Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau di banyak wilayah Indonesia mundur menjadi Juli hingga Agustus 2024.
PENAJAM-Mundurnya musim kemarau ini berdampak pada musim panen padi di Penajam Paser Utara (PPU) yang diprediksi pada September-Oktober 2024. Kepala Dinas Pertanian PPU Andi Trasodiharto mengatakan, musim kemarau yang mundur ini mempercepat bulir padi menjadi menguning. Hal ini memang menguntungkan bagi petani karena panen padi bisa dilakukan lebih awal. “Namun, di sisi lain, musim kemarau juga berdampak pada penurunan produksi padi petani,” kata Andi Trasodiharto didampingi Pengawas Mutu Dinas Pertanian PPU Romi, di ruang kerjanya, Selasa (19/3).
Penurunan produksi padi ini terjadi karena tanaman padi tidak mendapatkan cukup air selama musim kemarau. Hal ini menyebabkan tanaman padi menjadi stres dan tidak dapat menghasilkan panen yang optimal. “Berdasarkan data kami, perkiraan penurunan produksi padi di PPU akibat musim kemarau nanti bisa mencapai sekira 10 persen,” ungkap Andi Trasodiharto. Namun, lanjut dia, hal ini tidak berpengaruh terhadap produksi panen padi petani itu pada masa panen Maret 2024 ini.
Pada masa panen padi bulan ini, seperti dilansir media ini sebelumnya, diestimasikan bakal memenuhi kebutuhan beras hingga beberapa bulan ke depan. Pada bulan Maret ini, diperkirakan panen padi semakin meningkat. Luas panen diprediksi mencapai 3.233 hektare, menghasilkan 10.345.6 ton gabah kering panen (GKP) atau setara dengan 6.207 ton beras. Angka ini jauh di atas kebutuhan beras bulanan di PPU yang hanya sekitar 367 ton. Hal ini menunjukkan bahwa panen padi di tahun ini akan mampu memenuhi kebutuhan beras masyarakat PPU dan bahkan surplus untuk dipasarkan ke daerah lain.
Andi Trasodiharto mengatakan, kebiasaan petani apabila tersedia air langsung menggarap sawah mereka untuk musim tanam gadu pada April-Mei-Juni, dan memasuki masa panen padi pada September-Oktober 2024. Sementara, perkiraan BMKG musim kemarau yang lebih kering akibat dampak el nino terjadi pada Juli-Agustus. “Nah, dampak musim kering pada dua bulan itu memengaruhi tingkat produksi panen padi petani. Rata-rata padi dipanen setelah tiga bulan tanam,” ujarnya.
Saat ini, kata mantan kepala Dinas Perikanan PPU itu, pihaknya terus mengupayakan intensifikasi pertanian, utamanya padi. Salah satunya adalah menggerakkan lahan-tidur persawahan yang tidak digarap petani. “Persawahan yang tidak digarap itu bakal kami garap sistem bagi hasil. Program ini sebagai langkah penyadaran kepada pemilik lahan persawahan agar tergerak untuk tidak menelantarkan lahan yang mereka punya, agar digarap supaya menghasilkan padi dan beras,” katanya. (far)
ARI ARIEFa
ri.arief@kaltimpost.co.id
Editor : Indra Zakaria