Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Merajut Asa Warga Kampung Timur, Nikmati Air Bersih Berkat TMMD Ke-120

Redaksi • 2024-06-06 19:41:29
Ketua Tim Wasev PJO TMMD Ke-120 Brigjen TNI Terry Tresna Purnama menyapa anak warga Kampung Timur di lokasi sumur bor.
Ketua Tim Wasev PJO TMMD Ke-120 Brigjen TNI Terry Tresna Purnama menyapa anak warga Kampung Timur di lokasi sumur bor.

Prokal.co- Matahari mulai bersolek. Setelah langit menangis semalaman, seakan tak mau diam. Air menghujani tanah.

Mencipta genangan berlumpur di sepanjang jalan setapak. Nur Sumilan (37) menghela napas berat. Bagi masyarakat Kampung Timur, Kanaan, Bontang Barat, pemandangan jalan berlumpur bukan hal yang asing.

Sepanjang jalan masih berupa tanah. Licin tak terkira bila hujan tiba. Tubuh pun harus tetap siaga. Kalau saja tiba-tiba kehilangan keseimbangan karena salah berpijak. Kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun.

Perempuan yang akrab disapa Sum itu menatap nanar akses jalan di wilayah tempat tinggalnya. Asa masih menyala, merasa bila penduduk di sana tak mungkin ditinggalkan. “Alhamdulillah, ternyata ada program dari tentara ini (TMMD/Tentara Manunggal Membangun Desa),” katanya.

Program TMMD ke-120 dikerjakan TNI bersama warga secara gotong royong.
Program TMMD ke-120 dikerjakan TNI bersama warga secara gotong royong.

 

Ratusan pasukan bersiap mengangkat “senjata”. Namun kali ini bukanlah peralatan seperti yang digunakan di medan tempur. Melainkan sekop, cangkul, dan gerobak.

Ini pertarungan merajut harapan, terutama untuk 30 kepala keluarga yang bermukim di kampung itu.  Mereka bersiap, mulai menyorong gerobak berisikan batu-batu besar. Truk-truk memasuki arena “pertempuran”, membawa material pasir.

Menimbun badan jalan sepanjang 650 meter. Memperbaiki akses dan menembuskannya ke daerah yang lain, untuk mempermudah mobilisasi warga sekitar.

Hal itu pun jelas akan dirasakan kedua anaknya, juga anak-anak lain di Kampung Timur. Sebelum memperoleh perbaikan, anak-anaknya yang duduk di bangku SD dan SMP itu tak dapat pergi ke sekolah bila hujan deras tiba. Lantaran jalan tidak dapat dilalui sama sekali.

infografis TMMD
infografis TMMD

"Banyak genangan, enggak bisa lewat. Jadi kalau hujan deras, ya enggak masuk sekolah. Guru-gurunya juga sudah tahu itu," jelas dia.

Disebutkan Sum, anak-anak pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Mereka harus beranjak lebih pagi. Memutar, melewati jalan besar. Berangkat pukul 06.00, agar sampai di sekolah tepat pukul 06.30.

Jika beruntung, anak-anak mendapat tumpangan dari orang yang dikenalnya. "Kalau sudah ada jalan yang baru, akan lebih dekat. Karena akses jalannya langsung tembus ke dekat sekolah," sebut dia.

Kebahagiaan Sum makin terpancar. Terutama setelah mengetahui rumah yang ditinggalinya menjadi salah satu sasaran perbaikan. Sejak 2014, dirinya memutuskan tinggal di Kampung Timur. Lantai rumahnya masih berupa cor. Bagian dinding tak begitu kokoh, sebab hanya terbuat dari kayu lapis.

Namun, rasa syukur tetap terucap di bibirnya. Keyakinannya tak pernah luntur bahwa suatu hari nanti, ia punya cukup rezeki untuk memiliki rumah yang lebih layak. Siapa sangka, rumah berukuran 4x6 yang menjadi tempatnya bernaung itu mendapat bantuan perbaikan dari Kodim 0908/Bontang.

