Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Guru Besar Itu Berpulang saat Hari Pendidikan Nasional  

Faroq Zamzami • 2025-05-02 09:55:27
Sarosa Hamungpranoto
Sarosa Hamungpranoto

Catatan: Faroq Zamzami

(Jurnalis Kaltim Post dan Prokal.Co) 

PROKAL.CO-Saya masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, pada 2002.

Saat itu, Bapak Prof Sarosa Hamongpranoto sudah ada di puncak karier di level fakultas. Beliau sudah menjabat sebagai dekan. Selain itu, nama beliau juga dikenal sebagai pencetus Fakultas Hukum di Unmul.

Bagi kami, khususnya saya, saat itu, sebagai mahasiswa baru, melihat sosok beliau adalah akademisi yang elegen. Tampilannya necis.

Selalu mengenakan hem lengan panjang yang masuk ke celana bahan. Mengenakan dasi. Sesekali dipeluk jas. Gambaran pendidik yang kharismatik dengan pembawan yang tenang. 

Semua tahu, tak hanya penghuni Fisipol, penghuni Unmul, bahkan warga Samarinda atau Kalimantan Timur (Kaltim) yang kenal, beliau adalah pribadi yang teduh dengan tutur kata yang tertata.   

Sebagai mahasiswa tak banyak kenangan yang terukir tentang beliau. Tapi ada satu cerita yang selalu membekas.

Pada 2005. Kami dari lembaga mahasiswa Fisipol ingin mengikuti pertemuan nasional di Malang, Jawa Timur. Tepatnya di Universitas Brawijaya.

Butuh banyak dana segar untuk bisa berangkat. Maka saya dan dua rekan saya, menenteng proposal menuju rumah Pak Sarosa di Jalan Pramuka, Samarinda. Baru habis Magrib.

Dengan malu-malu khas mahasiswa yang membutuhkan bantuan, kami menyodorkan proposal kepada beliau.

Pada 2005 itu Pak Sarosa sudah tak menjadi dekan. Beliau menduduki posisi dekan dua periode hingga 2003. Setelah itu beliau ikut suksesi rektor Unmul. Dan kalah saat dua atau tiga nama, salah satu nama beliau, digodok di level pusat.

Pak Sarosa sempat bercerita seputar suksesi rektor itu. Tentang dinamikanya. Tentu tak akan saya bahas di sini. Intinya ramai cerita beliau saat itu. Cukup lama kami menjadi pendengar setia saat itu.

Dan intinya, sepulang dari rumah beliau kami dapat sangu. Angka yang cukup banyak bagi mahasiswa tahun itu untuk menjadi amunisi dalam pertemuan nasional.

Saya baru mulai akrab dengan Pak Sarosa justru setelah lulus kuliah. Saat saya bergabung sebagai jurnalis di Kaltim Post pada 2007. Tahun-tahun itu, di lingkungan jurnalis di Kaltim, nama Pak Sarosa sangat harum.

Sebut saja rekomendasi untuk pengamat sosial dan politik, serta hukum, nama beliau pasti yang disodor paling atas.

Maka tak heran, foto beliau selalu berseliweran di media masa saat itu. Tak hanya di Kaltim Post tentu. Di semua media massa, tak hanya koran, elektronik juga.

Sebagai pengamat, beliau selalu memberi analisis yang komprehensif. Tajam. Bebas nilai. Dan komentar beliau ketika dimintai tanggapan tentang sesuatu selalu menarik. Membuat wartawan tak perlu repot menentukan angle atau memilih judul.

Dari kalimat-kalimatnya yang menyoroti sesuatu itulah bisa menghadirkan banyak judul. Banyak sudut pandang. Maka tak heran, beliau jadi media darling saat itu.

Dulu, bisa tiap hari saya menelepon beliau jika ada suatu isu yang sedang hangat. Dan selalu diangkat. Dan selalu memberikan tanggapan yang bernas.

Pagi tadi, Jumat, 2 Mei 2025, saat Hari Pendidikan Nasional, saya menerima pesan WhatsApp (WA) dari Pak Irianto Lambrie, mantan Sekprov Kaltim dan mantan Gubernur Kaltara.

Isinya tentang berita duka kepergian Pak Sarosa. Beliau meninggal dunia pada usia 78 tahun pada Jumat, 2 Mei 2025, Pukul 03.27 Wita.

Salah satu kalimat yang memantik perhatian saya dari rangkaian ungkapan belasungkawa dari Pak Irianto itu adalah,”Seorang Guru Besar yang Wafat pada Hari Pendidikan Nasional. Hari Jumat pula.”

Selain dari Pak Irianto, ucapan belasungkawa juga mengalir di grup-grup WA yang saya tergabung di dalamnya.

Atau dari status WA beberapa rekan yang satu almamater dengan saya. Atau yang kenal dengan Pak Sarosa. Dan dari ucapan belasungkawa dan ucapan duka melalui status di WA itu, umumnya bersaksi beliau adalah orang baik. Selamat jalan, Pak. (*)

Editor : Faroq Zamzami
#UNMUL #guru besar #samarinda #kaltim