusut. Kepada Kaltim Post, Senin (31/7) lalu, Direktur Air Limbah Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) Anang Fadliansyah menyampaikan, ketinggian debit air Waduk Manggar saat ini sudah di bawah level normal. Itu dipicu karena sejak awal musim kemarau, tidak turun hujan untuk menggenangi Waduk Manggar.

Jika kondisi ini terus berlangsung, maka tidak menutup kemungkinan volume air terus berkurang dan membuat waduk mengering seperti tahun 2014. Jika hal itu terjadi, memaksa PDAM Tirta Manggar (sebelum berubah entitas menjadi PTMB) melakukan penggiliran distribusi air bersih kepada pelanggannya. “Bisa jadi, terulang kembali. Apalagi enggak ada hujan seperti ini. Dari normalnya 10,3 meter. Sudah turun 60 sentimeter,” ujar Anang. Kini, ketinggian volume air Waduk Manggar berada pada 9,7 meter.

 

Sampai Akhir Tahun Pemerintah Pastikan Stok Aman

 

Dari Jakarta, Presiden Joko Widodo kemarin menggelar rapat terbatas (ratas) dengan para menterinya khusus membahas soal sediaan beras dalam negeri. El nino yang akan terjadi pada waktu dekat dikhawatirkan akan memberikan dampak pada ketersediaan beras dalam negeri. Belum lagi India menghentikan ekspor beras. Seusai rapat, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut rapat ini dihelat karena kepala negara ingin mengecek ketersediaan dan keterjangkauan beras dalam negeri. Dari data yang dimiliki pemerintah, hingga Desember nanti cadangan beras masih aman. Namun Kementan telah mengkurasi. “Sampai September kita masih punya over stok 2,1 juta ton beras,” bebernya.

 

Setiap bulan, dari 800 ribu hektare sawah akan menghasilkan 2 juta ton beras. Ini menurutnya cukup untuk memenuhi konsumsi bulanan Tanah Air. Justru yang dikhawatirkan pada Oktober hingga Desember. Syahrul menyebut tiga bulan ini masa-masa menanam. Sehingga cadangan bisa turun. Dalam ratas itu, Jokowi sempat menanyakan ke para menterinya terhadap dampak paling buruk dari el nino. Fenomena alam ini membuat curah hujan sedikit dan risiko kekeringan. Sehingga pasti menyebabkan produktivitas hasil pertanian menurun. “Kami akan siapkan 500 ribu hektare untuk antisipasi el nino,” ucapnya. Dia juga memastikan ketersediaan air di dam dan waduk besar bisa memenuhi pertanian. Syahrul optimistis jika persediaan air cukup. “Dam-dam besar itu bisa bertahan sampai enam bulan tanpa hujan pun,” ucapnya.

 

Menurut perkiraan, dampak el nino ini akan berimbas bisa mengurangi beras hingga 300 ribu ton sampai 1,2 ton. Kekurangan produksi ini akan disiasati oleh Kementan. Syahrul juga baru kunjungan ke beberapa daerah untuk melihat kesiapan lahan guna ditanami padi untuk persediaan dampak el nino. “Mulai Sumatra Utara, Sumatra Selatan, tiga daerah Jawa, dan ditambah Sulawesi Selatan,” ujarnya. Lalu Kalimantan Selatan, NTB, Banten, dan Lampung disiapkan sebagai daerah penyangga. Kepala Bulog Budi Waseso yang ditemui seusai ratas menyebut lembaganya miliki stok 1,3 juta ton beras.  Untuk mencukupi, Buwas menyebut akan mendatangkan beras dari beberapa negara. Lelang sudah dilakukan dan tinggal menunggu barang. Dia menyebut, impor beras akan datang paling terakhir pada 4 Desember nanti. “Karena harus pakai kapal,” katanya.

 

Pada bagian lain, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) A Fachri Rajab mengatakan, di Indonesia, el nino memberikan dampak pada kondisi lebih kering sehingga curah hujan berkurang, tutupan awan berkurang, dan suhu meningkat. BMKG memprediksi puncak dampak el nino akan terjadi pada Agustus–September 2023 mendatang. Berdasarkan hasil monitoring hingga pertengahan Juli 2023, sebanyak 63 persen dari zona musim telah memasuki musim kemarau. BMKG memprediksi kemarau tahun ini akan lebih kering dari normalnya–juga lebih kering dari tiga tahun sebelumnya.

 

Beberapa daerah yang akan terdampak cukup kuat adalah sebagian besar wilayah Sumatra seperti Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Bengkulu, Lampung. Seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara diprediksi memiliki curah hujan paling rendah dan berpotensi mengalami musim kering yang ekstrem. Adapun sektor yang paling terdampak dari fenomena el nino adalah sektor pertanian–utamanya tanaman pangan semusim yang sangat mengandalkan air. Rendahnya curah hujan tentunya akan mengakibatkan lahan pertanian kekeringan dan dikhawatirkan akan mengalami gagal panen.

 

Karena itu, BMKG mendorong pemerintah daerah–khususnya bagi daerah yang diprediksi terdampak serius–untuk melakukan langkah mitigasi dan aksi kesiapsiagaan secepat mungkin. Caranya, melakukan gerakan panen hujan, memasifkan gerakan hemat air, dan menyiapkan tempat cadangan air untuk puncak kemarau.

 

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menjelaskan, BNPB telah menyiapkan dua langkah untuk menghadapi kekeringan akibat el nino. Pertama, mengimbau daerah untuk memastikan ketersediaan air di wilayah–khususnya di daerah yang diprediksi akan mengalami kekeringan cukup signifikan. Mitigasi yang dilakukan ialah memastikan ketersediaan air dengan cara menampung air hujan yang saat ini masih terjadi. Pun, BNPB bekerja sama dengan BMKG dan BRIN juga telah melakukan rekayasa menurunkan hujan melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengairi danau, embung, sungai, dan sumur.

 "Kami juga membuat sumur bor baru sehingga apabila kekeringan datang dengan lebih besar dan dahsyat air ini bisa digunakan masyarakat," kata Suharyanto. Langkah kedua, mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BNPB telah melakukan apel kesiapan dan kesiapsiagaan di enam provinsi prioritas rawan karhutla seperti Sumsel, Riau, Jambi, Kalbar, Kalsel, dan Kalteng. Saat ini pasukan darat sudah melakukan kesiapsiagaan dan pembaruan alat untuk melakukan operasi pemadaman. "Jika kebakaran membesar, BNPB sudah menyiapkan 31 helikopter untuk melakukan water bombing," kata Suharyanto. (lyn/jpg/riz/k8)

 

DENNY SAPUTRA

@dennysaputra46

Editor : izak-Indra Zakaria