Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Scroll Terus, tapi Cukup Peduli? Ukraina Butuh Lebih dari Simpati

Redaksi • 2025-07-17 15:40:37
Photo
Photo

Oleh: Dwi Nurisma (CPNS Pusjar SKPP-Lembaga Administrasi Negara)

Bayangkan Gen Z yang tiba-tiba menjumpai video konflik Ukraina ada ledakan, pengungsian, suara sirene. Mereka terserentak, merasakan simpati, namun tak lama kemudian layar berganti ke feed meme. Di sinilah muncul pertanyaan, apakah simpati bisa di wujudkan sebagai aksi nyata seperti nilai bela negara?

Bela negara di era digital jauh melampaui tugas militansi fisik, tetapi juga keterjaminan sumber informasi seperti verifikasi hoaks. Di Indonesia, UU No. 3 Tahun 2002 beserta inisiatif Kemkominfo, UNPAR dan USU menekankan bahwa bela negara mencakup literasi digital yaitu kemampuan untuk berpikir kritis dan mengedukasi diri sendiri serta orang lain. Ini bagian menjaga kedaulatan data dan opini, bukan sekedar perang fisik. 

Namun Gen Z juga menghadapi tantangan signifikan seperti news fatigue yaitu kondisi seseorang kelelahan secara psikologis akibat paparan terus-menerus terhadap berita terutama konten negatif yang membuat seseorang merasa stres, kewalahan, atau bahkan mati rasa terhadap informasi baru, dengan tanda-tandanya cenderung menghindari konten berita dan berkurangnya rasa empati misalnya merasa acuh terhadap berita traumatis. Mereka juga menghadapi tantangan burnout emosional dimana efek stres akibat paparan konflik global nonstop. Akibatnya, banyak yang memilih mengabaikan konten serius, lalu kembali ke modus “scroll sambil sekadar simpati”. Ini bukan hanya soal etika digital, tetapi juga tentang kesiapan mental dan kapasitas emosional untuk terlibat dalam isu kompleks.

Namun, tidak semua hanya berhenti di layar. Beberapa pelajar dan mahasiswa menyelenggarakan webinar edukatif tentang pengungsi Ukraina, atau menggalang dana lewat platform crowdfunding untuk alat medis. Ada pula PR Army yaitu platform “Voices of Freedom” yang menghubungkan lebih dari 80 narasumber tepercaya guna melawan propaganda Rusia. Kampanye “Be Brave Like Ukraine”, digagas oleh Banda Agency dan pemerintah Ukraina, muncul di Times Square dan 150 lebih kota di seluruh dunia tanpa biaya iklan yang mencapai lebih dari 2 miliar impresi Kampanye ini berfungsi sebagai panggilan universal untuk keberanian, memicu solidaritas nyata melalui donasi, advokasi internasional, dan kesadaran global.

Simpati terhadap perang Ukraina bisa dipahami sebagai batu tancapan dalam membangun semangat bela negara generasi milenial. Solusi nyata yang dapat dilakukan Gen Z menggunakan simpati sebagai jembatan ke aksi Setiap video yang mengundang simpati misalnya warga Ukraina di bunker bukan hanya sekadar klik dan lewat, tetapi dijadikan pemicu untuk melakukan verifikasi fakta setiap video atau artikel sebelum dibagikan, menyebarkan narasi kemanusiaan yang akurat hindari hoaks, dan mendorong teman untuk ikut mendukung lewat petisi atau donasi. Jaga kesehatan mental untu membatasi konsumsi konten traumatis, istirahat, dan diskusi dengan teman. 

Dengan menjaga nilai Pancasila bukan sekadar ideologi negara, melainkan pedoman moral yang mencakup nilai-nilai seperti kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan keadilan sosial, patriotisme digital membawa Gen Z bukan sekadar menjadi pendukung bangsa, tetapi pembela kemanusiaan global contoh nyata seperti aktif membuat konten positif berbasis Pancasila di media sosial dengan menggunakan bahasa kekinian namun tetap mendidik Program seperti kolaborasi influencer, kontes video patriotik digital, atau kuis interaktif di media sosial menjadi sarana efektif memperkuat nilai kebangsaan di kalangan Gen Z digital .

Secara ideal, simpati tak berhenti di layar ia memicu literasi media, meningkatkan empati global, serta menggerakkan aksi nyata baik di ruang digital maupun offline. Ini menunjukkan solidaritas Gen Z membela bangsanya sekaligus membela kemanusiaan, tapi juga memperluas makna bela negara menjadi bela kemanusiaan global, karena memperjuangkan kebenaran dan keadilan untuk orang lain adalah bagian dari mempertahankan nilai-nilai bangsa. (*)

Editor : Indra Zakaria