Sindrom Peter Pan adalah istilah dalam ilmu psikologi yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak bisa berperilaku dewasa walau usianya sudah matang.
Istilah sindrom Peter Pan menjadi populer setelah Dr. Dan Kiley, seorang psikolog menerbitkan buku yang berjudul Sindrom Peter Pan: Pria yang Tak Pernah Tumbuh dewasa.
Istilah ini bukanlah diagnosis resmi dan hanya digunakan secara informal di dunia psikologi.
Seseorang dengan kondisi sindrom Peter Pan menolak untuk memikul tanggung jawab layaknya orang dewasa bertindak.
Mereka tidak bersikap dewasa dan cenderung memiliki sifat kekanak-kanakan.
Dikutip JawaPos.com dari MEDICALNEWSTODAY, disebutkan bahwa orang dengan sindrom ini akan kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat.
Mereka tidak dapat bersifat profesional di dunia kerja dan sulit bersikap romantis terhadap pasangannya.
Para ilmuwan masih belum mengetahui penyebab pasti dari sindrom Peter Pan karena kurangnya bahan riset.
Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa orang tua yang terlalu protektif dapat membuat seseorang lebih mungkin mengalaminya.
Ketika anak-anak memperoleh perlindungan yang berlebihan, mereka akan kesulitan untuk mengembangkan keterampilan dalam pemecahan masalah di dunia nyata.
Ketika tumbuh dewasa, mereka mungkin mengharapkan lingkungan yang lebih nyaman seperti masa kanak-kanak.
Karena Sindrom Peter Pan bukanlah diagnosis formal, maka tidak ada kriteria khusus yang menentukan kondisi tersebut.
Namun ada beberapa tanda umum yang patut diperhatikan.
Kesulitan memegang tanggung jawab dan tidak memiliki komitmen adalah salah satu tandanya.
Gejala lain yang mungkin terlihat adalah mereka memiliki sifat egois dan menghindari kritik.
Selain itu, seseorang dengan sindrom tersebut juga sulit mengendalikan perilaku yang impulsif pada dirinya.
Mereka juga cenderung takut kesepian dan selalu bergantung pada orang lain.
Tanda-tanda yang paling sering diperlihatkan oleh pengidap sindrom Peter Pan yaitu mereka kesulitan dalam menjalin hubungan romantis.
Mereka sering kali mudah berganti pasangan karena tidak mampu memegang komitmen yang tinggi dalam berhubungan.
Permasalahan utama pada pengidap sindrom ini adalah mereka sulit dalam mengekspresikan emosi.
Mereka tidak mampu memainkan peran yang seimbang dalam menata hubungan romantis yang sehat.
Selain itu, mereka mungkin memberikan beban yang tidak adil dan berlebihan pada pasangannya.
Mereka barangkali tidak menyadari akan tindakannya, sehingga hal tersebut berdampak negatif pada hubungan kedua pasangan.
Kedewasaan bukanlah sesuatu yang terjadi dalam waktu singkat. Menjadi dewasa membutuhkan proses secara bertahap yang terjadi selama bertahun-tahun.
Melewati pengalaman dan perasaan tidak menyenangkan adalah salah satu bentuk proses menuju kedewasaan.
Hampir setiap orang menemukan kesulitan beradaptasi menjadi orang dewasa dan merindukan masa kanak-kanak yang bahagia.
Oleh karena itu, ada baiknya untuk mencari dukungan secara profesional apabila mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan menanggung beban yang dirasa berat. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria