TEHERAN – Eskalasi serangan udara yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) dilaporkan telah memakan korban jiwa dalam skala besar. Juru bicara Bulan Sabit Merah menyatakan bahwa jumlah warga yang tewas kini telah menembus angka 200 orang.
Berdasarkan laporan kantor berita negara, Tasnim, dampak dari serangan tersebut juga menyebabkan sekitar 750 orang lainnya mengalami luka-luka. Meskipun angka-angka tersebut masih dalam proses verifikasi independen, skala kerusakan dilaporkan mencakup wilayah yang sangat luas.
Juru bicara Bulan Sabit Merah mengungkapkan bahwa serangan tersebut tidak terpusat di satu titik, melainkan menyasar lokasi-lokasi strategis di hampir seluruh wilayah negeri.
“Situs-situs di 24 dari 31 provinsi di negara ini telah menjadi sasaran,” ujarnya memberikan rincian terkait sebaran titik ledakan, Senin (2/3/2026).
Menanggapi situasi darurat ini, otoritas kemanusiaan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak mendekati lokasi-lokasi yang terkena dampak. Kerumunan warga di sekitar puing-puing bangunan dikhawatirkan dapat menghambat proses evakuasi serta berisiko terkena sisa-sisa amunisi yang belum meledak.
Ia pun memberikan instruksi tegas bagi warga sipil agar tidak mendekati area berbahaya. Ia mendesak masyarakat untuk "menghindari kerumunan besar di lokasi dampak dan menjaga jarak setidaknya 100 meter dari area yang terdampak."
Saat ini, tim penyelamat masih terus berupaya menjangkau lokasi-lokasi terpencil di berbagai provinsi untuk mengevakuasi korban yang mungkin masih tertimbun reruntuhan. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan pernyataan resmi final mengenai total kerugian infrastruktur akibat serangan udara lintas provinsi ini.(*)
Editor : Indra Zakaria