SAMARINDA – Langkah besar menuju kemandirian pangan terus dipacu di wilayah Kalimantan Timur. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Kementerian Pekerjaan Umum kini tengah fokus membenahi infrastruktur di 35 daerah irigasi strategis. Upaya masif ini merupakan bentuk intervensi pemerintah pusat untuk memastikan air mengalir lancar hingga ke petak sawah petani, sekaligus mendukung penuh ambisi swasembada pangan nasional.
Kebijakan ini diambil menyusul terbitnya Inpres Nomor 2 Tahun 2025 yang memungkinkan pemerintah pusat mengambil alih penanganan irigasi yang sebelumnya menjadi kewenangan daerah. Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) BWS Kalimantan IV Samarinda, Indrasto Dwi Cahyo, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan implementasi dari visi Presiden Prabowo yang menitikberatkan pada ketahanan pangan, energi, dan air.
"Inpres ini memungkinkan pemerintah pusat mempercepat swasembada pangan karena keterbatasan pendanaan lokal. Pemerintah provinsi dan kabupaten seringkali terkendala anggaran untuk menangani irigasi dengan luas di bawah 3.000 hektare," ujar Indrasto saat memberikan keterangan di Samarinda, Rabu (18/2/2026).
Sepanjang tahun lalu, pembenahan fisik telah dilakukan secara bertahap di 27 lokasi pada tahap pertama dan menyusul delapan lokasi lainnya. Hasilnya, rehabilitasi infrastruktur ini berhasil menjangkau sekitar 7.900 hektare lahan sawah produktif. Di lapangan, teknis pengerjaan meliputi rehabilitasi saluran, normalisasi sungai, hingga peningkatan kualitas saluran menggunakan pasangan batu atau lining.
Untuk tahun ini, pemerintah memasang target yang lebih tinggi dengan harapan cakupan rehabilitasi mampu melampaui angka 8.000 hektare. Beberapa wilayah yang menjadi prioritas utama antara lain daerah irigasi Rawa Sebakung di Penajam Paser Utara serta kawasan Sido Mulyo di Kutai Kartanegara, yang selama ini dikenal sebagai penopang utama produksi padi di Bumi Etam.
Optimisme pun membubung seiring rampungnya perbaikan infrastruktur air tersebut. Menurut Indrasto, optimalisasi irigasi ini bukan sekadar memperbaiki parit, melainkan kunci untuk meningkatkan produktivitas. "Optimalisasi irigasi ini mampu meningkatkan intensitas pola tanam padi maupun jagung menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun," pungkasnya. Setelah pekerjaan fisik selesai, infrastruktur ini akan diserahkan kembali kepada pemerintah daerah untuk pemeliharaan rutin, guna memastikan manfaatnya dapat dirasakan jangka panjang oleh para petani. (*)
Editor : Indra Zakaria