PROKAL.CO, SAMARINDA – Ratusan jemaah Muhammadiyah memadati Lapangan Tenis Sumber Mas, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, dalam pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026). Ibadah berlangsung khusyuk sebagai bagian dari rangkaian pelaksanaan Idulfitri yang digelar di berbagai titik di Kota Samarinda.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Didi Supriyadi menyampaikan khutbah yang menyoroti pentingnya integritas dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ia mengangkat fenomena paradoks yang kerap terjadi, di mana praktik keagamaan seseorang tidak selalu sejalan dengan perilaku sehari-hari.
Dalam khutbahnya, Didi menyinggung realitas masih adanya individu yang rajin menjalankan ibadah, bahkan telah menunaikan haji, namun tetap terlibat dalam praktik korupsi. Sebaliknya, ada pula yang dikenal dermawan tetapi lalai menjalankan kewajiban salat.
“Ini menjadi ironi dalam kehidupan beragama. Apa yang terlihat secara ritual tidak selalu mencerminkan nilai-nilai keislaman secara utuh,” ujarnya di hadapan jemaah.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga meluas ke kehidupan sosial dan bernegara. Ia mencontohkan situasi di mana praktik suap justru menguntungkan pihak yang tidak jujur, sementara mereka yang berintegritas tersisih karena enggan terlibat dalam praktik tersebut.
“Orang tidak jujur bisa dipercaya karena suap, sementara yang jujur tersingkir. Ini realitas yang harus menjadi bahan introspeksi bersama,” tegasnya.
Didi juga menyoroti berbagai persoalan di sejumlah sektor, mulai dari lemahnya integritas pejabat hingga fenomena ketidakadilan terhadap profesi tertentu. Ia menilai, akar dari persoalan tersebut adalah belum utuhnya pemahaman keislaman di tengah masyarakat.
Ia pun mengingatkan pentingnya menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh atau kaffah, mencakup aspek akidah, ibadah, dan akhlak. Menurutnya, keberagamaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui ritual, tetapi harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
“Kejujuran, kepedulian sosial, menepati janji, hingga menjaga lingkungan adalah bagian dari ajaran Islam yang tidak bisa dipisahkan dari ibadah,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seseorang tidak dapat dikatakan menjalankan ajaran Islam dengan baik jika hanya menonjol dalam satu aspek, namun mengabaikan aspek lainnya. Keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia menjadi kunci utama.
Dalam khutbah tersebut, Didi juga mengajak jemaah memperkuat tauhid sebagai fondasi kehidupan. Menurutnya, kesadaran bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Allah akan membentuk pribadi yang jujur dan bertanggung jawab.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa salat merupakan amal pertama yang akan dihisab di akhirat, sehingga kualitasnya harus terus dijaga dan ditingkatkan. Ia juga mendorong jemaah untuk meningkatkan kepedulian sosial, dengan membantu sesama sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam.
“Jika ajaran Islam diamalkan secara menyeluruh, maka keluarga, masyarakat, hingga negara akan menjadi lebih baik dan penuh keberkahan,” tuturnya.
Pelaksanaan Salat Idulfitri di Sengkotek berlangsung tertib dan penuh kekhidmatan. Usai salat dan khutbah, jemaah saling bersalaman, mempererat silaturahmi dalam suasana hari kemenangan yang sarat makna refleksi diri.(*)
Editor : Indra Zakaria