Oleh: Muhammad Ainur Ridho
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas mulawarman
Menuliskan sesuatu yang diperintahkan dan bukan dengan kesadaran sendiri memang memiliki tantangan tersendiri, disaat kita menulis dengan kesadaran sendiri kita bisa menemukan inspirasi setiap saat entah berupa dentingan ide atau informasi layaknya angin lalu di kepala.
Namun jika diperintahkan menulis itu sama seperti dikejar suatu yang tak nampak, bebas tapi terikat dalam artian kita diberikan kebebasan namun, ada semacam tali yang tak nampak di diri kita, tapi tak apa intinya kita menulis, kutipan bagus di dapatkan dari sosial media Instagram, bunyinya seperti ini “menulislah, karena kata-kata bisa menjadi rumah bagi siapa pun yang tersesat”. Kutipan itu berasal dari Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan terkenal Indonesia.
Menulis adalah suatu kegiatan mengeluarkan kata-kata yang ada di pikiran kita melalui suatu media, entah itu media konvesional atau media elektronik. Jika tulisan berupa rangkaian kata yang berjumlah 5 kata itu disebut kalimat, jika tulisan itu terdiri dari 5 kalimat maka ia disebut paragraf, jika tulisan terdiri dari 5 paragraf itu disebut essai hingga menjadi suatu karya tulis. Tulisan pun memiliki sisi romantis yang bisa di gunakan untuk menggoda pacar, istri, dan janda kampung anda hahaha....bercanda.
Menulis juga merupakan skill yang banyak di perlukan di berbagai cabang ilmu. Misal, penulis merupakan mahasiswa hukum, yang selalu berkutat dengan pasal-pasal di undang-undang, seorang mahasiswa hukum harus memiliki daya berpikir kritis dan kemampuan analisis yang kuat untuk memecahkan kasus, hasil dari analisis itu dituangkan kemana?..yup berupa tulisan yang disebut legal opinion, tuh kan...menulis itu penting banget dan jangan cuma pikir cuma anak sastrawan saja yang menulis, semua keahlian di dunia wajib memiliki 1 dari 2 skill dasar manusia yaitu menulis atau membaca.
Dari tulisan juga kita dapat menyampaikan opini-opini kita ke publik, ada beberapa orang yang tak menyampaikan gagasan dengan lantang melalui orasi di depan publik tapi gagasan itu disampaikan melalui tulisannya. Hal ini menyiratkan bahwa menulis juga bisa menjadi sarana bagi kita untuk bebas berpendapat dan berekspresi.
Sastrawan dan novelis legendaris Indonesia, Pramudya Ananta Toer, dari menulislah ia bergerak, menciptakan karya-karya hebat yang hidup hingga hari ini. Dari menulislah ia berekspresi sebebas burung di angkasa, kritik yang ia sampaikan di tuangkan dalam berbagai karya seperti tetralogi buru dan lainnya, Pram menegaskan bahwa sastra termasuk tulisan dapat menjadi alat dalam menegakkan keadilan atau bersuara.
Bersuara tak hanya melalui pengeras tapi bisa dari goresan pensil, pulpen, atau mungkin ketikan di komputer dengan kata. Puisi-puisi yang bermakna satir, sarkas untuk melawan suatu ketidakadilan yang nyata. Menjadi salah satu kekuatan dalam perlawanan dan sumber kekuatan, kekuatan tak hanya timbul dari beberapa orang, ia bisa hadir bahkan hanya dari satu orang, jika satu orang bisa memiliki kekuatan maka kekuatan itu ialah menulis, di era sekarang, orang lebih percaya sebuah tulisan dari media anak muda di banding podcast dari orang-orang senior.
Mulailah menulis, entah itu hanya dari sebuah diary book, cerpen, atau mungkin sebuah curhatan, karena dari sana sebuah kreativitas timbul dari seorang penulis, membuat karya untuk menghibur orang melalui cerita yang menyenangkan atau menolong orang melalui kritik dari ketidakadilan dan ketamakan. (*)
Editor : Indra Zakaria