Diduga Kelalaian Petugas, Bayi Meninggal di IGD, Buat Laporan Resmi, Manajemen RSUD Lakukan Penelusuran
Redaksi Sapos• 2024-07-02 11:55:34
Situasi RSUD AW Sjahranie di Jalan Palang Merah, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu. (kis)
Pelayanan kesehatan di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) kembali disorot. Seorang bayi perempuan berusia 6 bulan meninggal dunia, Jumat (28/6) malam. Bayi tersebut diduga tidak mendapat penanganan yang memadai selama hampir tiga jam.
Kisah tragis ini bermula ketika bayi yang tinggal di Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tersebut menderita muntaber. Karena tempat tinggalnya yang jauh dari fasilitas kesehatan yang memadai, keluarga memutuskan untuk membawa bayi tersebut ke Samarinda.
Muhammad Yamin (31), paman balita malang ini menjelaskan, sebelum keponakannya dibawa ke RSUD AW Sjahranie, pihak keluarga telah memeriksakan kondisinya di sebuah klinik di Muara Badak.
"Karena kondisi medis yang mengkhawatirkan, pihak klinik menyarankan untuk membawa bayi ke rumah sakit di kota (Samarinda). Kami sempat ke RSIA Qurata Ayun (Jalan A Yani-Samarinda), tetapi karena kondisi bayi lemas, kami disarankan ke RSUD AW Sjahranie. Rumah sakit ini fasilitasnya lebih lengkap," ungkap Yamin dengan nada penuh penyesalan.
Setibanya di RSUD AW Sjahranie pukul 18.10 Wita, keluarga langsung disambut oleh petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang menanyakan kondisi bayi. Namun, meski sudah berada di ruang IGD, bayi tersebut belum mendapatkan penanganan yang semestinya.
Sementara, kondisi bayi kian lemas. Tak lama kemudian, seorang perawat datang dan mencoba memasang selang infus pada bayi, namun gagal karena tidak menemukan pembuluh darah. Keluarga diminta untuk menunggu dokter spesialis anestesi yang sedang menjalani operasi.
"Sekitar lima menit telah berlalu, saya kembali menanyakan perihal penanganan. Kami tetap disuruh tunggu dokter anestesi," lanjut Yamin dengan nada cemas. Keluarga sempat mengusulkan untuk mendatangkan dokter anestesi lain, namun pihak perawat menyampaikan bahwa mereka akan berkoordinasi kembali. Setelah sekitar tiga menit, Yamin kembali mendatangi perawat tersebut untuk menanyakan kondisi bayi yang belum tertangani.
"Berulang kali saya tanyakan, jawaban perawat tetap disuruh tunggu sebentar," jelasnya dengan nada putus asa. Upaya lain untuk memasang selang infus kembali gagal, membuat kondisi bayi semakin mengkhawatirkan.
Jelang pukul 21.00 Wita, kondisi bayi semakin kritis karena tidak ada cairan yang masuk ke tubuhnya dan hanya dipasang oksigen. Dalam kondisi yang makin melemah, seorang dokter umum datang dan memompa jantung bayi, disusul oleh dokter lainnya.
"Dokter tersebut bilang ke saya, mohon maaf pak ya, kondisi anak sedang tidak baik, berdoa saja ya pak," cerita Yamin dengan air mata mengalir. Setelah sekitar 20 menit penanganan, bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia.
Keluarga terkejut mendengar pernyataan ini. Pihak keluarga sangat menyesalkan dengan dugaan kelalaian petugas rumah sakit dalam penanganan buah hati mereka. Pihak keluarga meminta laporan terkait kronologis penanganan bayi tersebut.
"Kami minta kronologis berita acara untuk dibuatkan dan langkah jalur hukum akan kami tempuh," tutup Yamin dengan tegas. Dikonfirmasi terpisah, Kepala Instalasi Hubungan Masyarakat (Humas) RSUD Abdoel Wahab Sjahranie, dr. Arysia Andhina menyatakan, pihak rumah sakit akan menelusuri kasus tersebut.
"Pasien datang dengan keadaan dehidrasi, karena muntaber dan sudah ditangani di IGD. Pihak keluarga sudah ada komplain ke RSUD AWS dan sudah bertemu dengan Direktur RSUD AWS, dr. David Hariadi Masjhoer. Masalah ini akan ditindaklanjuti dan ditelusuri oleh manajemen RSUD AWS," kata dr Arysia.
Tragedi ini menambah panjang daftar kasus yang menunjukkan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Keluarga korban berharap kejadian serupa tidak terulang dan meminta pihak terkait untuk lebih serius dalam menangani setiap pasien yang membutuhkan perawatan darurat. Dengan begitu, tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia akibat kelalaian pelayanan kesehatan. (kis/nha)