Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kenapa Gen Z Makin Banyak yang 'Childfree'? Ini 3 Alasan Utamanya

Redaksi • 2025-08-04 12:35:00
Ilustrasi Gen Z.
Ilustrasi Gen Z.

Fenomena child free atau keputusan untuk tidak memiliki anak mulai banyak dibicarakan, khususnya di kalangan generasi muda. Di Indonesia sendiri, mulai terlihat adanya perubahan pola pikir di kalangan generasi Z (Gen Z) terkait kehidupan berkeluarga.

Di mana, jika pada masa sebelumnya memiliki anak dianggap sebagai bagian penting dari pernikahan dan tujuan hidup, kini tak sedikit anak muda justru mulai mempertanyakan dan bahkan menolak pandangan tersebut.

Keputusan untuk menjadi child free bukanlah hal yang diambil secara sembarangan. Banyak Gen Z yang memilih jalan ini setelah mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari ekonomi, mental, hingga lingkungan.

Mereka tidak serta merta memusuhi konsep keluarga atau anak-anak, tetapi lebih pada refleksi atas realita sosial dan beban yang ditanggung oleh generasi mereka. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, ketidakstabilan pekerjaan, dan tekanan sosial yang besar, menjadi orang tua kini bukan hanya soal kesiapan biologis, tetapi juga kesiapan finansial, emosional, dan psikologis yang tidak ringan.

Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, M.Psi., Psikolog menyampaikan bahwa sudah banyak sejumlah Gen Z yang memutuskan untuk child free. Alasan utamanya yaitu demi menjaga kestabilan hidup pribadi mereka. Meski begitu hal ini bukan bentuk penolakan terhadap nilai-nilai budaya atau agama.

Adapun alasan lainnya mengapa Gen Z sudah banyak yang memutuskan untuk child free di antaranya yaitu sebagai berikut: .

1. Ketidakstabilan Ekonomi

Salah satu alasan utama yang sering dikemukakan oleh Gen Z adalah faktor ekonomi. Gardhika mengatakan, banyak anak muda merasa bahwa penghasilan yang mereka dapatkan belum cukup untuk menopang kehidupan keluarga, apalagi membesarkan anak. Jadi mereka yang mau child free ini alasannya karena biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan anak lainnya sangat tinggi.

Belum lagi jika dihadapkan pada kondisi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau krisis ekonomi. "Bagi mereka, memilih untuk child free adalah cara untuk menghindari beban finansial yang berlebihan di masa depan," kata Gardhika saat dihubungi Berau Post, Sabtu (2/8).

2. Kesehatan Mental dan Tekanan Sosial

Banyak anak muda saat ini semakin menyadari pentingnya kesehatan mental. Mereka merasa menjadi orang tua di zaman sekarang bukan hanya membutuhkan kesiapan fisik, tetapi juga mental yang kuat.

Selain itu, mereka yang memutuskan untuk child free menilai tekanan menjadi orang tua yang "sempurna" dan tuntutan sosial yang tinggi justru dianggap bisa merusak keseimbangan psikologis jika tidak dipersiapkan dengan matang.

"Beberapa Gen Z di Berau yang berkonsultasi memutuskan untuk child free juga mengungkapkan mereka masih ingin fokus membangun karier, merawat diri, atau mengejar cita-cita pribadi sebelum mengambil tanggung jawab besar seperti membesarkan anak," imbuhnya,

3. Pengalaman Masa Kecil yang Kurang Positif

Tak hanya itu, pengalaman masa kecil yang penuh tekanan, kurang kasih sayang, atau menyaksikan konflik dalam keluarga juga menjadi alasan untuk tidak ingin mengulang pola yang sama.

Memang faktor paling banyak dari mereka yang memutuskan untuk child free yaitu karena rasa trauma akibat pengalaman masa kecil yang kurang positif. Mereka merasa belum sembuh sepenuhnya dari luka emosional yang dialami, sehingga takut tidak bisa menjadi orang tua yang baik di masa depan.

"Dengan kesadaran ini, mereka memilih untuk tidak memiliki anak sampai benar-benar yakin dan siap secara utuh, bahkan jika itu berarti memilih untuk child free seumur hidup," katanya.

Pilihan untuk tidak memiliki anak memang masih menjadi topik yang sensitif di banyak kalangan, termasuk di Berau yang kental dengan nilai budaya dan kekeluargaan.

Namun, keputusan Gen Z untuk menjadi child free sebaiknya dipahami sebagai bagian dari hak pribadi dan refleksi zaman yang terus berubah. Meski demikian, Gardhika bilang, bukan berarti semua anak muda akan mengikuti jalan yang sama.

Banyak juga yang tetap ingin berkeluarga dan memiliki anak, tetapi dengan pendekatan yang lebih sadar dan terencana. Yang paling penting, setiap pilihan hidup perlu dihormati dan didukung selama tidak merugikan orang lain.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda saat ini bukan tidak peduli pada keluarga, tetapi justru ingin menciptakan kehidupan yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk masa depan yang mereka yakini," pungkasnya. (*)

Editor : Indra Zakaria