Cerita Ratu Bura Daya atau Putri Betung menjadi legenda yang dipercayai sebagian besar warga Desa Pasir Mayang. Bahkan makamnya dirawat warga sekitar yang akhirnya menjadi destinasi wisata religi. Selain objek wisata alam pantai berpasir putih di Pasir Mayang, cerita Ratu Bura Daya menjadi cerita rakyat yang berkembang hingga saat ini.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dari beberapa warga setempat, legenda Ratu Bura Daya berawal pada zaman dahulu ada seorang lelaki tua yang tinggal di Desa Pasir Mayang. Pekerjaannya adalah mencari bambu untuk dijual. Pada suatu hari, pada saat ia mencari bambu di tengah hutan, ia terkejut dan heran karena melihat di dalam sebuah bambu yang di tebangnya terdapat sebuah telur. Dia pun membawa telur itu pulang ke rumahnya.
Setelah berbulan-bulan disimpan, akhirnya telur tersebut menetas. Pria tua terkejut melihat di dalam telur tersebut terdapat bayi perempuan. Kemudian ia memberi nama anak itu Putri Betung karena dia ditemukan di dalam bambu betung. Dua puluh tahun kemudian, putri tumbuh dewasa dengan paras yang cantik. Pada suatu ketika saat membantu orangtuanya meraut bambu, tiba-tiba sang putri terluka. Orangtuanya terkejut melihat darah sang putri berwarna putih. Sang putri cepat-cepat mengobati lukanya. Dan sejak saat itu, putri berparas cantik tersebut dipanggil Putri Berdarah Putih atau dalam bahasa Paser disebut Ratu Bura Daya.
Ketika orangtuanya meninggal dunia, sang putri hidup seorang diri. Banyak pemuda yang ingin melamarnya, tetapi tidak ada yang sanggup memenuhi syarat yang diminta, yakni berdarah putih sama seperti dirinya. Pada suatu hari, ada seorang pangeran dari seberang pulau yang mengaku berdarah putih ingin melamar sang putri. Namun Putri Betung belum bisa langsung menerima laki-laki tersebut. Ia baru akan menerimanya apabila laki-laki itu dapat membuktikan bahwa berdarah putih sama sepertinya.
Pada suatu hari, sang laki-laki tersebut membohongi putri Betung dengan melukai jarinya lalu dia meneteskan getah pepaya pada lukanya, sehingga darahnya nampak berwarna putih. Putri Betung pun percaya jika darah laki-laki itu benar berwarna putih, lalu menikah lah Putri Betung dengan pangeran tersebut.
Bertahun-tahun setelah menikah, mereka pun dikaruniai anak dan keluarga mereka selalu dijaga oleh para pengawal dan prajurit yang datang bersama suaminya. Suatu hari Putri Betung meminta suaminya meraut rotan di dalam rumah, ketika itu Putri Betung berada di bawah kolong rumahnya. Tiba-tiba saja Putri Betung terkena tetesan darah merah, lantas cepat-cepat Putri Betung naik ke rumah. Ketika itu Putri Betung sangat terkejut, karena dia melihat suaminya terluka dan ia melihat darah suaminya berwarna merah.
Mengetahui hal tersebut Ratu Bura Daya murka, kemudian mengusir suaminya dari rumah. Ratu Bura Daya yang teramat kecewa memerintahkan para pengawal dan prajuritnya menggenggam satu gumpalan tanah kemudian melemparkannya ke rumah ratu. Satu persatu mereka melempar, hingga rumah dan Ratu Bura Daya tertimbun tanah. Itulah yang menyebabkan bentuk kuburan Putri Betung atau Ratu Bura Daya seperti bukit kecil yang ada di Desa Pasir Mayang saat ini. Bagi warga Pasir Mayang, Putri Betung lebih dikenal dengan sebutan Ratu Bura Daya (ratu berdarah putih). (adv/ian)
Editor : izak-Indra Zakaria