Kasus baru dari HIV/AIDS masih terus bermunculan. Meski begitu, tetap bisa dicegah. Dengan mengonsumsi obat.
DI lantai dua salah satu gedung Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, sekelompok orang berkumpul, Sabtu (2/12) sore. Di ruangan yang menjadi Sekretariat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Balikpapan itu, satu demi satu diambil sampel darahnya oleh petugas kesehatan. Mereka adalah orang-orang yang diundang untuk melaksanakan rapid test human immunodeficiency virus (HIV).
Tes berlangsung cepat. Sampel darah diteteskan ke dalam alat tes HIV yang terdapat antigen HIV. Setelah 10 menit, hasilnya bisa diketahui. Apakah reaktif atau non-reaktif. Selain HIV, alat tes itu juga bisa menentukan seseorang reaktif atau tidak terkena sifilis. Bagi mereka yang reaktif, hasil akan diumumkan secara rahasia dan akan menjalani tes lanjutan untuk menentukan pengobatan.
“Tes ini kami rutinkan setiap bulannya. Untuk membantu memfasilitasi teman-teman di luar, saudara, dan keluarga untuk melakukan tes secara gratis,” ungkap Koordinator Lapangan HIV PPTI Balikpapan Redi Indriyana.
Rapid test itu mumpuni untuk menjaring pengidap HIV atau biasa disebut ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Karena menurut Redi, masih banyak bagi mereka yang belum tahu jika mereka positif HIV. Terlebih ada pula yang belum mau menerima kenyataan sebagai pasien HIV.
Karena itu, momen seperti ini juga menjadi sarana edukasi kepada mereka khususnya kelompok berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. “Kami tentu tidak bisa melarang mereka melakukan aktivitas yang berpotensi menularkan HIV. Entah seks bebas, menggunakan PSK (pekerja seks komersial) atau pakai waria. Yang bisa kami lakukan adalah seperti ini dan memberi pendampingan,” ungkap Redi.
Di luar kegiatan ini pun, Redi menyebut, masyarakat bisa memeriksakan diri secara sukarela di 23 fasilitas kesehatan di Balikpapan. Bisa langsung datang. Atau menggunakan jalur khusus pemeriksaan. Karena dirinya menyebut, masih banyak mereka yang berasal dari kelompok rentan tertular HIV yang malu datang melakukan tes.
“Setidaknya kami bisa membantu memberikan dan membagikan. Mulai obat ARV (Antiretroviral) dan kondom. Obat dan kondom itu bisa diakses gratis. Jangan sampai mereka yang sudah tertular tidak mendapatkannya, hingga akhirnya penyakit bertambah parah dan meninggal,” ujarnya.
Tahun ini pun lanjut Redi, Pemkot Balikpapan melalui Dinas Kesehatan juga telah memprogramkan pembagian obat PrEP (pre-exposure prophylaxis). Yakni obat pencegahan penularan HIV. Saat ini bisa diperoleh di tiga fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Prapatan, RSUD Kanujoso Djatiwibowo, dan Rumah Sakit Tentara Dr R Hardjanto.
“Obat ini gratis. Dibagikan khususnya kepada pasangan yang salah satunya belum tertular HIV. Jadi, sebelum melakukan hubungan seksual bisa konsumsi obat PrEP ini,” sebutnya.
STIGMA DAN DISKRIMINASI
Bagi ODHA, tantangan terberat dalam menjalani kehidupan adalah pandangan negatif dari masyarakat. Redi mengakui, stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV masih ada. Namun, dalam perkembangannya sudah tidak sebesar dulu.
“Diskriminasi itu ada. Makanya kami terus melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat khususnya keluarga positif HIV. Jangan sampai mereka diasingkan. Karena meski menular, HIV ini termasuk yang sulit ditularkan. Hanya melalui darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI),” ungkapnya.
Sehingga, lanjut dia, selama seseorang tahu dirinya mengidap HIV, maka sudah bisa dilakukan pencegahan. Penggunaan kondom hingga konsumsi obat sudah terbukti mampu mencegah penularan. Bahkan pengobatan terbaru, mampu menekan virus dalam darah hingga kondisi “tertidur”.
“Artinya pengidap HIV tetap bisa gemuk. Hidup normal dan menjalani aktivitas sehari-hari layaknya orang sehat lainnya. Pasangan pun tidak perlu khawatir lagi selama menjalani rutinitas pencegahan dan pengobatan,” ucapnya.
Sejauh ini, timnya juga belum menemukan kasus serius adanya diskriminasi. Karena setiap temuan kasus baru, bakal ada pendampingan dan edukasi ke orang terdekat. Termasuk melakukan sosialisasi secara masif melalui media sosial. Sehingga, bisa menekan stigma buruk dan diskriminasi.
“Kebijakan pemerintah juga membantu mereka yang positif tetap bisa bekerja. Jangan sampai ada kasus dipecat karena dia positif. Hingga kini, kami belum menemukan kasus itu,” ujarnya.
MENYINGKAP “GUNUNG ES”
Jumlah penderita HIV/AIDS hingga kini belum bisa dipastikan secara akurat. Hingga muncul istilah fenomena gunung es. Pemerintah pun setiap tahun makin meningkatkan skrining. Utamanya di fasilitas kesehatan yang menjadi rujukan pengidap HIV/AIDS. Salah satunya di RSUD Kanujoso (RSKD) Balikpapan.
