Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Suka Duka Jadi Petugas Damkar, Sering Dicaci, Masker Dipakai Bergantian

izak-Indra Zakaria • 2023-09-30 12:06:08
TANGKAP ULAR: Petugas damkar selalu siaga melakukan tugas penyelamatan meski minim peralatan.
TANGKAP ULAR: Petugas damkar selalu siaga melakukan tugas penyelamatan meski minim peralatan.

Polly Rachman berbagi pengalaman. Komandan regu di Posko I Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Samarinda ini menceritakan suka duka menjalankan tugas mulia.

 

DINAS Damkar sekarang tidak hanya mengurusi kebakaran. Mereka juga mengemban tugas penyelamatan dan perlindungan masyarakat. Seperti menangkap buaya, ular, biawak, bahkan hewan dilindungi jika membahayakan.

“Potong cincin yang tidak bisa dilepas, menyelamatkan kucing dan hewan lainnya yang terjebak di atas pohon, di loteng dan gorong-gorong, semua kami kerjakan,” ungkap Polly Rachman kepada wartawan media ini kemarin.

Polly mengaku sering menerima laporan untuk segera me-rescue binatang liar yang berbahaya. “Paling sering ular dan biawak karena habitatnya juga banyak dekat permukiman warga,” jelasnya.

Setelah menjalankan misi penyelamatan itu, timnya akan melepaskan hewan itu ke alam liar yang jauh dari permukiman. Kadang juga bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). “Akhir-akhir ini banyak laporan untuk penyelamatan tawon,” jelasnya.

Bagi damkar, kata dia, tidak ada yang lebih penting ketimbang penyelamatan. Tak ada laporan yang dianggap remeh. “Kami tetap menanggapi apapun itu laporannya. Akan kami kerjakan dengan baik,” kata Polly.

Baru-baru ini dirinya melakukan tugas penyelamatan. Seorang anak lelaki berumur sekitar 8-9 tahun mencoba celana barunya di sebuah tenant di mal. Ritsleting celana yang hendak dibeli tersebut menjepit sebagian kecil kulit penisnya.

Orangtua si anak panik. Alih-alih membawa ke fasilitas kesehatan terdekat, mereka malah mendatangi posko 1 damkar. “Jadi, kami potong celana baru tersebut sampai hanya menyisakan resletingnya saja,” katanya.

Pada saat itu, anak tersebut dalam keadaan menangis kesakitan. Namun, dengan segenap tanggung jawab yang diembannya dan keyakinan, Polly berhasil menyelamatkan penis anak tersebut. “Itu menjadi pengalaman unik buat saya,” tambahnya.

Menjadi ujung tombak penyelamatan, ternyata para petugas damkar mengalami banyak suka dan duka. Tidak jarang ketika berada dalam misi memadamkan api, petugas damkar dicaci maki warga karena datang terlambat.

Padahal, mereka sudah berusaha cepat dan sigap. Namun, dalam proses itu banyak faktor jadi hambatan. Polly menirukan cacian yang sering didengarnya dari warga. “Dibilang pemadam ini sudah makan gaji buta, datang terlambat lagi. Ada juga bilang, damkar ini kalau tidak ada kebakaran, tidak ada kerjaannya,” kata Polly, seraya menyebut semua itu diterimanya dengan lapang dada.

Ia berharap ke depan kesejahteraan para petugas damkar diperhatikan. Begitu juga dengan peralatan yang digunakan. “Ketersediaan fasilitas masih 50 persen, masih banyak yang belum terpenuhi,” ungkapnya.

“APD (alat pelindung diri) jumlahnya sangat minim. Contoh kecil saja, kami diberikan masker full face itu hanya tiga unit sedangkan yang memakai 18 orang. Kami pakai secara bergantian,” tambahnya.

Ketersediaan APD untuk misi penyelamatan merupakan hal paling krusial dalam penyelamatan. “Harapannya petugas damkar dapat disejahterakan dari ujung rambut sampai ujung kaki,” pungkasnya. (kri/k16)

 

NASYA RAHAYA

Charmycaramel0122@gmail.com

 

Editor : izak-Indra Zakaria