Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sungai Mentaya Mulai Asin, Krisis Air Bersih Mulai Menerpa Wilayan Selatan Kotim

Redaksi Prokal • 2026-02-01 10:00:00
BPBD Kotim distribusikan air bersih untuk warga di Desa Bagendang Permai yang mengalami krisis air bersih, Kamis (29/1). (istimewa/BPBD Kotim )
BPBD Kotim distribusikan air bersih untuk warga di Desa Bagendang Permai yang mengalami krisis air bersih, Kamis (29/1). (istimewa/BPBD Kotim )

 

SAMPIT – Krisis air bersih mulai melanda sejumlah wilayah di selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akibat minimnya curah hujan dalam dua pekan terakhir. Menanggapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 22.000 liter untuk warga Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara.

Penyaluran bantuan ini dilakukan menggunakan lima unit mobil tangki guna menjangkau 30 kepala keluarga (KK) yang terdampak langsung. Langkah darurat ini diambil setelah pemerintah desa melaporkan bahwa sumber air utama warga, yakni Sungai Mentaya, mengalami intrusi air laut sehingga rasanya berubah menjadi asin dan tidak layak dikonsumsi. Kondisi ini diperparah dengan menipisnya cadangan air hujan yang selama ini menjadi tumpuan warga yang belum teraliri jaringan PDAM.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menjelaskan bahwa pendistribusian air bersih ini merupakan tindak lanjut dari permohonan resmi pihak kecamatan dan desa pada 26 Januari lalu. Selain Desa Bagendang Permai, BPBD juga telah menjadwalkan bantuan serupa untuk Desa Regei Lestari di Kecamatan Teluk Sampit dengan kuota sekitar 20.000 liter untuk memenuhi kebutuhan 77 kepala keluarga.

Kepala Desa Bagendang Permai, Kuryadi, menyampaikan apresiasinya atas bantuan yang telah diterima warga di RT 1 RW 1 serta Jalan HM Arsyad Km 28. Menurutnya, bantuan ini sangat krusial bagi warga yang hanya mengandalkan penampungan profil tank. Pihak desa sendiri sebenarnya telah berupaya mengantisipasi krisis ini secara jangka panjang melalui pengadaan profil tank menggunakan dana desa secara bertahap sejak tahun 2023 hingga 2025.

Meskipun sebagian besar RT di desa tersebut telah menerima bantuan sarana penampungan air maupun teraliri pipa PDAM, masih terdapat sekitar 30 rumah di RT 2 yang hingga kini masih bergantung sepenuhnya pada air hujan dan sumur. Kuryadi menegaskan, jika hujan tak kunjung turun dalam waktu dekat, pemerintah desa akan kembali mengajukan permohonan bantuan air bersih susulan minggu depan untuk memastikan seluruh warga tetap mendapatkan pasokan air layak pakai. (*)

Editor : Indra Zakaria