Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Langka dan Mengharukan, Induk Orangutan Lahirkan Bayi Kembar di Hutan Terfragmentasi Kaltim

Muhamad Yamin • 2026-03-04 16:36:33

Bayi orangutan kembar.
Bayi orangutan kembar.

PROKAL.CO, SAMARINDA - Upaya penyelamatan satwa liar kembali dilakukan di Kalimantan Timur. Pada 15 Februari 2026, seekor induk orangutan betina bersama dua bayinya ditemukan berada di kawasan hutan terfragmentasi di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.

Keberadaan induk dan dua bayinya yang sempat terlihat berjalan di tanah terbuka menjadi sinyal kuat bahwa habitat alaminya tak lagi sepenuhnya aman.

Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) bersama Conservation Action Network (CAN) dan sejumlah pemangku kepentingan langsung bergerak menindaklanjuti laporan masyarakat yang viral di media sosial.

Direktur dan Founder CAN, Paulinus Kristanto, mengatakan awalnya tim menerima video yang memperlihatkan induk dan bayi orangutan berada di areal terbuka, tepatnya di kawasan konsesi perusahaan yang berbatasan dengan perkebunan sawit dan pertambangan batu bara.

“Biasanya banyak laporan orangutan, tapi ketika dicek sering kali sudah tidak ada. Hari pertama kami tidak menemukan. Hari kedua baru terlihat induk dengan bayinya. Setelah diamati lebih jauh, ternyata bayinya ada dua,” kata Paulinus, Rabu 4 Maret 2026.

Awalnya tim sempat ragu apakah dua bayi tersebut berasal dari induk yang sama. Namun setelah membandingkan ukuran tubuh keduanya yang relatif sama, disimpulkan bahwa induk tersebut melahirkan bayi kembar.

“Kasus orangutan kembar ini sangat jarang. Bisa dibilang satu dari sekian ratus kejadian,” ujarnya.

Meski kabar kelahiran kembar menjadi hal langka dan menggembirakan, kondisi habitat tempat mereka ditemukan justru memprihatinkan.

Berdasarkan analisis citra satelit dan pemantauan drone, kawasan tersebut dinilai tidak lagi memiliki daya dukung memadai. Hutan terfragmentasi, tidak tersambung dengan bentang alam yang lebih luas, serta dikelilingi aktivitas pembangunan.

Paulinus menjelaskan, merawat dua bayi sekaligus membutuhkan energi besar bagi seekor induk orangutan. Jika dalam kondisi normal seekor induk membutuhkan asupan tertentu untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan produksi susu, maka dalam kondisi bayi kembar kebutuhannya otomatis berlipat.

“Bayangkan ibu dengan anak kembar, tapi tidak ada rumah dan tidak ada makanan. Itu kira-kira analoginya,” ucapnya.

Video awal yang viral bahkan memperlihatkan induk dan dua bayinya berjalan di tanah tanpa tutupan hutan. Menurut Paulinus, perilaku tersebut menjadi indikator kuat bahwa satwa itu sedang berusaha berpindah mencari sumber pakan atau hutan lain yang lebih layak.

"Orangutan sangat jarang turun ke tanah, apalagi di lokasi tanpa pohon. Kalau sampai turun, itu tanda mereka butuh pertolongan,” jelasnya.

Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, mengatakan keputusan penyelamatan diambil karena kondisi lokasi sangat riskan bagi induk dan dua anaknya.

“Habitatnya sempit, tidak tersambung dengan hutan lain, kiri-kanan sudah ada aktivitas pembangunan. Kemungkinan bertahan hidup dalam jangka panjang perlu diragukan,” kata Ari.

Proses rescue dilakukan secara ketat dan terukur dengan mengutamakan keselamatan satwa. Sehari sebelumnya tim telah memantau pergerakan dan mengetahui pohon sarang induk tersebut.

Pagi hari kami sudah bisa memastikan posisi sarangnya. Ketika orangutan turun dari pohon, langsung dilakukan tindakan,” ujarnya.

Paulinus menyebut proses evakuasi berlangsung relatif cepat dan minim kendala. Ia bahkan menyebutnya sebagai “keajaiban kecil”.

“Biasanya kalau induknya dibius, bayi akan meronta atau berusaha lepas. Tapi kali ini tidak. Bayinya tetap menempel pada induknya, tidak menangis, tidak rewel. Seolah pasrah,” katanya.

Setelah berhasil dievakuasi, induk dan kedua bayi diperiksa kesehatannya. Hasilnya, kondisi fisik induk dinilai masih baik dan memungkinkan untuk kembali hidup liar. Bayi diperkirakan berusia sekitar satu tahun lebih.

Pada hari yang sama, sore harinya, induk dan dua bayinya langsung ditranslokasi ke area High Conservation Value (HCV) milik perusahaan yang masih berada dalam satu lanskap, sekitar setengah jam perjalanan darat dari lokasi penemuan.

Menurut Ari, pelepasliaran tidak dilakukan ke lokasi yang lebih jauh demi mengutamakan keselamatan, terutama bagi bayi yang masih sangat kecil.

“Kami tidak bisa melakukan perjalanan jauh karena menyangkut keselamatan individu, khususnya bayinya. Lokasi HCV terdekat sudah melalui kajian kelayakan dari sisi fisik, biologi, dan sosial,” ujarnya.

Selain lebih aman dan memiliki tutupan hutan yang lebih baik, lokasi tersebut juga memungkinkan pemantauan lanjutan dengan melibatkan perusahaan pemilik areal HCV.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa masih ada orangutan yang berusaha bertahan di tengah hutan yang kian menyusut dan terfragmentasi. Kelahiran bayi kembar yang sangat langka itu di satu sisi menjadi kabar baik bagi konservasi, namun di sisi lain menyimpan ironi karena terjadi di habitat yang sudah rusak.

Bagi para pegiat konservasi, peristiwa ini bukan sekadar kisah penyelamatan, melainkan sinyal kuat bahwa upaya menjaga dan memulihkan bentang alam menjadi kebutuhan mendesak demi keberlangsungan satwa liar di Kalimantan Timur. (*)

Editor : Indra Zakaria