SAMARINDA – Perebutan kursi panas Ketua Umum KONI Kalimantan Timur (Kaltim) periode 2026-2030 yang kini tengah memanas tidak hanya dipicu oleh ambisi pembinaan atlet semata. Di balik gerilya dukungan yang dilakukan para kandidat, terdapat daya tarik luar biasa dari sebuah jabatan yang memiliki kendali penuh atas anggaran hibah hingga ratusan miliar rupiah serta panggung politik yang sangat menjanjikan.
Secara finansial, posisi ini menempatkan sang ketua sebagai pemegang kunci distribusi dana hibah APBD Provinsi yang nilainya sangat fantastis. Dalam siklus pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON), anggaran yang dikelola KONI Kaltim tercatat sebagai salah satu yang terbesar di luar Pulau Jawa, sering kali menyentuh angka ratusan miliar rupiah. Kuasa dalam mengucurkan dana ke puluhan Pengurus Provinsi (Pengprov) Cabang Olahraga inilah yang menjadikan posisi ini sangat sentral dan memiliki daya tawar tinggi di mata para pengurus olahraga.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa figur-figur besar seperti Syahariah Mas'ud (keluarga Gubernur Rudy Mas'ud), Alwy S. Al Qadrie (Ketua DPRD Balikpapan), hingga Sapto Setyo Pramono (politikus Golkar) kini bersaing ketat untuk mendapatkan dukungan tertulis. Jabatan Ketua KONI Kaltim merupakan instrumen "investasi sosial" yang luar biasa; keberhasilan mengelola prestasi olahraga di Benua Etam secara otomatis akan mengonversi nama sang ketua menjadi tokoh publik yang populer di tingkat akar rumput, sebuah modal penting bagi mereka yang memiliki irisan dengan dunia politik praktis.
Secara strategis, Ketua KONI Kaltim juga memiliki akses langsung ke jejaring elit, mulai dari kepala daerah, pimpinan dewan, hingga petinggi militer dan kepolisian yang biasanya duduk di kepengurusan cabang olahraga. Struktur organisasi yang mengakar hingga ke level kabupaten/kota membuat siapa pun yang terpilih akan memimpin sebuah gerbong massa yang solid dan terorganisir, sebuah kekuatan yang sangat diperhitungkan dalam dinamika sosial-politik di Kalimantan Timur.
Namun, tingginya tensi persaingan ini juga dibayangi oleh ekspektasi publik yang besar. Mengingat Kaltim baru saja luput dari target lima besar pada PON XXI lalu, siapa pun yang memenangkan pertarungan ini tidak hanya akan menikmati fasilitas dan kewenangan besar, tetapi juga memikul beban berat untuk memulihkan martabat olahraga daerah. Pertarungan ide dan manuver tim sukses yang terjadi saat ini menjadi cerminan betapa berharganya kursi KONI Kaltim dalam peta kekuasaan di Benua Etam. (*)
Editor : Indra Zakaria