Kadang kita ngerasa prestasi besar itu cuma bisa dicapai sama anak-anak dari kota besar, dari kampus-kampus terkenal yang namanya sering wara-wiri di media. Tapi nyatanya, gak harus selalu gitu. Salah satu buktinya datang dari Charlos Falentino, mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Mulawarman (Unmul), yang berhasil lolos sebagai peserta Clash of Champions Season 2 (CoC)—sebuah kompetisi adu pintar yang isinya mahasiswa dari kampus-kampus top se-Indonesia, bahkan luar negeri.
Charlos bukan dari kampus yang biasa muncul di headline nasional.
Tapi sekarang, namanya ada di antara peserta dari UI, ITB, sampai Oxford. Bukan hal kecil—apalagi untuk mahasiswa dari Samarinda, kota yang gak terlalu sering disebut di peta kompetisi nasional.
Kalau dilihat dari profilnya, Charlos bukan tipe yang suka tampil heboh. Gayanya kalem, pembawaannya sederhana. Tapi kalau soal prestasi? Jelas gak bisa dianggap enteng. Mulai dari medali ONMIPA 2024, sampai Gold Medal di Kompetisi Sains Ruangguru (KSR) tahun 2021—itu bukti kalau kerja kerasnya bukan main-main.
Dari Kampus ke Layar Nasional
Kehadiran Charlos di CoC bukan cuma bikin Unmul bangga, tapi juga bawa nama Samarinda dan Kalimantan Timur ikut dikenal. Ini penting, karena selama ini, belum pernah ada perwakilan dari Pulau Kalimantan di kompetisi ini. Dan kalau kita lihat, CoC bukan cuma soal adu hafalan. Tapi juga cara menyampaikan ide, berpikir kritis, dan bersaing secara sehat.
Melihat anak Samarinda bisa sampai ke level itu bikin kita mikir: ternyata bisa kok. Bisa banget, malah.
Gak Harus Jadi Charlos, Tapi Bisa Terinspirasi
Charlos mungkin gak mewakili semua orang. Tapi dari pencapaiannya, kita bisa dapet pelajaran: anak daerah juga punya peluang, asal dikasih kesempatan dan mau nyoba. Kadang, yang dibutuhkan cuma satu orang buat buka jalan—dan Charlos bisa jadi pemantik semangat buat pelajar di Samarinda, atau siapa pun yang ngerasa jauh dari pusat.
Biasanya kita cuma nonton anak-anak kampus besar tampil di YouTube. Tapi sekarang? Ada juga suara dari Sungai Mahakam yang kedengaran. Dan itu bikin bangga. (Arsandha Agadistria Putri)
Editor : Indra Zakaria