Dinding yang semula dari triplek bekas disulap menjadi semipermanen. Bagian bawah dibangun dengan batako beberapa susun. Dilanjutkan dengan pemasangan kalsiboard sampai ke atap. "Setidaknya dinding sudah lebih kuat dari sebelumnya," sebut dia.

Plafon yang dulunya tidak ada, kini sudah terpasang rapi di langit-langit rumah. Di bagian depan dilebarkan beberapa meter. Tanpa mengubah bangunan rumah utama. "Bantuan dari Kodim sangat berarti untuk kami. Rumah saya dan keluarga sudah lebih baik," katanya.

*

Rona kebahagiaan tersorot jelas dari mata Sumilan. Gurat senyumnya tak lepas dari wajahnya. Anak-anak bermain di dekat sumur yang baru selesai dikerjakan. Bersenda gurau dengan para ibu yang tengah asik bercerita. Sumur itu menjadi jawaban atas kekurangan sumber air bersih di Kampung Timur. Mengingat saluran air PDAM di wilayab itu belum merata.

Sebelumnya, terdapat sumur bor di lokasi tersebut. Dibangun sekitar 2019 lalu. Namun tak lagi dapat difungsikan selama beberapa tahun terakhir. Masyarakat pun harus mencari alternatif sumber air bersih lain. Mereka menadah air hujan. Tetapi hal itu pun tak dapat dilakukan ketika musim kemarau tiba. Membuat banyak masyarakat harus membeli air, untuk disimpan di dalam tandon.

Kendati begitu, ketersediaan air tidak bertahan lama. Tak sampai sepekan, air sudah habis. "Sekali beli Rp60 ribu. Enggak sampai seminggu sudah habis karena memang banyak kebutuhan yang perlu air bersih," sebut dia.

Kala kemarau panjang, seperti yang terjadi belum lama ini, ia membawa beberapa ember berisi pakaian kotor. Kemudian berjalan menanjak untuk mencuci di atas pegunungan di daerah itu. Sumur tanpa pompa menjadi penyelamat menghadapi kesulitan air. Meski harus mengambil dengan cara menimba, yang penting pakaian keluarganya dapat kembali bersih.

Tak jarang pula, masyarakat mencari air sampai dekat Kuburan Toraja yang letaknya hampir satu kilometer dari permukiman. "Itu juga masih mengangkat, pakai ember bekas cat yang besar," lirihnya.

Sekali lagi, harapan warga Kampung Timur merekah. Mengetahui akan ada perbaikan sumur, sehingga tak perlu terlalu jauh mencari sumber air.

Begitupun yang dirasakan Vinsensius Poluslima. Laki-laki yang lahir 48 tahun silam itu menjadi salah satu dari tiga orang pertama yang bermukim di sana.

Hampir tiga dekade tinggal di Kampung Timur, ia mengingat dengan jelas perubahan lingkungan ini dari waktu ke waktu.  "Saya pertama kali ke sini (Kampung Timur) tahun 1995. Saat itu pun masih hutan," ungkapnya bersemangat.

Pria yang biasa dipanggil Vinsen itu pun harus berjalan kaki membawa jeriken, untuk selanjutnya diisi air bersih. Ia ambil dari wilayah Kanaan. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Hingga akhirnya sumur pertama di wilayahnya dibangun. Meski masih harus menyorong menggunakan gerobak, setidaknya sumber air sudah tak terlalu jauh.

"Jelas kami sangat bersyukur. Mencari air tak seperti dulu. Setidaknya sekarang sudah cukup untuk kebutuhan masyarakat. Jaraknya pun lebih dekat dengan permukiman," jelasnya.

Dandim 0908/Bontang Letkol Inf Aryo Bagus Daryanto menuturkan, ketersediaan sumber air menjadi salah satu atensi dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-120.

Sejatinya, terdapat tiga sasaran fisik utama yang dikerjakan dalam program tersebut. Mencakup penimbunan, pengerjaan badan jalan, dan drainase.

Sementara sasaran nonfisik meliputi penyuluhan bela negara, penyuluhan KB kesehatan, penyuluhan pertanian dan peternakan, penyuluhan bahaya narkoba, dan juga penyuluhan mengenai stunting pada balita.

Selanjutnya, penyuluhan cegah radikalisme, posyandu, posbindu dan PTM, serta sosialisasi rekrutmen TNI AD turut menjadi sasaran. "Kemudian ada sasaran tambahan, salah satunya berupa pembangunan sumur bor," tuturnya.

Pembangunan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat, terutama dalam pemenuhan fasilitas air bersih.

Mengingat mayoritas masyarakat di Kampung Timur masih kesulitan mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Awalnya, sumur bor yang sebelumnya sudah ada akan diperbaiki. Namun kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk difungsikan kembali.

"Sumur itu ternyata buntu, sebab tertutup pasir. Sebelumnya pun sudah kami upayakan untuk diperbaiki," ujar dia. Keputusan diambil dengan bijak. Sebuah langkah yang membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Kampung Timur. 

Para petugas dengan cekatan melakukan pengeboran baru. Tak jauh dari letak sumur bor yang lama. Dalam sepekan, pengerjaan sumur yang dibor dengan kedalaman 80 meter itu rampung. Air keluar deras. Masyarakat pun menyambut gembira, sebab hal ini yang dinantikan masyarakat sekitar.

Selain akses jalan, sumur memberi dampak bagi aspek kehidupan di Kampung Timur. Kini, air sudah dimanfaatkan oleh warga. Baik untuk mencuci, ataupun mandi.

"Nantinya kami juga akan koordinasikan dengan pihak terkait untuk memaksimalkan penyalurannya. Semoga apa yang kami lakukan memberi kontribusi dan bermanfaat untuk masyarakat," ujarnya.

Adapun Ketua Tim Wasev PJO TMMD Ke-120 Brigjen TNI Terry Tresna Purnama menegaskan program yang dilaksanakan secara terpadu ini ditujukan untuk mendukung percepatan pembangunan di wilayah. Pelaksanaan kegiatan menyasar pada komponen fisik dan nonfisik. Dijalankan dalam waktu 30 hari, ia berharap seluruh kegiatan dapat berjalan dengan baik.

Begitupula dengan manfaat yang dirasakan langsung. Mengingat program ini menjadi salah satu wujud pengabdian untuk masyarakat. "Saya berharap seluruh sasaran dapat mencapai target 100 persen. Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan," tegasnya.

Meski dilaksanakan dengan waktu yang terbatas, kinerja dari anggota TNI tak perlu diragukan lagi. Menggandeng seluruh warga, serta bergotong royong dalam upaya percepatan pembangunan menjadi perwujudan dari operasi bakti itu.

Hal tersebut tentu menjadi tekad Kodim 0908 Bontang dalam memberikan pengabdian yang terbaik untuk masyarakat Bontang.

Wali Kota Bontang Basri Rase pun menyematkan apresiasi setinggi-tingginya untuk seluruh pihak yang sudah terlibat. Menurutnya, kinerja dan program yang dilakukan melalui program TMMD selalu tuntas.

Jika demikian, hadirnya TMMD turut memberi harapan dan membuka pintu percepatan pembangunan di Kota Bontang. "Jangankan di darat, pekerjaan di sungai pun pasti beres. Tidak ada kegiatan yang tidak selesai bila para tentara sudah turun," imbuhnya.

Diketahui, anggaran yang digelontorkan untuk TMMD Ke-120 tersebut sebesar Rp2 miliar. Terinci, Rp1,8 miliar untuk sasaran fisik, sedangkan Rp200 juta untuk sasaran non fisik. Basri menyebut, TMMD menjadi bagian penting, utamanya sebagai momentum untuk mempererat persatuan dan kesatuan antara TNI, rakyat, dan pemerintah daerah. Pihaknya pun memastikan akan adanya keberlanjutan pembangunan. "Pasti akan berlanjut, sehingga tidak hanya berhenti di sini," pungkasnya. (Jelita Nur Khasanah)

Editor : Indra Zakaria