Arab Saudi baru saja mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi negara Arab-Muslim pada Sabtu (11/11) lalu di kota Riyadh.
Sebelumnya, Arab Saudi akan mengadakan Konferensi Organisasi Islam pada (11/11) dan Konferensi Tingkat Tinggi negara Arab-Muslim pada (12/11). Namun pada akhirnya kedua konferensi tersebut diadakan secara bersamaan pada Sabtu (11/11) lalu.
Konferensi tersebut membahas tentang "konflik" yang masih berlanjut dan belum menemukan titik terang antara Israel dan Palestina. Israel justru semakin gencar menyerang tempat-tempat yang menaungi warga Palestina, seperti rumah sakit, sekolah, masjid, gereja, dan tempat umum lainnya.
Mereka menargetkan Rumah Sakit Al Shifa yang digunakan sebagai tempat pengungsian bagi para warga Palestina hingga rumah sakit tersebut kini berada di ambang kehancuran. Hasil konferensi yang diadakan oleh Arab Saudi memerintah Israel untuk menghentikan penyerangan dan menolak membenarkan tindakan Israel atas nama pembelaan diri.
Dalam pernyataan resmi dari hasil konferensi tersebut, dinyatakan bahwa para hadirin memvonis Israel atas agresi, kejahatan perang, dan pembantaian biadab yang dilakukan kepada warga Palestina.
Hasil KTT negara Arab-Muslim juga menyatakan bahwa hadirin memerintah Israel untuk menghentikan pengepungan di Gaza, agar bantuan kemanusiaan dapat tersalurkan.
Para pemimpin dalam konferensi tersebut juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera memutuskan resolusi yang mengikat agar agresi Israel dapat dihentikan. Dalam sambutannya, Putra Mahkota Arab Saudi juga menyerukan penghentian operasi militer yang diberlakukan oleh Israel terhadap Palestina dan membebaskan seluruh tawanan.
"Ini adalah bencana bagi kemanusiaan yang membuktikan bahwa organisasi internasional dan Dewan Keamanan PBB telah gagal dalam menghentikan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh Israel dan membuktikan bahwa dunia menganut standar ganda (terhadap tragedi ini)," ungkap Mohammed bin Salman yang dikutip dari Al Jazeera.
Putra Mahkota tersebut juga percaya bahwa perdamaian bisa dicapai jika Israel menghentikan segala tindakan penyerangannya dan mengembalikan hak-hak warga Palestina dan pendirian negara tersebut pada 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.
Presiden Turki juga menyuarakan desakan gencatan senjata permanen dan tidak hanya sementara kepada Israel.
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas menekankan bahwa tidak hanya di Gaza, serangan tentara Israel di West Bank juga semakin meningkat dan mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan agresi, penjajahan, pelanggaran, dan penodaan tanah suci yang dilakukan oleh Israel di Palestina.
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani juga menyatakan ketidak percayaannya bahwa sebuah rumah sakit bisa menjadi sasaran serangan oleh tentara di abad ini. Selain itu, negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang terdiri dari Mesir, Yordania, Lebanon, Turki dan Irak juga menyuarakan desakan gencatan senjata kepada Israel.
Presiden Iran, Ebrahim Raisi menekankan bahwa dukungan Amerika Serikat kepada Israel di PBB melarang resolusi yang mencegah pembunuhan warga Palestina. Namun, dikutip dari Live Mint, Arab Saudi yang dianggap sebagai pemimpin negara Muslim secara de facto menolak usulan untuk memutus tali kerjasama dengan Israel. Usulan tersebut bertujuan untuk memutus hubungan diplomasi dan ekonomi dengan Tel Aviv dalam rangka mendesak Israel untuk melakukan gencatan senjata.
Arab Saudi, negara-negara Uni Emirat Arab, Mesir, Yordania, Bahrain, Sudan, Maroko, Mauritania, dan Djibouti dilaporkan menolak usulan tersebut. Sementara itu, Presiden Jokowi menyatakan bahwa seluruh negara yang tergabung dalam OKI harus mengerahkan segalanya untuk membuat Israel bertanggung jawab atas kekejaman kemanusiaan yang telah dilakukan.
Editor : izak-Indra Zakaria