Oleh : Aulia Nabila
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman Angkatan Tahun 2024
Perempuan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan manusia yang memiliki (alat kemaluan), dapat menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. 1
"Kodrat" berarti hal-hal yang melekat pada seseorang sejak lahir, bukan yang dilekatkan orang lain.2 Dapat disimpulkan singkatnya “kodrat perempuan” berarti kekuasaan Tuhan yang melekat sejak ia lahir, ia memiliki alat kemaluan, dapat menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui yang terbentuk secara alamiah bukan dari kontruksi sosial.
Dalam KBBI tidak dikatakan bahwa kodrat perempuan itu di “sumur, dapur dan kasur”. Apakah salah perempuan bekerja di “sumur, dapur, dan kasur”?, Meski tidak salah perempuan bekerja di area tersebut, stigma buruk yang melekat pada
ungkapan ini telah melahirkan pandangan sempit bahwa kodrat perempuan hanya sebatas urusan domestik.
Kenapa sih stigma ini masih hidup? ada aturan tak tertulis yang dibuat manusia terus mengurung perempuan dalam Kotak sempit, kodrat perempuan saat ini sudah di intervensi oleh kontruksi sosial hingga hal tersebut membunuh kesetaraan. Jadi, kalau ada yang bilang “kodrat perempuan itu cuma di sumur, dapur, dan kasur,” itu bukan kodrat, melainkan mitos patriarki yang sudah usang dan harus kita lawan.
Hal yang sangat merepresentasikan perjuangan perempuan itu bagi saya, ya Ibu, tulisan ini akan membahas lebih lanjut terkait kodrat perempuan dalam konteks seorang ibu dari menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui.
Menstruasi bukan hanya sekadar keluarnya darah; ia juga melibatkan perubahan hormonal yang mempengaruhi suasana hati dan kesehatan fisik. Data dari WHO, 2 Tahun lalu ada sekitar 260.000 perempuan meninggal setiap hari akibat komplikasi saat hamil dan melahirkan di seluruh dunia.3
Kemudian Belum lagi masuk kedalam fase menyusui yang sangat menguras tenaga, dilain sisi ditambah dengan beban domestik kehidupan berkeluarga. Apakah dengan semua perjuangan itu perempuan masih pantas di cap lemah?. Mari berfikir, worth it kah rasa sakitnya melahirkan seorang perempuan dicompare dengan sakitnya laki-laki saat di khittan?
Pada Maret 2023, dalam acara Mata Najwa, Rocky Gerung menyatakan bahwa perempuan memang dirancang untuk menahan rasa sakit atau penderitaan, terutama yang berkaitan dengan pengalaman biologis seperti menstruasi dan melahirkan. Ia menjelaskan bahwa laki-laki (male) tidak dirancang untuk menahan sakit seperti perempuan, yang secara kodrati harus menghadapi berbagai bentuk penderitaan fisik yang berat.
Rocky bahkan menegaskan, “Denny misalnya, kalau lo bisa menstruasi, hari ketiga lo pingsan. Kalau bisa melahirkan, bukaan keempat lo meninggal.” Menurutnya, pria tidak kuat menahan sakit karena mereka bukan pria secara kodrat, melainkan male yang tidak dirancang untuk menahan penderitaan seperti perempuan.
Pernyataan ini menegaskan bahwa perempuan jauh lebih kuat karena mampu menahan berbagai kesakitan dan penderitaan tersebut. Banyak sekali kesalahan berfikir orang-orang terkait gender, dalam “Modul Tentang Kita” sosialisasi
program BKKBN, BKKBN bilang gender adalah hasil kesepakatan sosial, bukan kodrat alami.i
Artinya, peran perempuan dan laki-laki yang kita lihat selama ini siapa yang harus ngapain itu dibentuk oleh budaya, politik, ekonomi, bahkan interpretasi agama yang bisa berubah. Kesetaraan gender itu bukan soal menghapus perbedaan kodrat, tapi soal memberikan hak dan kesempatan yang sama. Perempuan boleh menstruasi, melahirkan, menyusui, tapi itu bukan alasan untuk mengurung mereka dalam peran sempit.
Justru, kesetaraan berarti perempuan dan laki-laki punya ruang yang sama untuk berkontribusi di politik, ekonomi, pendidikan, dan lainlain tanpa diskriminasi. Singkatnya, gender itu bukan kodrat seperti perempuan yang menstruasi, melahirkan, menyusui dan lakilaki yang memiliki buah zakar, kodrat dapat diartikan sebagai kekuasaan Tuhan atau hukum alam.
Sedangkan gender adalah peran yang melekat pada laki-laki/perempuan, cacat berfikir dalam pemaknaan gender akan mengakibatkan ketidakadilan gender. Dengan demikian, kodrat perempuan yang melekat secara biologis bukanlah penghalang atau pembunuh kesetaraan, melainkan sebuah kenyataan alamiah yang harus dihormati dan dipahami dengan bijak.
Ketika kodrat perempuan disalahartikan dan dikurung dalam stereotip sempit seperti “sumur, dapur, dan kasur,” maka di situlah terjadinya pembantaian kesetaraan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memisahkan antara kodrat yang bersifat alami dengan konstruksi sosial yang membatasi, agar perempuan dapat menjalankan perannya secara utuh dan setara dalam masyarakat, tanpa diskriminasi dan prasangka.
Kesetaraan bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan memberikan keadilan yang menghargai keberagaman kodrat dan peran setiap individu. Saya tidak bisa memilih untuk tidak lahir sebagai seorang perempuan, jangan ditambah lagi dengan membatasi pilihan perempuan sekedar “sumur, dapur, dan kasur”. (*)
1 "Perempuan," Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, diakses 4 Juni 2025, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/perempuan . 2 “ibid”. 3 World Health Organization, “Maternal mortality,” 7 April 2025, https://www.who.int/news-room/factsheets/detail/maternal-mortality.
i Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Modul Tentang Kita: Modul Pendidikan Kespro dan Gender untuk Remaja, Jakarta: BKKBN, 2017, https://www.bkkbn.go.id/storage/modul/modul-tentang-kita.pdf.
Editor : Indra Zakaria