Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

MUI Dukung Larangan Sweeping Selama Ramadan, Anwar Abbas: Fokus Saling Hormat dan Jaga Toleransi

Redaksi Prokal • 2026-02-17 10:45:00
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas (kanan)(Hilmi/Jawa Pos)
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas (kanan)(Hilmi/Jawa Pos)

 

JAKARTA – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh elemen masyarakat untuk tidak melakukan aksi sweeping atau razia sepihak. Ia menekankan bahwa esensi Ramadan adalah bulan penuh kedamaian yang harus diisi dengan sikap saling menghormati antarumat beragama tanpa adanya gangguan fisik maupun psikologis.

Pernyataan ini muncul menyusul kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang secara resmi melarang aksi sweeping terhadap rumah makan selama bulan puasa. Anwar Abbas menilai langkah pemerintah tersebut sudah tepat, asalkan dibarengi dengan sosialisasi yang masif mengenai toleransi sejak dini.

“Saya rasa tidak perlu ada sweeping-sweepingan. Pemerintah diharapkan sudah memberi pengertian kepada masyarakat luas tentang perlunya sikap saling menghormati terhadap ibadah agama lain,” ujar Anwar Abbas dalam keterangannya, Senin (16/2).

Meskipun melarang aksi razia liar, tokoh Muhammadiyah ini juga berharap pemerintah daerah tetap berperan aktif dalam mengatur operasional pedagang makanan. Pengaturan tersebut dinilai penting agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa harus mengganggu kekhusyukan umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa di ruang publik.

Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan tanggung jawabnya dalam menjaga keamanan kota. Ia berkomitmen tidak akan mengizinkan organisasi kemasyarakatan (ormas) mana pun melakukan tindakan sewenang-wenang. Pramono mengingatkan bahwa wajah Jakarta saat ini sedang bertransformasi dari suasana perayaan Imlek menuju suasana religius Ramadan.

“Suasana Ramadan harus mencerminkan semangat toleransi dan kebersamaan. Begitu masuk tanggal 18, wajah Jakarta akan berubah total menyambut Ramadan dan Idulfitri dengan damai,” tutur Pramono.

Sinergi antara tokoh agama dan pemerintah ini diharapkan dapat menciptakan iklim ibadah yang kondusif di seluruh penjuru tanah air. Dengan mengedepankan dialog dan aturan hukum yang berlaku, potensi gesekan antarkelompok dapat diminimalisir sehingga persatuan umat tetap terjaga hingga hari kemenangan tiba. (*)

Editor : Indra Zakaria