Oleh: Noveranus Duma Saro
Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Paser
Raden Ajeng Kartini merupakan salah satu tokoh Indonesia yang memiliki jasa yang besar dalam sejarah terutama pada perjuangannya untuk membela hak-hak dan kesetaraan perempuan Indonesia serta kebangkitan perempuan di negara ini.
KARTINI yang lahir pada 21 April 1879 adalah perempuan yang tumbuh besar dalam lingkungan yang sangat erat dengan adat dan tradisi Jawa yang masa itu hak perempuan sangat dibatasi. Dengan segala perjuangan Kartini di masanya dalam memperjuangkan kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki, kita memperingati tanggal 21 April sebagai Hari Kartini untuk selalu mengingat akan perjuangan Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan, bukan hanya dalam aspek memperoleh pendidikan tapi juga dalam memperoleh kesamaan di aspek kesehatan, ekonomi, hukum, sosial, budaya, hak politik dan hak-hak hidup dasar lainnya.
Isu mengenai kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan masih menjadi isu yang banyak diperbincangkan di masa kini meskipun sudah lebih dari satu abad setelah hari lahirnya Kartini. Hal demikian terjadi karena masih adanya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan seperti dalam aspek pendidikan, kesehatan, pekerjaan, upah yang layak, dan hak-hak lainnya.
Capaian kualitas hidup manusia antara laki-laki dan perempuan serta perbedaan keduanya dapat terlihat dari angka indeks pembangunan gender (IPG) yang merupakan ukuran tingkat keberhasilan pembangunan manusia dengan melihatnya berdasarkan gender. IPG melihat capaian kualitas hidup berbasis gender, yaitu capaiannya dalam dimensi kesehatan, pendidikan serta ekonomi.
Dari data oleh BPS Provinsi Kalimantan Timur, angka IPG Kalimantan Timur dalam 3 tahun terakhir mengalami peningkatan, yaitu sebesar 86,18 di tahun 2021, meningkat menjadi 86,77 di tahun 2022 kemudian menjadi 87,13 pada tahun 2023. Angka IPG yang nilainya mendekati angka 100 menunjukkan tidak adanya perbedaan antara capaian pembangunan manusia pada penduduk laki-laki maupun perempuan. Seperti yang dapat dilihat, data IPG Kalimantan Timur masih jauh dari nilai 100 yang menunjukkan masih adanya ketimpangan capaian hidup antara laki-laki dan perempuan di Kalimantan Timur.
Hal ini disebabkan karena masih rendahnya capaian hidup perempuan pada ketiga dimensi dasar yang disebutkan sebelumnya. Pada dimensi pendidikan, yang dilihat dari angka rata-rata lama sekolah (RLS) dan angka harapan lama sekolah (HLS), diketahui pada tahun 2023 capaian nilai RLS penduduk laki-laki Kalimantan Timur masih lebih tinggi dari perempuan yakni masing-masing sebesar 10,26 tahun dan 9,79 tahun. Berbanding terbalik, nilai HLS penduduk perempuan di Kalimantan Timur lebih tinggi dari penduduk laki-laki, di mana HLS perempuan mencapai angka 14,19 tahun sedangkan laki-laki hanya sebesar 13,87 tahun.
Pada capaian di dimensi kesehatan, yang dilihat dari angka umur harapan hidup (UHH), capaian penduduk perempuan Kalimantan Timur di tahun 2023 juga masih lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki. Angka UHH perempuan di Kalimantan Timur adalah sebesar 76,62 tahun sedangkan UHH penduduk laki-laki hanya sebesar 72,96 tahun. Kita lihat pada dua dimensi dasar ini, capaian antara penduduk perempuan dan laki-laki sebenarnya tidak terlalu signifikan, akan tetapi pada dimensi ekonomi atau standar hidup layak yang dihitung dari pengeluaran per kapita penduduk.
