SAMPIT – Kota Sampit kini mulai dikepung bau asap menyengat seiring dengan meningkatnya intensitas kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Aroma sisa pembakaran yang tertinggal dari malam hingga pagi hari menjadi tanda nyata bahwa Kabupaten Kotawaringin Timur sedang berada dalam masa siaga darurat kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini dipicu oleh menurunnya intensitas curah hujan yang menyebabkan lahan gambut di wilayah tersebut menjadi sangat kering dan sangat rentan tersulut api.
Salah satu insiden besar yang ditangani oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur terjadi di kawasan Jalan Sawit Raya pada Rabu sore. Lahan seluas kurang lebih delapan hektare hangus terbakar dalam waktu singkat, memicu pengerahan belasan personel gabungan untuk menjinakkan api. Meskipun Tim Reaksi Cepat telah berupaya maksimal melakukan pemadaman sejak sore hari, tebalnya lahan gambut yang mencapai enam puluh hingga delapan puluh sentimeter menjadi penghalang utama karena api terus merambat di bawah permukaan tanah.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menjelaskan bahwa tantangan di lapangan tidak hanya soal jenis lahan yang terbakar, tetapi juga sulitnya akses jalan bagi mobil tangki untuk menjangkau titik api. Minimnya sumber air di sekitar lokasi kejadian menambah berat beban para petugas yang harus berjuang menghentikan laju api sebelum meluas ke area lain. Proses pemadaman terpaksa dihentikan sementara menjelang malam hari karena kendala penglihatan di lokasi yang sudah gelap, namun petugas tetap melakukan pemantauan intensif untuk memastikan api tidak kembali berkobar.
Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur telah resmi mengaktifkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan yang berlaku sejak tanggal dua puluh tiga Januari hingga dua puluh satu Februari mendatang. Penetapan status ini dilakukan sebagai langkah antisipasi mengingat prakiraan cuaca menunjukkan kondisi kering akan terus berlanjut. Pihak BPBD juga telah menyiagakan seluruh sarana dan prasarana pendukung guna menghadapi potensi lonjakan titik panas di berbagai wilayah kecamatan.
Multazam juga memberikan peringatan keras kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak melakukan pembersihan atau pembukaan lahan dengan cara dibakar. Kesadaran warga dianggap sebagai kunci paling krusial untuk mencegah bencana asap yang lebih luas, mengingat dampak kesehatan dan aktivitas ekonomi yang dipertaruhkan jika kebakaran gambut gagal dikendalikan. Tim gabungan akan terus melakukan pemantauan rutin dan evaluasi harian terhadap setiap titik api yang muncul guna memastikan stabilitas kualitas udara di Kota Sampit tetap terjaga.(*)
Editor : Indra Zakaria