Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Orang Utan di Kaltim Rayakan Lebaran dengan Ketupat, Begini Cara Unik Mereka Berburu Makanan

Muhamad Yamin • Rabu, 25 Maret 2026 - 20:35 WIB

Orang Utan dengan ketupat.
Orang Utan dengan ketupat.

PROKAL.CO, SAMARINDA - Suasana Lebaran tak hanya dirasakan manusia. Di dua pusat rehabilitasi satwa di Kalimantan Timur, momen Idulfitri juga dihadirkan secara unik bagi para penghuni hutan, khususnya orang utan yang tengah menjalani proses rehabilitasi sebelum kembali ke habitat alaminya.

Di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, yang dikelola Conservation Action Network (CAN), perayaan Lebaran tahun ini diwarnai dengan pemberian makanan dalam balutan ketupat. Cara ini menjadi bagian dari metode pengayaan perilaku atau enrichment untuk merangsang kemampuan fisik dan kognitif satwa.

Sejumlah satwa di lokasi tersebut, terutama empat bayi orang utan, tampak antusias menerima “hadiah” Lebaran itu. Makanan mereka dimasukkan ke dalam anyaman ketupat lalu digantung di area playground, sehingga para bayi orang utan harus memanjat, bergelantungan, dan membuka ketupat untuk mendapatkan makanan di dalamnya.

Orang Utan makan ketupat.
Orang Utan makan ketupat.

Tak hanya orang utan, satwa lain seperti owa juga mendapat perlakuan serupa. Ketupat berisi makanan diikat di dahan yang dipenuhi dedaunan, lalu ditempatkan di dalam kandang untuk merangsang perilaku alaminya saat mencari makan.

Founder sekaligus Direktur CAN, Paulinus Kristanto, mengatakan setiap momen dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran satwa, termasuk saat Hari Raya Idulfitri.

Buat ketupat untuk makanan orang utan.
Buat ketupat untuk makanan orang utan.

“Bagi kami di CAN, setiap momen adalah kesempatan belajar, termasuk di hari kemenangan ini. Metode pengayaan atau enrichment ketupat yang kami terapkan di sekolah hutan bertujuan untuk menantang batas kemampuan fisik dan kognitif para bayi orang utan,” ujar Paulinus.

Menurut dia, ketupat yang digantung di area bermain bukan sekadar hiasan bertema Lebaran, tetapi bagian dari simulasi tantangan yang akan mereka hadapi di alam liar.

“Kami ingin merangsang mereka untuk tetap aktif bergerak ke atas meraih makanan. Orang utan harus memanjat, bergelantungan, dan menggunakan koordinasi tangan serta kaki mereka untuk meraih ‘hadiah’ Lebaran ini,” katanya.

Ia menjelaskan, aktivitas tersebut melatih kemampuan penting orang utan dalam bertahan hidup, termasuk saat harus mencari buah matang di pucuk pohon saat nanti dilepasliarkan.

Selain itu, proses membuka anyaman ketupat juga dinilai penting untuk melatih ketangkasan jari dan kesabaran satwa.

“Kami melihat antusiasme yang luar biasa. Mereka tidak sekadar makan, tapi benar-benar terlibat dalam proses ‘berburu’ makanan tersebut. Setiap kali mereka berhasil memecahkan tantangan di sekolah hutan, mereka selangkah lebih dekat untuk kembali menjadi penguasa rimba yang mandiri,” lanjutnya.

Hal serupa juga dilakukan di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Kabupaten Berau, yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP). Di pusat rehabilitasi ini, makanan satwa juga dikemas dalam bentuk ketupat, kemudian digantung di dahan pohon sebagai bagian dari aktivitas sekolah hutan.

Saat menjalani proses rehabilitasi, orang utan akan berusaha meraih ketupat tersebut, membuka anyamannya, lalu menikmati makanan yang ada di dalamnya.

Manajer BORA, Widi Nursanti, menjelaskan bahwa enrichment memiliki fungsi penting dalam menjaga perilaku alami orang utan tetap terasah selama masa rehabilitasi.

“Pada intinya enrichment itu membuat mereka sibuk, berpikir, belajar, dan mencari cara bagaimana menyantap hidangan, khususnya orang utan yang sedang menjalani proses rehabilitasi baik di enclosure ataupun kandang,” kata Widi.

Ia menyebut, dengan sedikit kreativitas, penyajian makanan dapat dibuat lebih variatif dan bermakna bagi satwa.

“Tradisi Ramadan pada saat Idulfitri tak lepas dari ketupat Lebaran. Enrichment berbentuk ketupat menjadi hal yang unik. Tentu saja isinya potongan buah-buahan, selai, dan madu,” ujarnya.

Menurut Widi, metode ini tak hanya mencegah kejenuhan, tetapi juga merangsang kemampuan satwa dalam memecahkan masalah, menggunakan penciuman, serta melatih kreativitas fisik saat mencari dan menikmati makanan.

“Selain bertujuan agar tidak jenuh, enrichment ini juga memberikan problem solving, perilaku alamiah, merangsang indra penciuman, dan melatih kreativitas fisik dalam menyantap berbagai jenis makanan yang ada dalam enrichment ketupat,” imbuhnya.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menyambut positif inisiatif kreatif yang dilakukan oleh CAN maupun COP. Ia menilai, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa proses rehabilitasi satwa tetap bisa berlangsung optimal meski di tengah suasana hari besar keagamaan.

“Kami menyambut sangat positif inisiatif kreatif dari rekan-rekan di Pusat Penyelamatan Satwa yang dikelola oleh Conservation Action Network (CAN) dan pusat rehabilitasi orang utan yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP),” ujarnya.

Menurut Ari, pemberian enrichment bertema ketupat bukan sekadar variasi penyajian makanan, tetapi juga alat penting untuk melatih satwa menghadapi tantangan alam liar.

“Media ketupat ini bukan sekadar kemasan unik, melainkan alat problem solving yang efektif. Dengan isi potongan makanan di dalamnya, satwa dipicu untuk menggunakan kreativitas fisik dan indra penciuman mereka guna mendapatkan makanan,” katanya.

Ia menilai, inovasi sederhana semacam itu dapat membantu meminimalisir kejenuhan satwa selama berada di kandang maupun enclosure.

“Momen ‘Kupatan’ bagi orang utan ini menjadi simbol harapan baru, bahwa setiap proses belajar yang mereka lalui di Kalimantan Timur adalah langkah pasti menuju kepulangan mereka ke habitat aslinya,” ujar Ari.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara BKSDA dan para mitra konservasi dalam menjaga keberhasilan rehabilitasi orang utan di Kalimantan Timur.

“Sinergi yang kuat antara BKSDA dengan mitra kerja seperti CAN dan COP dalam memberikan pengayaan perilaku yang variatif adalah fondasi utama keberhasilan konservasi orang utan di Kalimantan Timur,” tutupnya. (*)

Editor : Indra Zakaria