Di tahun 2023, pengeluaran per kapita penduduk perempuan Kalimantan Timur hanya sebesar 7,76 juta rupiah per kapita per tahunnya sedangkan pengeluaran per kapita penduduk laki-laki mencapai angka 19,88 juta rupiah per kapita per tahun. Sehingga dari capaian ketiga dimensi dasar hidup manusia, ketimpangan sangat terlihat pada capaian standar hidup layak dengan melihatnya dari pengeluaran per kapitanya. Nilai pengeluaran per kapita penduduk laki-laki jauh lebih tinggi dari penduduk perempuan salah satunya disebabkan karena rendahnya kesempatan melakukan pekerjaan dengan pendapatan layak.
Tingkat kesempatan kerja penduduk perempuan di Kalimantan Timur pada tahun 2022 lebih rendah dari penduduk laki-laki, di mana besarnya tingkat kesempatan kerja perempuan sebesar 93,10 persen sedangkan penduduk laki-laki adalah sebesar 94,88 persen. Selain itu, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) penduduk perempuan juga jauh lebih rendah dibandingkan penduduk laki-laki. TPAK perempuan Kalimantan Timur pada tahun 2022 hanya sebesar 45,17 persen sedangkan TPAK laki-laki mencapai angka sebesar 82,74 persen. Hal ini terjadi salah satunya karena masih banyaknya penduduk perempuan yang lebih banyak mengurus rumah tangga sehingga banyak perempuan yang tidak bekerja karena lebih penting untuk mengurus rumah tangga.
Mengurus rumah tangga juga merupakan hal penting akan tetapi ini juga menjadi tantangan bagi perempuan agar juga bisa bekerja dan aktif secara ekonomi sehingga dapat meningkatkan taraf hidupnya dan juga taraf hidup keluarga. Meskipun masih banyak perempuan yang mengurus rumah tangganya, tetapi juga dapat bekerja. Namun tidak dapat dipungkiri masih banyak penduduk perempuan yang tidak bekerja atau aktif secara ekonomi. Oleh sebab itu, perempuan di Kalimantan Timur memiliki kontribusi yang masih sedikit terhadap pendapatan keluarga, yaitu hanya sebesar 24,02 persen pada tahun 2022 yang di mana angka ini menurun jika dibandingkan angka di tahun 2020 yang mencapai 24,17 persen.
Semangat Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan hak perempuan Indonesia harus terus dilanjutkan dan diperjuangkan. Kesetaraan gender juga masuk ke dalam salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan global (SDGs) sehingga diharapkan pada tahun yang akan datang, kesetaraan gender ini dapat benar-benar tercapai di Indonesia dan terkhusus di Kalimantan Timur. Capaian IPG yang meningkat tiap tahunnya patut disyukuri serta dapat dijadikan bahan evaluasi untuk pemerintah terkait karena ketimpangan pembangunan manusia pada penduduk perempuan sebagian besar terlihat pada dimensi ekonomi atau dimensi standar hidup layak.
Kesempatan dan partisipasi kerja penduduk perempuan yang masih relatif rendah baiknya menjadi evaluasi untuk strategi pembangunan ke depannya. Ini menjadi pekerjaan rumah bagaimana untuk bisa lebih meningkatkan peran perempuan agar aktif secara ekonomi sehingga dapat lebih setara dengan laki-laki dan nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup para perempuan serta keluarganya.
Peningkatan pembangunan manusia yang berfokus penuh tidak hanya pada kualitas hidup penduduk laki-laki, maupun juga perempuan merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai sehingga kualitas hidup perempuan semakin baik tidak hanya pada aspek pendidikan dan kesehatan, namun juga memiliki perbaikan pada aspek pendapatannya. Dengan begitu, kesetaraan gender dapat tercapai sebagai bagian dari pengejawantahan nilai-nilai yang diperjuangkan “Ibu Kita Kartini”. (***/rdh/k15)
Editor : Indra Zakaria