Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tradisi Massorong Suku Pattae, Belajar Hidup dari Alam

izak-Indra Zakaria • 2023-10-17 09:43:09
BUDAYA: Tradisi massorong suku Pattae masih terus dilestarikan di Kampung Bawis, Berbas Pantai, Bontang.
BUDAYA: Tradisi massorong suku Pattae masih terus dilestarikan di Kampung Bawis, Berbas Pantai, Bontang.

DERU mesin perahu terdengar samar. Mata seorang pria paruh baya menatap jauh ke lahan bakau. Air laut mulai surut, sementara ratusan pasang mata mendamba puluhan perahu berlomba-lomba membelah laut.

Ada tradisi yang lahir di tengah masyarakat suku Pattae. Salah satu etnis yang berasal dari wilayah barat Pulau Sulawesi, yakni Kabupaten Polewali Mandar. Tradisi yang terus hidup turun-temurun itu disebut massorong (persembahan).

Tradisi itu dibawa masyarakat suku Pattae ke manapun dan di manapun mereka berada. Sama halnya dengan sekitar 400 warga suku Pattae yang menggantungkan hidupnya di pesisir Bontang. Mayoritas penduduknya melaut dan mencari ikan.

Massorong menjadi tradisi perwujudan rasa syukur atas hasil alam dari bumi yang selama ini dipijak. Mereka hidup dari hasil laut. Berteman dengan gelombang yang datang, membawa gerombolan ikan yang berenang di bawah perahu. Hamparan laut menjadi ladang penghidupan.

Segala rasa syukur dan keyakinan itu membulat, dan massorong menjadi bentuk pengingat atas kebaikan alam. “Puluhan tahun saya hidup di Bontang dan tradisi ini masih dilestarikan hingga sekarang,” tutur Abdul Gani, tokoh masyarakat suku Pattae.

Pria paruh baya itu mengisahkan massorong, bukan sekadar warisan nenek moyang, tapi juga pelajaran hidup. Dalam tradisi massorong, masyarakat melarung sejumlah makanan di laut. Menyajikan soqqo, yaitu ketan putih, hitam, dan kuning lalu diberi telur di atasnya. Hal itu memiliki makna yang dibawa dari keyakinan.

Ia menjelaskan, ketiga warna ketan itu melambangkan hati, jantung, dan paru-paru, serta lebih menyiratkan makna secara lahiriah. Bila ketiga organ tersebut rusak, tidak ada hidup. Mengingatkan untuk hidup apa adanya, bertanggung jawab atas hidup yang dijalani, dan menerima nasib yang telah ditetapkan.

Jika dikaitkan dengan spiritual, sebelum lahir ke dunia, manusia telah diperlihatkan bagaimana hidupnya. Telah diciptakan sesuai nasibnya, sehingga menjalani hidup sepenuhnya didasarkan pada apa yang telah diberikan Tuhan.

Adapun massorong dilakukan dua kali dalam satu tahun. Pada awal tahun, massorong ditujukan untuk harapan agar menjadi lebih baik. Sementara di akhir tahun, massorong mengingatkan apa saja yang telah terjadi dalam satu tahun terakhir, sebagai bentuk evaluasi diri dalam situasi yang telah dihadapi.

Kendati begitu, makanan yang telah dilarung ke laut masih dapat dicicipi oleh masyarakat setelah ritual selesai. Hal itu sekaligus menjawab pertanyaan soal mubazir. Namun tidak boleh dibawa pulang ke rumah, melainkan hanya boleh disantap di laut.

“Itulah mengapa disebut berpesta dengan alam semesta,” lanjut dia seraya tersenyum.

Suku Pattae percaya bahwa segalanya lahir dari alam. Adanya air, tanah, udara, dan matahari menjadi pendamping manusia. Apa yang tersedia di alam, dinikmati pula oleh manusia.

Ia mengibaratkan rerumputan yang dapat hidup dan terus tumbuh meski telah dipangkas. Menandakan bahwa seperti itu juga manusia hidup, harus bertumbuh.

Binatang yang hidup di dalam hutan tak pernah takut kekurangan makanan. Mereka tetap dapat hidup selayaknya. Minum dari air yang mengalir, makan dari sumber alam yang telah disediakan.

“Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari alam. Tidak ada yang dapat melihat sosok Tuhan. Tetapi melalui alam, manusia dapat merasakan kehadiran Tuhan,” imbuh dia, kemudian melepas kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya.

Tradisi massorong dilakukan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Bagi masyarakat suku Pattae yang hidup sebagai petani, massorong dilakukan di sawah atau ladang tempat mereka bekerja. Biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur karena hasil panen yang telah didapatkan.

“Caranya kurang lebih sama, hanya tempatnya yang berbeda. Kami melakukannya di laut, karena kami hidup dari hasil laut. Tapi ya harus saat pasang, kalau surut mana mungkin sampai ke tengah laut,” ujarnya sambil melempar canda. (jelita/kpg/kri/k16)

 

Editor : izak-Indra Zakaria