Catatan: Faroq Zamzami
(Senior Editor Kaltim Post)
PROKAL.CO-Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kalimantan Timur (Kaltim) sekarang kurang begitu asyik.
Saat ini musda sedang dipersiapkan. Ajang memilih ketua tingkat provinsi. Tapi jalan ke sana sepi. Tenang. Tak tercium aroma suksesi. Tak ada sengitnya kompetisi. Tak ada drama. Ah, terlalu diam.
Seakan tak tergambar sebuah dinamika di partai besar, berpengalaman, dan dinamis.
Tak terasa rivalitas seperti dulu. Tiap akan musda. Tiap jelang suksesi. Yang ramai. Yang riuh. Yang sengit. Bahkan adu urat leher jadi hal biasa. Dulu. Biasa begitu.
Bukan mau romantisme, tetapi dulu, jelang musda, minimal muncul kubu. Ada blok yang akan beradu. Adu ide. Adu program.
Menarik dinikmati publik. Jadi pembahasan politik warga lokal. Jadi nutrisi otak bapak-bapak saat bincang-bincang di warung kopi dekat terminal bus. Dulu.
Tahukah Anda, pengambilan formulir persyaratan untuk musda sudah dibuka sejak 19 Juni - 6 Juli 2025.
Dan dalam kurun waktu yang cukup panjang itu, sekira tiga minggu itu, suasana untuk suksesi periode 2025-2030 itu begitu tenang.
Dan sampai batas waktu, hanya satu kandidat yang mengambil formulir. Rudy Mas’ud.
Musda Golkar Kaltim 2016 salah satu yang ramai. Saat itu, walau Rita Widyasari, calon kuat memimpin Golkar Kaltim, tetap ada rival.
Jelang musda tahun 2016 itu, dari buka-buka data, setidaknya sejumlah nama kader muncul untuk bersaing.
Ada nama Dahri Yasin. Makmur HAPK, hingga Andi Harahap, perwakilan kader partai dari selatan Kaltim.
Dan semakin mendekati pelaksanaan musda mengerucut pada dua kandidat kuat. Said Amin dan Rita Widyasari.
Musda terakhir 2020 juga memunculkan sejumlah nama.
Selain Rudy Mas’ud yang kemudian terpilih, ada nama kader senior Golkar, Makmur HAPK. Bahkan nama Isran Noor, gubernur Kaltim saat itu, mencuat.
Dan data lain yang saya temukan bahkan ada sembilan calon yang mendaftar untuk ikut suksesi periode itu.
Akhirnya, pada musda 2020 itu, diputuskan musyawarah mufakat dengan terpilihnya Rudy Mas’ud.
Soal bagaimana akhirnya proses terpilih, itu soal lain, karena yang dibutuhkan adalah geliat demokrasi di tubuh partai ini tiap jelang suksesi.
Yang menunjukkan partai ini terus bergairah, punya banyak kader mumpuni, hingga menjadi cerminan partai yang demokratis.
Sekarang, baru awal-awal, belum apa-apa, sudah terdengar suara aklamasi.
Seperti bukan Golkar yang banyak melahirkan tokoh kesohor sejak zaman sebelum reformasi.
Musda Golkar Kaltim sekarang enggak begitu asyik. Tokoh-tokohnya pada ke mana? Pesohornya tak ada suara.
Tokoh-tokoh pemuda, yang juga sesekali kerap muncul satu dua nama, sebagai calon alternatif untuk sekadar dibicarakan dan memunculkan gagasan berbeda, dulu, sekarang sedang di mana?
Bukan mau romantisme. Golkar Kaltim dari dulu punya banyak tokoh. Sebut saja siapa. Tersebar di penjuru provinsi.
Dari daerah bahkan bisa ada satu dua nama yang diajukan untuk maju saat suksesi di level provinsi. Dulu.
Sekarang pun tentu masih banyak tokohnya, tapi mana suaranya untuk meramaikan musda kali ini?
Musda Golkar Kaltim sekarang tak lagi asyik. Mau suksesi yang maju cuma satu. Yang lain ke mana?
Sudah diprediksi. Jadi sudah ketahuan. Siapa lagi yang jadi pemimpinnya.
Musda Golkar harusnya asyik. Idealnya sudah “bergejolak” jauh hari sebelum musyawarah digelar.
Nama-nama calon muncul. Tiap kubu saling sorong keunggulan kandidat. Ide bermunculan. Gairah kompetisi terasa.
Gagasan memajukan partai beradu di ruang publik.
Tiap ada suksesi internal harusnya memunculkan tensi. Bukti ada kubu yang berkompetisi. Ada yang berseberangan. Ada yang tak sependapat. Tak melulu harus menyorong kata solid.
Lantas kenapa sekarang tak begitu? Entah. Satu kata ini dulu jawaban saya, karena saya tak punya tendensi apa-apa, dan menulis ini sebagai kontrol media.
Apa karena sekarang Golkar Kaltim tak lagi menghasilkan tokoh-tokoh mumpuni, atau didesain tak ada tokoh yang muncul sementara ini, atau ada yang mau muncul dijegal jangan dulu beraksi?
Mana yang benar, entah, kita, publik yang awam, hanya pendengar dan “pengamat”.
Ya, kita juga tidak mengesampingkan prestasi Rudi Mas’ud selama memimpin Golkar Kaltim lima tahun terakhir ini.
Golkar menguasai provinsi. Pada pemilu 2019, partai berlambang pohon beringin ini mengantongi 350 ribu suara dengan 12 kursi di DPRD Kaltim.
Rudy berhasil mendongkrak suara yang dikantongi partai, bertambah jadi 500 ribu dengan tambahan tiga kursi di Karang Paci, sebutan DPRD Kaltim.
Di pemilihan gubernur (pilgub), Golkar juga menang dan mendudukkan Rudy sebagai pemimpin Kaltim.
Ini kabarnya jadi alasan kader lain duluan keder. Karena Golkar Kaltim kini solid. Golkar Kaltim kini tumbuh di bawah Rudi.
Ya sudah lah, sebagai penikmat kontestasi politik, kali ini kita redam dulu keinginan merasakan sengitnya suksesi di salah satu pertai politik tertua di negeri ini.(*)
Editor : Faroq Zamzami