SAMARINDA- Kalimantan Timur tengah menghadapi ancaman serius penyakit menular di awal tahun 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim melaporkan setidaknya 126 kasus campak telah ditemukan tersebar merata di 10 kabupaten dan kota. Penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini mayoritas menginfeksi anak-anak usia balita yang belum mendapatkan benteng perlindungan berupa imunisasi dasar lengkap.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kaltim, Fitnawati, mengungkapkan bahwa data ini dihimpun dari laporan fasilitas kesehatan sejak Januari hingga saat ini. Tren kenaikan kasus ini pun menjadi perhatian khusus karena menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
“Sejak Januari hingga sekarang terdapat 126 kasus campak yang terlaporkan dan tersebar di 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur,” ujar Fitnawati dalam keterangannya di Samarinda Ulu.
Berdasarkan temuan di lapangan, Fitnawati menjelaskan bahwa sebagian besar pasien menunjukkan pola yang sama, yakni absennya riwayat imunisasi yang memadai. Penyakit ini biasanya menyamar sebagai demam biasa sebelum akhirnya menunjukkan identitas aslinya melalui bercak-bercak merah.
“Sebagian besar kasus terjadi pada balita yang belum imunisasi lengkap. Biasanya diawali demam tinggi lalu muncul ruam atau bercak merah di kulit,” jelasnya lebih lanjut.
Pemerintah daerah kini berada dalam posisi waspada tinggi. Surat imbauan telah dilayangkan ke seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk memperketat pengawasan. Fitnawati menekankan bahwa campak bukanlah "penyakit ringan" yang bisa dibiarkan sembuh sendiri. Tanpa penanganan medis yang tepat, komplikasi serius seperti gangguan pernapasan berat bisa mengancam nyawa sang buah hati. (*)
Editor : Indra Zakaria