Pada Sabtu dini hari (7/10) kelompok militan Hamas, yang menguasai di jalur Gaza melakukan serangan dimana itu belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel. Israel lengah di hari libur besar, Hamas menembakkan ribuan roket dan puluhan para kelompok militan tersebut menyusup ke perbatasan yang dibentengi dengan ketat di beberapa lokasi melalui udara, darat, serta laut yang menewaskan 22 orang.
Enam jam setelah invasi dimulai, para militan Hamas masih bertempur dalam baku tembak di dalam beberapa komunitas Israel yang dikejutkan dan mengguncang negara tersebut. Media sosial dipenuhi dengan video-video para pejuang Hamas sedang mengarak kendaraan militer Israel, yang dicuri di jalan-jalan. Terlihat ada satu tentara Israel yang tewas di Gaza diseret dan diinjak-injak oleh kerumunan orang Palestina, yang marah sambil meneriakkan "Tuhan Maha Besar."
Dikutip dari New York Post, pihak militer Israel menolak untuk memberikan rincian tentang korban atau penculikan karena mereka terus memerangi para penyusup. "Kita sedang berperang," kata Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi, yang mengumumkan mobilisasi besar-besaran cadangan tentara negara.
"Musuh akan membayar harga yang belum pernah dibayangkan sebelumnya," tambahnya, seraya berjanji bahwa Israel akan membalas tembakan dengan kekuatan yang belum pernah diketahui oleh musuh. Penyerangan serius pada Simchat Torah (hari raya Yahudi), hari yang biasanya penuh sukacita ketika orang-orang Yahudi menyelesaikan siklus tahunan membaca gulungan Taurat.
Menghidupkan kembali kenangan menyakitkan tentang perang Timur Tengah tahun 1973 yang terjadi 50 tahun lalu, ketika musuh-musuh Israel melancarkan serangan mendadak pada Yom Kippur, hari tersuci dalam kalender agama Yahudi. Perbandingan dengan salah satu momen paling traumatis dalam sejarah Israel ini, mempertajam kritik terhadap Netanyahu dan sekutu-sekutu sayap kanannya. Mereka dianggap telah mengkampanyekan untuk tindakan yang lebih agresif dalam melawan ancaman dari Gaza.
Para pengamat politik mengecam pemerintah atas kegagalannya dalam mengantisipasi serangan Hamas, yang tidak terlihat dalam perencanaan dan koordinasinya.
Dinas penyelamatan Israel, Magen David Adom, melaporkan sedikitnya 22 orang tewas, termasuk seorang wanita berusia 60-an tahun yang terbunuh saat sebuah roket yang ditembakkan dari Gaza menghantamnya secara langsung, sedangkan dua korban lainnya berada dalam kondisi serius.
Ada laporan mengenai lebih banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak, namun dari pihak berwenang masih belum merilis rinciannya. Media Israel melaporkan bahwa puluhan orang dirawat di rumah sakit di Israel selatan.
Militer Israel menyerang sejumlah titik di Gaza, sebagai tanggapan atas kurang lebih 2.500 roket yang membuat sirine serangan udara berbunyi terus menerus hingga ke utara Tel Aviv dan Yerusalem, sekitar 50 mil jauhnya. Militer Israel mengatakan bahwa pasukannya terlibat dalam baku tembak dengan militan Hamas yang telah menyusup ke Israel, di setidaknya tujuh lokasi. Para pejuang telah menyelinap melintasi pagar pemisah dan bahkan menginvasi Israel melalui udara dengan paralayang dan laut, kata seorang tentara.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan, adanya korban luka-luka di antara banyak warga tanpa menyebutkan angkanya. Serta pengeras suara di masjid-masjid Palestina menyiarkan doa berkabung, untuk para militan yang terbunuh. Pemimpin bayangan sayap militer Hamas, Mohammed Deif, mengumumkan dimulainya apa yang disebutnya sebagai "Operasi Badai Al-Aqsa."
"Cukup sudah. Hari ini rakyat mendapatkan kembali revolusi mereka," kata Deif, yang tidak muncul di depan umum, dalam pesan yang direkam saat ia menyerukan kepada warga Palestina dari Yerusalem Timur hingga Israel Utara untuk bergabung dalam perjuangan. Dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant memperingatkan bahwa Hamas telah melakukan kesalahan besar dan berjanji bahwa negara mereka akan memenangkan perang ini.
Serangan ini terjadi, pada saat adanya perpecahan bersejarah di dalam Israel terkait usulan Netanyahu untuk merombak sistem peradilan.
Protes massal atas rencana tersebut telah membuat ratusan ribu demonstran Israel turun ke jalan, dan mendorong ratusan tentara cadangan untuk menghindari wajib militer secara sukarela.Gejolak tersebut telah menimbulkan kekhawatiran akan kesiapan militer di medan perang, dan meningkatkan kekhawatiran akan daya tangkal mereka terhadap musuh-musuhnya.
Serangan para pejuang ke Israel Selatan menandai pencapaian besar dan eskalasi oleh Hamas. Dimana secara tidak langsung, Hamas memaksa jutaan warga Israel untuk meringkuk di ruangan-ruangan yang aman, berlindung dari ledakan roket dan baku tembak yang sedang berlangsung.Kota-kota besar dan kecil dikosongkan, karena militer menutup jalan-jalan di dekat Gaza. Dinas penyelamatan Israel dan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengimbau masyarakat untuk mendonorkan darah.
"Kami memahami bahwa ini adalah sesuatu yang besar," ujar Letnan Kolonel Richard Hecht, juru bicara militer Israel, kepada para wartawan.Ia mengatakan bahwa militer Israel telah memanggil pasukan cadangan. Namun Hecht menolak berkomentar tentang bagaimana Hamas berhasil membuat tentara lengah.
Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas yang berada di pengasingan mengatakan, bahwa para pejuang Palestina terlibat dalam momen-momen bersejarah ini dalam sebuah operasi heroik untuk mempertahankan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, dan ribuan tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel. Eskalasi ini terjadi setelah berminggu-minggu ketegangan yang meningkat di sepanjang perbatasan Israel yang bergejolak dengan Gaza, dan pertempuran sengit di Tepi Barat yang diduduki Israel. (jpc)