Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kisah Suharso yang Selalu Ingat Pesan Orangtua, Jujur dan Ikhlas

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 2 Desember 2023 | 12:18 WIB
PEDULI: Suharso (batik cokelat) yang memang dikenal sebagai tokoh masyarakat yang ringan tangan bangunkan sekolah yang layak.
PEDULI: Suharso (batik cokelat) yang memang dikenal sebagai tokoh masyarakat yang ringan tangan bangunkan sekolah yang layak.

Dulu namanya sekolah teknik menengah (STM) sebelum berganti menjadi sekolah menengah kejuruan (SMK). Suharso pernah mengenyam pendidikan, namun tak lulus, dan memilih jalan sebagai anak muda pekerja keras kala itu.

 

BEKERJA sebagai buruh pernah dia rasakan. Akrab dengan panggilan Haji Harso. Darah kelahiran Jawa Tengah itu menginjakkan kakinya di Bumi Etam pada 1989 akhir. Kala itu Suharso muda berkelana di berbagai pekerjaan, seperti petugas kebun jeruk bahkan petani. “Waktu itu disuruh pulang sama orangtua saya. Kata mereka kalau di sana (Samarinda) mencangkul, di sini (Jawa Tengah) juga bisa,” ucapnya sambil menyeruput kopi hitam, Kamis (30/11).

Keputusan untuk mengadu nasib di Kaltim tak lain adalah menjajal untuk meraih keuntungan. Saat itu di Jawa persaingan untuk mencari pekerjaan begitu sulit. “Waktu itu kan di Kaltim lapangan pekerjaan masih banyak. Wah, kalau enggak punya skill di sana (Jawa) susah dapat pekerjaan, kalau di Kaltim yang penting mau dan semangat ada aja rezeki,” sambungnya.

Doa orangtua terhadap anaknya begitu deras mengalir di perjalanan hidup seorang anak, begitu pun yang dialami Suharso. “Saya ingat betul kata-kata orangtua saya, Le (sebutan anak suku Jawa), kalau bekerja yang benar dan jujur, serta ikhlas. Insyaallah orangtua akan mendoakan kamu,” tutur Harso, saat menceritakan pesan orangtuanya kala itu.

Pertama kali menginjak Kota Tepian, Harso tinggal bersama pamannya di kawasan Teluk Dalam, Kabupaten Kutai Kartanegara. Tak lama berselang, Harso unjuk gigi untuk mencari peluang lain. “Kurang lebih sekitar empat sampai lima bulan saya ikut paman, setelah itu merantau lagi keluar,” imbuhnya.

Nah, lanjut Harso, banyak informasi tentang pekerjaan yang dia dengar, salah satunya perkebunan buah jeruk milik Sukiman (warga Tiongkok) tepatnya di kawasan Sungai Siring, Samarinda. “Di situ saya bekerja sebagai petani jeruk sekitar dua tahunan, dan memang saat itu sekitar tahun 1989–1990-an asal mau kerja insyaallah ada aja pekerajaan. Setelah itu, saya berhenti kerja dan menanam sayuran sendiri, seperti terong, lombok, dan lain-lain,” jelasnya.

Masih terbilang muda, namun soal nyali berbeda. Setelah resign di perkebunan jeruk, Harso memilih untuk bertani sendiri. Dalam kurun waktu beberapa tahun berjalan, Harso kembali berkelana.

CV Puspita Juita berdiri dan bertumbuh hingga kini, selain beroperasi di pertambangan, pria itu juga bergerak di bidang lain. “CV itu berasal dari nama anak saya,” katanya.

Masa muda Harso benar-benar ditempa berbagai macam pengalaman. Keyakinan dan kesederhanaan yang dia perlihatkan membuat dirinya terlihat ramah di mata orang. Bahkan, hingga kini dia masih menggunakan telepon jadul. “Enak aja, kalau yang begitu (menunjuk salah satu smarphone) kadang-kadang saya di-chat sama teman enggak saya balas, bukan karena tidak mau membalas pesannya. Tapi karena sibuk kerja. Gara-gara itu saya dibilang sombong, makanya lebih nyaman pakai handphone seperti ini,” tuturnya sembari menunjukkan ponselnya.

Pengusaha yang sudah malang melintang itu kabarnya menghibahkan tanahnya untuk membangun tempat pendidikan di jalan poros Samarinda-Bontang, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara. Selain menghibahkan, Harso pula yang membangun gedung dan fasilitas yang ada. “Terutama membangun lingkungan kita untuk lebih baik, semoga saja tempat pendidikan nantinya bisa berdampak positif dengan fasilitas yang ada. Anak-anak juga bisa belajar lebih giat lagi, dan muridnya bisa bertambah,” tegasnya.

Gedung sekolah SD 014 yang akan dibangun Suharso memiliki 12 ruang kelas, 1 kantor kepala sekolah dan guru, 1 musalah, 1 rumah dinas kepala sekolah, 3 rumah dinas guru, dan 6 toliet, termasuk lapangan dan kantin sekolah. (dra/k8)

EKO PRALISTIO
pralistioeko@gmail.com

Editor : izak-Indra Zakaria