Dokter Pelaksana Poli HIV RSKD Balikpapan dr Marissa Aprilya menyebut, dalam setahun terakhir terjadi peningkatan kasus pasien yang berkunjung ke Poli HIV RSKD Balikpapan. Namun, jumlahnya tidak terlalu signifikan. Karena untuk di Balikpapan, hampir sebagian besar fasilitas kesehatan (faskes) terutama milik pemerintah memiliki layanan HIV.
“Jadi yang datang ke Poli HIV kami merupakan rujukan dari faskes yang belum memiliki layanan HIV. Jumlahnya memang meningkat. Ini karena proses skrining yang gencar dilakukan. Bukan hanya skrining HIV saja, melainkan skrining terhadap ibu hamil, pasien TBC dan penyakit menular akibat hubungan seksual. Sehingga, memang banyak muncul kasus baru,” ucapnya.
Kasus baru di sini bukan karena penularan baru, melainkan didominasi oleh mereka yang mengidap lama namun baru diketahui. Baik karena proses pemeriksaan secara sukarela maupun ketika memeriksakan kesehatan di faskes yang memiliki layanan HIV. Sementara, untuk tren penularan sendiri, Marissa belum menemukan hal baru.
“Tiga tahun terakhir, kami belum menemukan penularan akibat jarum suntik dari penyalahgunaan narkoba atau tato. Atau akibat transfusi darah. Itu karena sudah meningkatnya penggunaan jarum suntik steril ya. Justru terbanyak masih akibat hubungan seksual. Terutama untuk kelompok homoseksual dan heteroseksual yang melakukan hubungan seksual tidak aman,” ujarnya.
Marissa mengungkapkan, banyak kasus baru muncul karena ketidaktahuan. Hingga mengakibatkan terlambatnya penanganan. Contohnya, tahun ini ada satu kasus bayi tertular HIV lantaran sang ibu yang tidak tahu dirinya HIV, hingga ketika melahirkan dilakukan persalinan normal dan diberikan ASI.
“Itu sebabnya sangat penting memeriksakan diri. Kita tidak tahu bisa tertular dari mana. Kasus tahun ini misalnya, bayi tertular HIV karena ibunya tidak tahu dia positif. Jika tahu bisa dicegah dengan konsumsi obat dan proses persalinan bisa dilakukan secara operasi sesar,” ungkapnya.
Secara pengobatan, Marissa mengungkapkan sudah mengalami perkembangan dalam tiga tahun terakhir. Salah satunya adalah obat dolutegravir. Di mana obat ini bekerja lebih cepat dibandingkan obat yang ada sebelumnya. Untuk bisa menekan virus dalam darah hingga tidak terdeteksi dengan cepat dan memiliki efek samping lebih sedikit.
“Namun, obat ini hanya bisa diberikan kepada mereka yang baru terdiagnosis HIV. Untuk pasien lama yang sudah diobati tidak bisa. Tetap dilanjut obat yang lama. Metode terbaru untuk pencegahan juga sudah ada, yakni dengan obat PrEB. Jadi, mereka dari kelompok berisiko tinggi yang belum tertular bisa mencegah dengan mengonsumsi obat ini,” jelasnya.
Bagi pengidap HIV, obat memang menjadi cara terbaik untuk menekan makin beringasnya virus. Karena jika pasien tidak rutin, HIV bisa berkembang ke level AIDS. Kasus selama ini, pasien AIDS adalah mereka yang enggan berobat hingga berdampak pada pasien meninggal dunia.
“Kami memang menemukan beberapa kasus AIDS ini. Pasien ini biasanya memang dia tidak tahu terkena HIV hingga menjadi AIDS. Atau tidak minum obat secara rutin. Pasien datang dalam kondisi sudah parah. Terkena infeksi saraf hingga gangguan paru akibat TBC dan penurunan berat badan secara drastis. Mereka tidak bertahan lama dan meninggal dunia,” ujarnya. Untuk itu, bagi Marissa, upaya skrining adalah hal paling utama agar semakin banyak pula deteksi kepada penderita HIV.
PENDIDIKAN SEKSUAL
Penemuan kasus HIV baru dan konsumsi obat Antiretroviral (ARV) tanpa putus masih menjadi pekerjaan rumah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga memandang pendidikan seksual, harus dilakukan lebih dini. Sebab hubungan seksual merupakan salah satu cara penularan HIV.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi menceritakan ada anak 12 tahun di Jawa Tengah terdeteksi HIV. Dia menceritakan bahwa anak tersebut terinfeksi bukan sejak bayi atau tertular dari ibunya. “Kita harus melakukan upaya sebaik mungkin untuk anak-anak remaja,” kata Imran.
Penanggulangan HIV harus sesuai siklus kehidupan. Mulai baru lahir sampai lansia. Sebab, penemuan kasus baru terdapat dari anak usia kurang dari 4 tahun hingga mereka yang lebih dari 50 tahun. “Masa remaja perlu dilakukan edukasi sedini mungkin. Edukasi untuk seksual karena kasus HIV yang ditemukan semakin muda,” ungkap Imran. (rom/k15)
Peliput:
M RIDHUAN
mad.dhuan@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria