Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Cerita Operasi Penerjunan Pasukan Indonesia Pertama di Kalimantan

Suyono, S.E • 2024-06-08 11:08:02
MEREBUT KEMERDEKAAN: Para pejuang penerjun payung Agkatan Udara naik pesawat Dakota untuk melakukan penerjunan di Pulau Kalimantan.
MEREBUT KEMERDEKAAN: Para pejuang penerjun payung Agkatan Udara naik pesawat Dakota untuk melakukan penerjunan di Pulau Kalimantan.

SAAT ini penerjunan pasukan sudah bukan barang aneh lagi. Setiap satuan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Polisi sudah memiliki pasukan penerjun. Bahkan, sipil pun kini banyak yang sudah bergiat dalam olahraga terjun payung. Penerjunan pasukan yang paling terkenal sepanjang sejarah perang adalah penerjunan pasukan di Normandia saat perang dunia yang melibatkan tidak kurang dari 13 ribu pasukan.

Pada saat penerjunan itu, sekian banyak pesawat Dakota menerjunkan pasukan sekutu yang dikerahkan untuk dapat segera memenangkan perang di daratan Eropa. Penerjunan di kala itu adalah sebuah langkah yang sangat efektif dalam menembus garis demarkasi kedudukan musuh melalui udara. Sebuah operasi yang sangat efektif yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Sebelum orang menemukan teknologi pesawat terbang, kekuatan udara memang mulai dilihat sebagai sebuah kekuatan yang sangat dapat diandalkan dalam upaya memenangkan pertempuan, dan bahkan memenangkan perang. Tidak banyak yang mengetahui tentang bagaimana dan kapan operasi penerjunan pasukan untuk pertama kali dilakukan oleh pasukan Indonesia. Pelaksanaan penerjunan pasukan Indonesia untuk pertama kali dilakukan pada 17 Oktober 1947.

Blokade di seluruh pantai Pulau Kalimantan oleh kapal-kapal perang Belanda, mengakibatkan pejuang-pejuang dari daerah lain tidak bisa masuk ke wilayah Indonesia, dalam hal ini terutama sekali di Kalimantan. Dalam menghadapi masalah tersebut, Gubernur Kalimantan Ir Pangeran Moehammad Noor pada 25 Juli 1947 mengirim surat kepada Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia, Komodor Udara Suryadi Suryadarma. 

Surat tersebut berisi sebuah permohonan agar Angkatan Udara dapat membantu dengan cara menerjunkan pasukan di tengah-tengah belantara Kalimantan. Angkatan Udara diminta bantuan melaksanakan operasi penerjunan dari udara. Tentu saja permohonan terseut mendapat respons yang positif dari Angkatan Udara. 

 

Untuk keperluan tersebut, dilakukanlah sebuah persiapan yang dilaksanakan di Pangkalan Angkatan Udara Maguwo, Yogyakarta. Sebanyak 72 orang yang terdiri dari 60 orang Kalimantan dan 12 orang lainnya, berasal dari Jawa, Madura, dan Sulawesi, mengadakan latihan terjun payung di bawah pimpinan Mayor Tjilik Riwut. Latihan yang dilakukan dengan persiapan apa adanya namun dengan semangat yang tinggi akhirnya menghasilkan 14 orang terpilih untuk diterjunkan di Kalimantan.

Penerjunan sendiri berhasil dilaksanakan dengan sukses pada 17 Oktober 1947, di atas Kotawaringin, Kalimantan Tengah. Untuk memperingati dan menghormati kegiatan yang sangat heroik itu, setiap tanggal 17 Oktober selalu diperingati sebagai hari jadi Pasukan Khas Angkatan Udara (Paskhas AU).

Inilah sebabnya Angkatan Udara mengabadikan tanggal 17 Oktober sebagai hari untuk pertama kalinya Republik Indonesia melaksanakan operasi udara penerjunan pasukan menggunakan pesawat terbang, dalam hal ini pesawat C-47 Dakota. 

"Blokade di seluruh pantai Pulau Kalimantan oleh kapal-kapal perang Belanda, mengakibatkan pejuang-pejuang dari daerah lain tidak bisa masuk ke wilayah Indonesia, dalam hal ini terutama sekali di Kalimantan"

 

Membentuk dan Menyusun Kekuatan Inti Gerilya

TUJUAN dan tugas operasi penerjunan yang bersifat rahasia itu, adalah membentuk dan menyusun kekuatan inti gerilya di daerah asal suku Dayak, Sepanbiha, untuk membantu perjuangan rakyat setempat; membuka stasiun pemancar induk, serta menyiapkan daerah penerjunan untuk operasi selanjutnya. Dua petugas PHB AURI beserta pemancar radio yang mereka bawa, diharapkan dapat menjadi “pemancar strategis”, sehingga perjuangan rakyat Kalimantan dapat dikoordinasikan dengan perjuangan di Jawa dan Sumatera.

Pesawat yang digunakan adalah Dakota RI-002 dengan pilot yang dipercayakan lagi kepada Bob Earl Freeberg. Adapun yang menjadi co-pilot adalah Opsir Udara III Makmur Suhodo dan Operator Penerjun Opsir Muda Udara III Amir Hamzah. Mayor Tjilik Riwut bertindak sebagai penunjuk daerah penerjunan.

Pesawat berangkat dari Yogyakarta pada tanggal 17 Oktober 1947 pukul 02.30 dini hari, dan waktu menunjukkan pukul 05.30 ketika melayang di atas kawasan rawa-rawa Kalimantan. Tjilik Riwut sempat ragu, tetapi setelah yakin bahwa mereka sudah ada di atas daerah Sepanbiha, maka para pemuda itu pun mulai melakukan penerjunan. Djarni batal meloncat karena takut. Adapun ke–13 anggota pasukan payung yang berhasil mendarat dengan selamat adalah Hari Hadisumantri, Achmad Kosasih, (Mangkahulu), Iskandar, Ali Akbar (Balikpapan), Mica Amiruddin, Emmanuel (Kahayanhulu), C. Williams (Kuala Kapuas), Morawi (Rantau Pulut), Bachri (Barabai), Darius (Kadingan), M. Dachlan (Sampit), J. Bitak (Kepala Baru), dan Suyoto.  

 

Beberapa Orang Tersangkut di Pohon Hutan Rimba

 

 

 

Photo
Photo
PESAWAT BERSEJARAH: Pesawat RI-002 kini menjadi monumen di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

 

OPERASI pertama yang berlangsung pada tanggal 17 Oktober 1947 ini, disertai dropping alat-alat perlengkapan dan perbekalan untuk bergerilya di hutan. Beberapa orang tersangkut pohon-pohon tinggi rimba raya, tetapi tidak menjadi rintangan untuk mendarat tanpa cacat. Mereka baru berkumpul pada hari ketiga. Ternyata mereka tidak mendarat di Sepanbiha, tetapi dekat Kampung Sambi, di antara Sungai Seruyan di barat laut Rantau Pulut, Kotawaringin. Tidak semua parachut dapat ditemukan kembali, demikian juga persediaan amunisi, bahan makanan, alat perkemahan dan veldbed. Andaikata tidak ada pengkhianatan dari Albert Rosing, seorang Lurah Kampung Mayang, yang menyebabkan mereka masuk perangkap, setelah 35 hari di hutan, pasti mereka berhasil. 

Pada dini hari tanggal 23 November 1947, ketika orang masih tidur nyenyak, di sebuah ladang tepi Sungai Koleh (anak Sungai Seruyan), mereka dihujani peluru oleh sepasukan tentara Belanda yang menyerang dari 3 jurusan. Akibatnya tiga orang gugur seketika, yaitu Letnan Udara II Anumerta Iskandar, Sersan Mayor Udara Anumerta Achmad Kosasih, dan Kapten Udara Anumerta Hari Hadisumantri. Suyoto tertawan, sedangkan Dachlan yang mengalami luka berat di leher, bersama Bachri, Ali Akbar, Mica Amiruddin dan yang lain sempat meloloskan diri. Dengan tabah, sisa rombongan melanjutkan bergerilya, tetapi pengepungan pasukan NICA begitu ketatnya, sehingga akhirnya dua bulan kemudian mereka semua tertangkap.

Mereka dibawa ke Banjarmasin, dan kemudian ditawan di Penjara Bukitduri, Jakarta. Tidak lama di Jakarta mereka dibawa kembali ke Banjarmasin, setelah itu mereka dikirim lagi ke Jakarta, masuk Penjara Glodok, kemudian dipindah ke Penjara Cipinang, lalu dijebloskan ke Penjara Bukit Batu di Nusa Kambangan. Pada waktu mendekati penandatanganan KMB di Den Haag, Belanda, mereka ditarik kembali ke Glodok dan akhirnya dikembalikan ke Yogya dengan status bebas. 

 

Ekspedisi ke Kalimantan Memindahkan Makam Tiga Temannya

UNTUK mengenang dan menghormati kepahlawanan para pelopor penerjunan payung yang telah mendahului meninggal dunia, maka pimpinan AURI telah memerintahkan kepada FM. Sujoto, J. Bitak dan Dachlan untuk mengadakan ekspedisi ke Kalimantan guna memindahkan makam ketiga temannya yang telah gugur, ke makam pahlawan Yogyakarta. Demikianlah pada tanggal 15 Maret 1950 mereka bertolak dari Yogyakarta dan apabila dibandingkan dengan dua setengah tahun yang lalu, maka perjalanan sekarang ini adalah jauh lebih berbeda keadaannya, dimana udara tidak lagi diliputi oleh suasana pertikaian dan permusuhan dengan Belanda.

Setelah sampai di Banjarmasin mereka bertemu dengan Mayor Eddie dan mendapat keterangan, bahwa dua minggu yang lalu beliau mengirimkan telegram ke Jakarta yang isinya meminta supaya rencana pengambil­an jenazah ditunda sampai bulan Juli mengingat musim hujan dan bahaya banjir. Saran diterima diberikan pula oleh dari Overste Sukanda Bratamanggala dan Ketua Dewan Dayak, akan tetapi andaikata mereka bermaksud akan melanjutkan perjalanannya, maka akan dibantu sepenuhnya. Untuk keberhasilan pelaksanakan tugas dan kembali tidak dengan tangan kosong, maka mereka memutuskan untuk melanjutkan rencana semula. Setelah dua hari mengadakan persiapan-persiapan, mereka lalu berangkat menuju daerah pedalaman dengan menggunakan kapal motor B-004.(*/net/ono)

 
Editor : Indra Zakaria