Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Alur Sungai Mahakam Cukup Sempit, KSOP Minta Kapal Waspada

Dwi Restu Amrullah • Kamis, 1 Februari 2024 - 23:51 WIB
Kecelakaan air di alur Sungai Mahakam
Kecelakaan air di alur Sungai Mahakam

SAMARINDA–Empat kejadian kecelakaan air dalam kurun waktu dua bulan terakhir di Sungai Mahakam, membuat salah satu pemegang kendali, yakni Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda, memberi “lampu kuning” bagi kapal-kapal yang melintas di Sungai Mahakam.

Kabid Pelayaran, Patroli, dan Penjagaan KSOP Kelas I Samarinda Capt Ridha Rengreng menuturkan, terkait insiden dua kejadian Januari lalu, tepatnya di perairan Muara Pegah, Kutai Kartanegara, diakuinya memang masih dalam wilayah kerja KSOP Kelas I Samarinda. “Benar, bahkan kami sampai ke Muara Berau. Tapi kalau sudah ke sana kan itu laut lepas, tentunya lebar dan kedalamannya berbeda dengan di Samarinda atau sebagian titik,” jelasnya.

Nah, ihwal tabrakan yang terjadi antara Kapal MV Spil Renata bermuatan kontainer dengan Tongkang Soluna 20 yang ditarik Tugboat (TB) Napoleon 2 di buoy 8 perairan Muara Pegah, Minggu (28/1) malam, menurutnya itu masih di kawasan yang secara lebar sungai, masih terbilang cukup. “Tapi yang harus dipahami setiap nakhoda, baik yang mau mendahului (menyalip) kapal di depannya, atau yang berlawanan, begitu masuk Sungai Mahakam itu, komunikasi harus intens. Wajib memantau selama 24 jam. Memang Sungai Mahakam itu terlihat tenang. Tapi kalau faktor cuaca, seperti angin atau arus sungai deras, bisa saja insiden,” tegasnya.

Di beberapa titik, lanjut dia, Sungai Mahakam memang terlihat lebar. Namun, mengarah ke muara atau menuju laut lepas, kondisinya tidak bisa disamakan dengan perairan Sungai Mahakam yang ada di Samarinda. “Kalau mau dibilang sempit, Sungai Mahakam itu sempit. Karena ada yang dalamnya hanya sekitar 6 meter, ada yang 30. Bervariasi lah itu,” sambungnya. Sebagai pemegang otoritas pelayaran di Sungai Mahakam, KSOP Samarinda tentu menjadikan hal itu untuk diwaspadai.

“Makanya kenapa kami minta nakhoda intens komunikasi, ketika ada kendala, semua kapal bisa saling mengetahui. Lebar sungai kan juga bervariasi, kapal kan kalau manuver tidak seperti kendaraan di darat, butuh waktu dan melihat posisi. Apalagi ketika berlayar malam,” jelasnya.

Pada dasarnya, tidak ada waktu larangan berlayar saat malam. “Hanya jam pengolongan karena itu kan butuh pemanduan. Intinya sama-sama saling mengingatkan saja,” kuncinya. (dra/k16)

Editor : Indra Zakaria