Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dakwah Yang Menyegarkan ala Ning Umi, Barisan Depan Harus Diisi Jemaah Perempuan

izak-Indra Zakaria • Senin, 23 Oktober 2023 - 04:49 WIB
Ning Umi
Ning Umi

UMMI Lailatul Rahmah Hadi yang populer dengan nama Ning Umi tidak asing dengan dunia dakwah. Putri sulung Kiai Granat itu mulai berdakwah saat masih remaja. Jika ditanya siapa orang yang paling menginspirasinya? Jawabannya sudah pasti ayahnya sendiri.

”Sebenernya yang pengin itu ibu,” ucap Ning Umi saat berbincang dengan Jawa Pos beberapa waktu lalu. Sang ibu yang membiasakan Ning Umi ikut sang ayah berdakwah memang punya harapan agar anak gadisnya kelak menjadi pendakwah juga. Awalnya, perempuan 23 tahun itu menyikapi keinginan sang ibu dengan datar-datar saja. Namun, keinginan untuk mengikuti jejak ayahnya mulai muncul saat dia duduk di bangku kelas 3 SMA.

Pada masa-masa akhir SMA, Ning Umi mulai berani berdakwah di depan banyak orang. ’’Dulu awal dakwah itu di dekat Masjid Agung Surabaya, Cita Entertainment,” sebutnya. Ketika itu, jemaahnya adalah ibu-ibu. 

Ning Umi mengakui bahwa pada masa awal dakwahnya, dirinya sangat idealis. ’’Saya dulu itu terlalu terobsesi. Orang-orang yang mendengarkan dakwah saya ya harus paham sama apa yang saya sampaikan,” paparnya. Seiring berjalannya waktu, Ning Umi kemudian tahu cara berdakwah yang pas. Salah satu ilmunya dia dapatkan ketika menempuh pendidikan S-1 di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA). ’’Di sana saya belajar retorika dakwah,” jelasnya.

Ning Umi pun kemudian mulai bereksperimen dengan mendramatisasi cerita yang hendak dia sampaikan kepada jemaahnya. Dengan bercerita, dia merasa jemaahnya bisa lebih mudah menyerap pesan yang dia sampaikan. ’’Saya biasanya mengibaratkan sesuatu dengan bercerita,” imbuhnya. 

Kini jemaah Ning Umi terus bertambah. Selain ibu-ibu dan bapak-bapak, ada pula anak-anak. Namun, karena sempat punya pengalaman tidak menyenangkan dengan jemaah laki-laki, Ning Umi punya syarat khusus yang harus dipenuhi saat berdakwah. ’’Jadi, yang duduk di barisan depan itu harus ibu-ibu atau jemaah perempuan. Atau, anak-anak juga nggak masalah,” paparnya.

Mengapa demikian? Ternyata, Ning Umi pernah mengalami catcalling saat sedang berdakwah. Hal tersebut membuat dia merasa tidak nyaman, apalagi jika jemaah yang duduk di barisan depan adalah laki-laki.

Tidak pernah merasa ngetop, Ning Umi menjaga kualitas dakwahnya dengan terus belajar. Bahkan, dia punya guru khusus. ’’Setiap dakwah itu ada yang mantau, guru saya,” ujarnya. Dengan demikian, ada yang mengevaluasi materi dan cara penyampaian dakwahnya. Yang tidak pas biasanya akan langsung dibetulkan.

Sebagai pendakwah muda yang hidup di Indonesia, Ning Umi sadar betul bahwa masyarakatnya sangat majemuk. Karena itu, rasa saling menghargai harus terus dipupuk. ’’Tidak usah yang beda agama, kadang yang sama-sama Islam tapi beda pendapat saja ya bertengkar,” ungkapnya. Karena itu, dalam setiap dakwahnya, Ning Umi menyelipkan pesan-pesan untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan.

Mashitoh, salah seorang jemaah Ning Umi yang berasal dari Manyar, Surabaya, mengaku sangat suka dengan cara berdakwah Ning Umi. Karena itu, dia tidak keberatan meluangkan waktu untuk datang langsung ke lokasi dakwah Ning Umi. ’’Bawaannya santai, tapi sampai gitu pesannya. Kadang juga diselingi nyanyi (melantunkan salawat, Red),” ucapnya. (ann/c6/hep)

Editor : izak-Indra Zakaria